BSI Dorong Investasi Emas Lewat Wealth Insight
Foto Ilustrasi - Data internal BSI menunjukkan komposisi nasabah emas dari kalangan Gen Z meningkat dari 24 persen menjadi 32 persen. Ini menandakan generasi muda mulai menjadikan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan mereka. (Foto - Olpah Sari).
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus memperkuat strategi bisnis wealth management berbasis syariah dengan mendorong literasi investasi emas kepada masyarakat.
Melalui gelaran BSI Wealth Insight bertajuk A Golden Moment Amidst Uncertainty di Banjarmasin, BSI menegaskan posisi emas sebagai instrumen investasi utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Langkah ini dinilai relevan seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan dunia, tensi geopolitik, serta tren suku bunga global yang masih fluktuatif.
Dalam kondisi tersebut, emas secara historis dikenal sebagai safe haven asset, yakni aset pelindung nilai ketika pasar saham, obligasi, maupun mata uang mengalami tekanan.
RCEO Regional IX BSI Kalimantan Sefudin Suria Hidayat mengatakan, emas kini bukan lagi sekadar instrumen simpanan tradisional, tetapi telah berevolusi menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan kekayaan modern.
“Emas semakin menegaskan posisinya bukan hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga komponen penting dalam manajemen kekayaan. Perkembangan bullion banking membuka peluang besar bagi BSI menghadirkan layanan yang modern, aman, dan transparan,” ujarnya.
Pernyataan itu tercermin dari pertumbuhan bisnis emas BSI yang signifikan. Dalam satu tahun sejak layanan bullion bank diluncurkan pada Februari 2025, total emas kelolaan BSI telah mencapai 22,5 ton.
Jumlah nasabah bullion juga melonjak lebih dari 400 persen, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan emas berbasis perbankan syariah.

Secara global, World Gold Council dalam berbagai laporan pasar menempatkan emas sebagai salah satu aset dengan permintaan tinggi saat risiko ekonomi meningkat.
Selain investor ritel, bank sentral dunia dalam beberapa tahun terakhir juga meningkatkan cadangan emas untuk diversifikasi aset devisa.
Fenomena itu memperkuat narasi bahwa emas tetap relevan sebagai instrumen jangka panjang, terutama saat inflasi menggerus nilai uang tunai. Secara teori keuangan, emas cenderung mempertahankan daya beli dalam horizon panjang, meski tetap mengalami fluktuasi harga dalam jangka pendek.
BSI melihat momentum tersebut sebagai peluang memperluas inklusi investasi syariah.
Saat ini perseroan telah membangun ekosistem emas terintegrasi mulai dari perdagangan emas, simpanan emas, cicil emas, gadai emas hingga produk BSI Gold. Seluruh transaksi dijalankan sesuai prinsip syariah dengan underlying emas fisik yang tersimpan di vault perusahaan.
Selain emas fisik, BSI juga mendorong investasi digital melalui aplikasi Byond by BSI, yang memungkinkan nasabah membeli emas secara fleksibel kapan saja dan di mana saja.
Transformasi digital ini penting karena tren investor muda kini mengarah pada produk yang mudah diakses, nominal terjangkau, dan transparan.
Data internal BSI menunjukkan komposisi nasabah emas dari kalangan Gen Z meningkat dari 24 persen menjadi 32 persen. Ini menandakan generasi muda mulai menjadikan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan mereka.
Per Desember 2025, segmen wealth management BSI juga telah mengelola lebih dari 70 ribu nasabah prioritas, dengan produk investasi seperti reksa dana syariah, sukuk, bancassurance, serta layanan konsultasi waris dan haji-umrah concierge.
Dari sisi ekonomi makro, penguatan bisnis emas BSI juga sejalan dengan agenda nasional memperdalam hilirisasi komoditas dan memperkuat ekosistem emas domestik. Pemerintah Indonesia sebelumnya meresmikan bullion bank untuk menahan lebih banyak nilai tambah emas tetap berputar di dalam negeri.
Melalui Wealth Insight di Banjarmasin, BSI tak hanya menawarkan produk, tetapi membangun pemahaman bahwa investasi membutuhkan strategi, disiplin, dan diversifikasi. Dalam lanskap ekonomi yang penuh ketidakpastian, emas kembali diposisikan bukan sekadar logam mulia, melainkan instrumen strategis menuju ketahanan finansial.(Olpah Sari).
