Banjarmasin Menjadi Tujuan Pencari Kerja, Siapkah Kotanya?
Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.
Oleh : Abdul Munir
Kota-kota di negara berkembang tumbuh sangat cepat. Jutaan orang setiap tahun berpindah dari desa ke kota demi mencari pekerjaan, penghasilan, pendidikan, dan harapan hidup yang lebih baik.
Fenomena ini juga terjadi di banyak wilayah Indonesia, termasuk Banjarmasin.
Sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kalimantan Selatan, Banjarmasin sejak lama menjadi magnet bagi pencari kerja.
Kota yang sekarang berusia 500 tahun ini bukan hanya menarik penduduk lokal, tetapi juga menjadi tempat singgah dan tujuan ekonomi masyarakat dari kabupaten sekitar.
Namun pertanyaan pentingnya, siapkah kota ini menampung pertumbuhan tersebut?
Kota Tujuan, Kota yang Padat
Pertumbuhan penduduk kota tidak hanya berasal dari kelahiran, tetapi juga arus migrasi masuk. Banyak warga datang karena daerah asal tidak lagi menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup. Inilah yang disebut push factor.
Di sisi lain, Banjarmasin menawarkan pasar yang hidup, aktivitas ekonomi tinggi, jaringan usaha luas, pendidikan lebih baik, serta peluang kerja yang lebih besar. Ini disebut pull factor.
Akibat dua kekuatan itu, Banjarmasin terus menyerap penduduk baru.
Pada akhir pekan, beban kota bertambah. Ribuan orang dari Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, hingga Kapuas datang untuk berbelanja, bekerja, berobat, kuliah, atau mengurus berbagai keperluan.
Banjarmasin menjadi pusat aktivitas regional. Tetapi konsekuensinya juga besar.
Jalan Semakin Sempit, Kendaraan Semakin Banyak
Dulu jalan-jalan utama Banjarmasin terasa lapang. Kini kondisinya berbeda. Hampir setiap hari, terutama pagi, sore, dan akhir pekan, kemacetan terjadi di banyak titik.
Masalahnya sederhana. Pertumbuhan kendaraan jauh lebih cepat daripada pertumbuhan jalan dan transportasi umum.
Masyarakat semakin mudah membeli motor dan mobil melalui fasilitas kredit. Namun tanpa kebijakan transportasi yang jelas, kota akhirnya dibebani oleh.
Simpang macet. Parkir semrawut. Waktu tempuh makin lama. Polusi meningkat. Produktivitas menurun.
Jika dibiarkan, kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tetapi kerugian ekonomi.
Ancaman Sosial dan Lingkungan
Ledakan urbanisasi juga membawa tekanan baru.
Permukiman padat dan kumuh. Drainase buruk. Risiko kebakaran kawasan padat. Sanitasi rendah. Selanjutnya ada Kriminalitas perkotaan dan Berkurangnya ruang terbuka hijau.
Kota yang tumbuh tanpa arah akan kehilangan kualitas hidupnya.
Banjarmasin jangan hanya menjadi kota ramai, tetapi harus tetap menjadi kota nyaman.
Solusi, Saatnya Berpikir Metropolitan
Masalah Banjarmasin tidak bisa diselesaikan sendirian. Karena aktivitas penduduk sudah menyatu dengan Banjarbaru dan wilayah sekitar, maka solusi harus berbasis kawasan metropolitan. Kemacetan menjadi persoalan sebuah kota seperti Banjarmasin, yang selalu menjadi destinasi mobil dan kendaraan keluar masuk kota Seribu Sungai ini.
Seperti saat ini sudah membangun Transportasi Publik Terintegrasi dan angkutan massal modern yang menghubungkan.semua ini menghubungkan Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar Barito Kuala, Tanah Laut.
Setidaknya Bus rapid transit, feeder kawasan, dan park and ride menjadi prioritas Wali Kota Banjarmasin H Yamin HR dan wakilnya Hj Ananda.
Yang terpenting adalah menciptkan Pusat Ekonomi Baru di Pinggiran. Jangan semua aktivitas menumpuk di pusat kota. Pemerintah perlu mendorong kawasan bisnis, pasar modern, perkantoran, dan layanan publik di daerah penyangga agar arus orang tidak selalu menuju pusat Banjarmasin.
Hal yang mendasar adalah Tata Permukiman dan Kawasan Kumuh. Program rumah layak huni, sanitasi modern, drainase, dan penataan bantaran sungai harus dipercepat.
Disis lain pemerintah kota juga harus memperluas Lapangan Kerja Berbasis UMKM dan Digital. Jika peluang usaha menyebar ke kecamatan dan kabupaten sekitar, tekanan urbanisasi ke pusat kota akan berkurang.
Barangkali Sinergi Antar Kepala Daerah, menjadi kekuatan penuh energi. Mobilitas warga tidak mengenal batas administrasi. Karena itu Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Batola, dan Tanah Laut perlu satu meja perencanaan bersama.
Menjadi tujuan pencari kerja adalah tanda bahwa Banjarmasin masih hidup, produktif, dan dipercaya masyarakat. Tetapi menjadi magnet saja tidak cukup.
Kota yang berhasil adalah kota yang. Mampu menciptakan peluang dan mengatur pertumbuhan. Tak hanya itu ia juga mampu menjaga kenyamanan dan memberi kualitas hidup lebih baik.
Jika tidak dibenahi sekarang, kepadatan hari ini akan menjadi krisis esok hari.
Namun jika ditata dengan visi besar, Banjarmasin dapat tumbuh sebagai pusat ekonomi modern sungai yang maju, tertib, hijau, dan membanggakan Kalimantan Selatan.

