DPRD Kalsel Kawal Bank Devisa, Bidik Dana Ekspor SDA

0
DPRD KALSEL

kunjungan kerja Komisi II DPRD Kalsel ke Kantor Cabang Bank Kalsel Jakarta, Rabu (29/4/2026) difokuskan pada pengecekan kesiapan teknis dan operasional. (Foto -Humas DPRD Kalsel).

Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) memperketat pengawasan terhadap transformasi Bank Kalsel menjadi bank devisa.

Langkah ini diarahkan untuk memastikan kesiapan menyerap potensi besar Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang selama ini lebih banyak terserap oleh perbankan nasional.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel, H. Suripno Sumas, menegaskan kunjungan kerja ke Kantor Cabang Bank Kalsel Jakarta, Rabu (29/4/2026) difokuskan pada pengecekan kesiapan teknis dan operasional.

Menurutnya, perubahan status menjadi bank devisa bukan sekadar simbol prestise, melainkan strategi kunci untuk memperkuat struktur ekonomi daerah dan mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Pengawasan ini untuk memastikan Bank Kalsel benar-benar siap menjalankan mandat pemerintah. Status bank devisa harus mampu mengunci potensi ekonomi daerah, khususnya dari sektor ekspor, agar memberi kontribusi maksimal bagi pembangunan Banua,” tegasnya.

Dari sisi internal, Kepala Divisi Dana dan Digital Bank Kalsel, Suwanto, mengungkapkan progres pemenuhan rekomendasi teknis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencapai 74 persen per Maret 2026.

Tahap krusial saat ini meliputi penguatan infrastruktur teknologi informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penyempurnaan sistem operasional transaksi valuta asing.

“Seluruh rekomendasi kami targetkan rampung akhir Mei 2026. Setelah itu, akan dilakukan simulasi mini bank di Banjarmasin, Jakarta, dan Batulicin untuk memastikan layanan ekspor-impor dan remitansi berjalan optimal tanpa gangguan,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Cabang Bank Kalsel Jakarta, Muhaimi Ahyat, menambahkan bahw infrastruktur di Jakarta telah diperkuat, mulai dari mesin sortir valuta asing hingga sistem core banking yang terintegrasi dengan kurs terkini.

Ia optimistis status bank devisa akan membuka peluang besar dalam menghimpun dana dari sektor unggulan seperti tambang dan perkebunan di Kalsel.

Momentum ini dinilai strategis seiring kebijakan pemerintah yang mewajibkan penempatan DHE SDA di sistem keuangan nasional.

Anggota Komisi II DPRD Kalsel, Firman Yusi, menekankan bahwa peluang tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat likuiditas bank daerah.

Menurutnya, masuknya dana ekspor ke Bank Kalsel akan menciptakan efek berganda terhadap kinerja keuangan daerah.

“Ketika dana ekspor dikelola bank daerah, likuiditas meningkat, laba tumbuh, dan dividen untuk daerah ikut terdongkrak. Ini langsung berdampak pada kapasitas fiskal daerah,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, DPRD Kalsel menjadwalkan audiensi dengan Bank Indonesia guna menyelaraskan mekanisme pengelolaan DHE SDA.

Sinkronisasi ini dinilai penting agar transformasi Bank Kalsel menjadi bank devisa tidak hanya bersifat administratif, tetapi mampu menghasilkan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

Dengan pengawasan ketat dan percepatan kesiapan operasional, DPRD Kalsel menargetkan Bank Kalsel segera naik kelas menjadi pemain strategis dalam arus dana ekspor nasional sekaligus mengamankan porsi ekonomi daerah yang selama ini mengalir keluar.(M.Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!