Empat Dekade HPI Kalsel, Solid Mengawal Pariwisata Banua

0
HPI KALSEL UTAMA

Badapat menjadi ruang mempererat silaturahmi dan menyatukan energi seluruh anggota yang selama ini bergerak di berbagai lini destinasi wisata Banua. (Foto- HPI Kalsel).

Empat dekade bukan perjalanan singkat. Selama 40 tahun, para pramuwisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Selatan terus berdiri di garis depan, menyambut wisatawan, memperkenalkan budaya, dan menjaga wajah pariwisata Banua tetap ramah di mata dunia.

Komitmen itulah yang kembali ditegaskan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 2026 sekaligus Milad ke-40 HPI Kalimantan Selatan, yang mengusung tema “Badapat, Bapakat, Bakuat”—sebuah spirit kebersamaan untuk memperkuat organisasi sekaligus mempertegas peran pramuwisata di tengah perubahan industri pariwisata.

Bagi HPI Kalsel, tema tersebut bukan sekadar jargon tahunan.

Badapat menjadi ruang mempererat silaturahmi dan menyatukan energi seluruh anggota yang selama ini bergerak di berbagai lini destinasi wisata Banua.

Dari kawasan sungai, desa wisata, hingga jalur wisata alam Pegunungan Meratus, para pramuwisata memiliki satu tanggung jawab yang sama, menjaga kualitas pelayanan dan citra daerah.

 

Ketua HPI Kalsel Ariefa F Gramenia bersama Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Gusti Muhammad Yosalvina Yovani dan senior Tour Guide Arifin. (Foto – HPI Kalsel).

Sementara Bapakat dimaknai sebagai momentum merumuskan langkah strategis organisasi. HPI Kalsel menyadari, tantangan profesi pemandu wisata ke depan semakin besar.

Persaingan destinasi wisata makin kompetitif, wisatawan semakin selektif, sementara kebutuhan terhadap kemampuan digital, bahasa asing, hingga wawasan keberlanjutan menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari.

Karena itu, Rakerda tidak hanya menjadi ruang evaluasi, tetapi juga forum memperkuat arah organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Adapun Bakuat menjadi penegasan bahwa kekuatan organisasi hanya dapat dibangun melalui kekompakan. Program kerja, peningkatan kompetensi anggota, hingga perlindungan profesi tidak akan berjalan tanpa kebersamaan seluruh anggota.

Ketua DPD HPI Kalimantan Selatan, Ariefa F Gramenia, dalam pertemuan tersebut mengingatkan bahwa pramuwisata bukan sekadar profesi pendamping perjalanan, melainkan representasi daerah.

“Guide adalah orang pertama yang ditemui wisatawan. Cara berbicara, pengetahuan, sikap, hingga cara menjelaskan budaya akan menentukan bagaimana Kalimantan Selatan dikenang. Karena itu profesionalisme harus terus dijaga,” tegasnya.

 

Ketua DPD HPI Kalimantan Selatan, Ariefa F Gramenia. (Foto – HPI Kalsel).

Sejarah panjang HPI di Kalimantan Selatan menjadi bukti bahwa profesi ini tumbuh melalui proses yang tidak singkat. Jauh sebelum industri wisata berkembang seperti saat ini, penyuluhan dasar-dasar pariwisata tingkat provinsi telah dilakukan pada 1982.

Tonggak penting kemudian hadir pada 8 April 1986, ketika sertifikasi tour guide pertama di Kalimantan Selatan dilaksanakan. Momentum tersebut kemudian disepakati sebagai hari lahir HPI Kalimantan Selatan, sekaligus menjadi awal penguatan profesi pramuwisata di Banua.

Sejak saat itu, para guide Banua telah melewati berbagai fase perubahan dari era promosi menggunakan brosur dan telepon rumah, beralih ke internet, hingga kini menghadapi tantangan promosi digital dan media sosial.

Namun satu hal tetap sama pramuwisata tetap menjadi wajah pertama pariwisata Banua.

Mereka hadir di bandara menyambut tamu, menjelaskan sejarah pasar terapung, mendampingi wisatawan menyusuri sungai, hingga memandu perjalanan di Pegunungan Meratus. Mereka bukan sekadar penunjuk jalan, melainkan penjaga cerita dan penghubung antara Kalimantan Selatan dengan dunia luar.

Melalui momentum empat dekade ini, HPI Kalsel menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas para pramuwisata, menjaga martabat profesi, serta membangun sinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

Tujuannya jelas memastikan pariwisata Banua tumbuh tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga berkualitas, berkelanjutan, dan tetap menghormati budaya serta alam Kalimantan Selatan.

Rakerda HPI Kalsel 2026 sendiri dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Gusti Muhammad Yosalvina Yovani.

Empat puluh tahun telah diukir. Dan bagi HPI Kalimantan Selatan, perjalanan itu belum selesai.

Dengan semangat “Badapat, Bapakat, Bakuat”, para pramuwisata Banua menegaskan satu pesan: tetap solid mengawal pariwisata Kalimantan Selatan menuju masa depan yang lebih kuat dan bermartabat.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!