Rupiah Demi Rupiah Menuju Baitullah
Kesabaran menyisihkan uang bertahun-tahun lewat tabungan haji mengantar mereka ke tanah suci. (Foto - M.Risanta).
Dari Barabai hingga Banjarmasin, Jalan Panjang Para Penabung Haji
Oleh: Muhammad Risanta
Pagi itu, udara di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin terasa berbeda. Ada haru yang menggantung di antara koper-koper besar, pelukan keluarga, dan doa-doa yang lirih dipanjatkan.
Wajah-wajah yang selama puluhan tahun menunggu kini memancarkan cahaya lega. Penantian panjang itu akhirnya sampai di ujungnya, sama-sama berangkat menuju Tanah Suci.
Di antara ratusan calon jemaah yang bersiap berangkat pada 18 Mei 2026 bersama Kloter 17 Embarkasi Banjarmasin, berdiri sepasang suami istri asal Barabai, Hulu Sungai Tengah.
Mereka adalah Maksid dan Kartini, dua nama sederhana dengan kisah perjuangan yang tidak sederhana.
Maksid adalah pensiunan TNI dan berdinas di Koramil Pantai Hambawang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kartini seorang pensiunan guru.
Bertahun-tahun keduanya menjalani hidup sebagaimana rakyat kebanyakan, bekerja, membesarkan keluarga, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menahan banyak keinginan pribadi. Namun di tengah segala keterbatasan itu, mereka menyimpan satu cita-cita yang tak pernah padam untuk berangkat haji bersama.
“Sedikit demi sedikit kami sisihkan. Kadang tidak banyak. Tapi kami yakin, kalau niat baik pasti ada jalan.” ujar Maksid dengan mata berkaca-kaca.

Tabungan haji mereka bukan lahir dari kelebihan harta. Melainkan itu tumbuh dari kedisiplinan, pengorbanan, dan kesabaran. Dari gaji bulanan semasa berdinas, rupiah demi rupiah disisihkan.
Kadang harus menunda membeli barang yang diinginkan. Kadang harus menahan diri ketika kebutuhan lain datang silih berganti.
Bagi banyak keluarga Indonesia, ongkos haji bukan angka kecil. Ia adalah jumlah besar yang hanya bisa dikumpulkan melalui waktu yang panjang. Karena itu, setiap setoran ke tabungan haji sesungguhnya menyimpan cerita perjuangan.
Kartini masih mengingat masa-masa ketika ia harus mengatur keuangan rumah tangga dengan sangat cermat. Gaji guru yang diterima tak selalu longgar, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Tetapi ia percaya, mimpi besar selalu menuntut kesabaran besar.
“Kadang kami hanya bisa setor sedikit. Tapi kami tidak pernah berhenti,” katanya pelan mengenang perjuangannya.
Tahun berganti tahun. Rambut mulai memutih. Anak-anak tumbuh dewasa. Masa tugas berakhir. Namun satu impian tetap dijaga melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri, melangkah di pelataran Masjidil Haram, dan menunaikan rukun Islam kelima berdua.
Hingga pada 2026, kabar yang ditunggu itu datang juga.Nama mereka masuk daftar keberangkatan. Maksid dan Kartini akan berangkat bersama Kloter 17 Embarkasi Banjarmasin, bergabung dengan jemaah asal Banjarmasin, Barito Kuala, Kotabaru, dan Barabai.Penantian puluhan tahun akhirnya menjelma kenyataan.
Di sudut lain asrama haji Banjarbaru, Kalimantan Selatan, rasa syukur yang sama juga dirasakan khmad Syarbini Syamlawi, jemaah asal Banjarmasin. Ia pensiunan pegawai swasta.
Kini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan sebagai petani di kampung. Tangannya yang dulu terbiasa bekerja di perusahaan, kini akrab dengan tanah dan lumpur sawah.
Namun satu hal tak berubah tekadnya untuk berhaji.
Selama bertahun-tahun, Akhmad Sarbini dan istrinya menabung perlahan. Tidak sekaligus besar, tetapi rutin dan penuh kesungguhan. Dari hasil kerja, dari sisa kebutuhan rumah tangga, dari penghematan kecil yang mungkin tak terlihat orang lain.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa berangkat sama istri,” ujarnya singkat, sambil tersenyum lebar.
Senyum itu adalah jawaban dari penantian panjang.

Bagi sebagian orang, keberangkatan haji mungkin sekadar agenda perjalanan ibadah. Tetapi bagi mereka yang menabung berpuluh tahun, haji adalah puncak dari perjalanan hidup. Kisah ini bukan hanya tentang tiba di Makkah, melainkan tentang bagaimana sampai ke sana.
Tentang sabar yang diuji waktu. Tentang ikhtiar yang tak putus-putus. Tentang keyakinan yang dijaga meski keadaan tak selalu mudah.
Di Indonesia, jutaan calon jemaah mengalami kisah serupa. Mereka bukan orang-orang berlimpah harta. Mereka adalah guru, pensiunan, petani, pedagang, buruh, pegawai biasa dan orang-orang yang menabung diam-diam sambil terus berharap suatu hari dipanggil menjadi tamu Allah.
Mereka mengajarkan bahwa ibadah besar sering lahir dari pengorbanan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Saat bus jemaah mulai bergerak meninggalkan asrama, tangan-tangan keluarga melambai. Beberapa menangis. Beberapa tersenyum sambil menahan haru. Maksid menggenggam tangan Kartini erat-erat. Muhammad menatap ke luar jendela, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.
Di kursi bus itu, mereka tidak hanya membawa koper dan paspor. Mereka membawa seluruh cerita hidup kerja keras, doa panjang, dan rupiah demi rupiah yang pernah dikumpulkan dengan penuh cinta.
Menuju Baitullah, mereka berangkat bukan sebagai orang kaya, tetapi sebagai orang-orang yang kaya kesabaran. Dan mungkin, itulah bekal paling mulia. Dari Tabungan Umat, Untuk Indonesia.Sejatinya dana haji adalah cermin bangsa ini.
Kisah ini menunjukkan bahwa rakyat kecil punya daya tahan luar biasa untuk bermimpi. Dan ini membuktikan bahwa ketulusan dapat terkumpul menjadi kekuatan ekonomi raksasa. Dana haji mengajarkan bahwa sesuatu yang besar sering lahir dari setoran kecil yang dilakukan terus-menerus dengan sabar.
Dari sawah, pasar, sekolah, bengkel, kantor kecil, dan rumah-rumah sederhana, dana haji dihimpun. Dari tangan-tangan yang bekerja keras, ia dititipkan. Dari hati yang penuh iman, ia diserahkan.
Karena itu, setiap Rupiah dana haji harus dijaga dengan kesungguhan yang sama seperti saat ia dikumpulkan.
Jika amanah dijaga, nilai ditumbuhkan, dan manfaat dibagikan dengan adil, maka dana haji akan menjadi lebih dari sekadar dana perjalanan ibadah.
Ia akan menjelma menjadi energi besar untuk negeri. Sebuah kekuatan yang lahir dari air mata umat, tumbuh dengan kepercayaan, dan kembali sebagai maslahat bagi Indonesia.
Dana Haji dan Masa Depan Ekonomi Syariah
Lebih jauh, dana haji dapat menjadi lokomotif penguatan ekosistem ekonomi syariah nasional. Ketika ditempatkan pada instrumen halal yang produktif, ia mendorong pasar keuangan syariah tumbuh lebih dalam, memperkuat likuiditas perbankan syariah, serta membuka peluang pembiayaan proyek strategis berisiko terukur.
Indonesia selama ini bercita-cita menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Dana haji dapat menjadi salah satu pilar penting menuju ke sana.Tentu dengan tata kelola yang disiplin dan penuh kehati-hatian.
Bayangkan bila manfaat pengelolaan dana haji ikut memperkuat layanan haji yang lebih manusiawi, mendukung ekosistem halal, dan menciptakan dampak ekonomi yang luas. Maka dana umat bukan hanya menunggu keberangkatan, tetapi sedang bekerja untuk kemaslahatan bangsa.
Namun satu hal tak boleh dilupakan adalah dana haji tidak cukup hanya untung. Ia harus berkah. Untung bisa datang dari angka. Berkah lahir dari cara.
“Cara mengelola yang jujur. Cara memutuskan yang hati-hati. Cara memandang jamaah bukan sebagai angka antrean, melainkan manusia yang membawa harapan besar,” terang H.Syahrani, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Banjarmasin, disela-sela pemberangkatan Jemaah Kloter pertama, Kamis malam lalu (23/04/2026).
Lebih jauh H Syahrani menyebutkan mengelola dana haji pada hakikatnya adalah bagaimana menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi orang banyak, khususnya para calon jemaah haji yang telah menunggu bertahun-tahun untuk berangkat ke Tanah Suci.
Dana yang disetorkan jamaah bukan sekadar simpanan, melainkan amanah umat yang harus dijaga nilainya dan dikelola secara bertanggung jawab.
Di Indonesia, dana haji dikelola secara profesional oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji.
Pengelolaan tersebut dilakukan dengan prinsip syariah, aman, transparan, dan nirlaba, sehingga orientasinya bukan mencari keuntungan semata, melainkan memberikan kemaslahatan bagi jemaah.
Dana haji kemudian ditempatkan pada berbagai instrumen investasi syariah yang relatif aman, seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk, deposito syariah, emas, dan instrumen syariah lainnya.
Dari pengelolaan itulah dihasilkan Nilai Manfaat, yakni imbal hasil yang digunakan untuk membantu menutup sebagian biaya penyelenggaraan ibadah haji setiap tahun.
Kehadiran Nilai Manfaat sangat penting karena biaya haji terus mengalami penyesuaian akibat inflasi global, kurs mata uang, transportasi, akomodasi, dan layanan di Arab Saudi.
Dengan adanya hasil pengelolaan dana tersebut, setoran awal Rp25 juta yang dibayarkan calon jemaah tidak tergerus inflasi secara penuh, sehingga beban biaya yang harus dilunasi saat keberangkatan menjadi lebih ringan.
Karena itu, pengelolaan dana haji bukan sekadar urusan keuangan. Ia adalah bentuk perlindungan terhadap cita-cita jutaan umat Islam Indonesia.
Ketika dana haji dikelola dengan amanah dan profesional, yang tumbuh bukan hanya nilai manfaat, tetapi juga kepercayaan umat.
*Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia.
