Bank Kalsel Tancap Gas Jadi Bank Devisa, Bidik Transaksi Global

0
Bank Devisa

Foto Ilustrasi - Dokumentasi Economic Travelling.Com.

Bank Kalsel mempercepat langkah transformasinya dengan menargetkan status sebagai bank devisa.

Ambisi ini bukan sekadar ekspansi layanan, melainkan strategi besar untuk membawa bank milik daerah tersebut masuk ke arena transaksi global yang semakin kompetitif.

Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin, menegaskan bahwa persiapan menuju layanan valuta asing (valas) telah dilakukan secara sistematis sejak tahun sebelumnya.

Fokus utama diarahkan pada penguatan tata kelola, kesiapan operasional, serta pemenuhan seluruh aspek kepatuhan sesuai regulasi.

“Ini bukan langkah instan. Kami memastikan seluruh fondasi diperkuat agar Bank Kalsel siap bersaing di level yang lebih tinggi,” ujarnya dalam berbagai kesempatan kepada awak media di Banjarmasin.

Langkah ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi internasional di Kalimantan Selatan. Sebagai salah satu provinsi penopang ekspor nasional, komoditas unggulan seperti batu bara dan kelapa sawit menjadi penyumbang utama devisa.

Nilai ekspor daerah ini dalam beberapa tahun terakhir tercatat mencapai miliaran dolar AS setiap tahunnya. Namun, layanan perbankan valas masih didominasi oleh bank-bank besar nasional, sehingga pelaku usaha lokal kerap menghadapi keterbatasan akses dan efisiensi.

Bank Kalsel sendiri melihat celah sekaligus peluang. Dengan menjadi bank devisa, perseroan dapat menghadirkan layanan transaksi internasional yang lebih dekat, cepat, dan kompetitif bagi nasabah di daerah.

Layanan tersebut mencakup remitansi internasional, pembiayaan perdagangan (trade finance), hingga fasilitas lindung nilai terhadap fluktuasi kurs.

Dari sisi infrastruktur, Bank Kalsel terus mengembangkan sistem teknologi yang mampu mendukung transaksi lintas mata uang secara real-time dan aman.

Integrasi dengan jaringan pembayaran internasional seperti SWIFT menjadi salah satu prioritas, disertai penguatan sistem keamanan siber untuk melindungi transaksi nasabah.

Tak hanya teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi perhatian serius.

Bank Kalsel telah meningkatkan kompetensi pegawai melalui pelatihan khusus di bidang treasury, foreign exchange dealing, serta manajemen risiko. Hal ini penting untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga di tengah kompleksitas transaksi global.

Secara finansial, langkah ini ditopang oleh kinerja yang relatif solid. Rasio kecukupan modal (CAR) Bank Kalsel berada di atas ketentuan minimum regulator, memberikan ruang ekspansi yang lebih leluasa.

Selain itu, diversifikasi pendapatan melalui fee-based income dari transaksi valas diharapkan dapat memperkuat struktur pendapatan bank yang selama ini masih didominasi oleh kredit.

Meski peluang terbuka lebar, tantangan juga tidak ringan. Volatilitas nilai tukar global, tekanan ekonomi internasional, serta persaingan dengan bank-bank besar menjadi faktor yang harus diantisipasi.

Oleh karena itu, Bank Kalsel menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dalam setiap langkah ekspansi.

Pengamat perbankan Hasdi Suryadi menilai langkah ini sebagai strategi tepat di tengah perubahan lanskap industri keuangan.

Bank pembangunan daerah yang mampu masuk ke bisnis valas dinilai memiliki daya saing lebih tinggi, sekaligus berperan lebih besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

“Bagi pemerintah daerah sebagai pemegang saham, transformasi ini juga membawa potensi peningkatan dividen. Jika berhasil, ekspansi ke sektor valas tidak hanya meningkatkan profitabilitas bank, tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan daerah,” ujar pria yang juga Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin.

Fachrudin optimistis, dengan kesiapan yang terus dimatangkan, Bank Kalsel mampu meraih status bank devisa dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Kami ingin menjadi mitra utama bagi pelaku usaha daerah dalam menjangkau pasar global. Ini adalah langkah strategis untuk masa depan,” tegasnya.

Dengan arah yang semakin jelas, Bank Kalsel kini tidak lagi sekadar bank daerah.

Bank ini pun sedang bertransformasi menjadi pemain yang siap menjembatani ekonomi lokal dengan pasar internasional,sebuah lompatan besar yang bisa mengubah peta persaingan perbankan di kawasan.(M.Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!