Meneguk Es di Tanah Suci, Segar Yang Mengancam

0
JEMAAH HAJI

Foto Ilustrasi - Jemaah haji Indonesia dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih jika suhu ekstrem panas di tanah suci.Agar tubuh fresh dan tidak hidrasi.(Foto - Risanta).

Di tengah lautan manusia yang bergerak menuju panggilan Ilahi, ancaman terbesar bagi jemaah haji hari ini bukan hanya kelelahan atau padatnya ritual.

Mereka dihadapkan dengan sesuayi datang diam-diam, tak kasatmata, tetapi nyata bernama panas ekstrem.

Arab Saudi bukan sekadar “panas” tetapi ia ekstrem. Data menunjukkan suhu di Mekkah dan Madinah saat musim haji rutin menembus 40 hingga 45 derajat Celsius, bahkan bisa melonjak hingga 48–50 derajat pada puncaknya .

Dalam kasus tertentu, suhu ekstrem bahkan pernah mencapai lebih dari 51 derajat Celsius, memicu gelombang Heat stroke yang menyebabkan korban jiwa .

Tahun 2026 diprediksi lebih terik. Otoritas meteorologi Arab Saudi memperkirakan kenaikan suhu hingga 1–2 derajat di atas normal, sebuah angka kecil yang dalam konteks gurun bisa berarti lonjakan risiko kesehatan yang signifikan .

Jika menelisik lebih dalam, maka imbauan sederhana bahkan terdengar sepele menjadi relevan, yakni hindari minum air es saat terik.

Kamis malam (23/04/2026) Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik jemaah di tengah perbedaan cuaca ekstrem.

Pesan itu bukan basa-basi seremonial. Haji Muhidin berkaca dari pengalaman dan berangkat dari realitas lapangan, yang menyebutkan tubuh manusia tidak dirancang untuk perubahan suhu drastis dalam hitungan detik.

Air es, yang terasa menyegarkan di lidah, justru bisa menjadi “jebakan fisiologis”. Saat tubuh berada dalam kondisi panas ekstrem, pembuluh darah melebar untuk melepaskan panas.

Masuknya cairan sangat dingin secara tiba-tiba memicu kontraksi mendadak sebuah reaksi yang dapat mengganggu sistem tubuh, mulai dari tenggorokan hingga pencernaan.

Secara medis, kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan seperti Faringitis, gangguan lambung, hingga memperparah dehidrasi terselubung,sebuah kondisi ketika tubuh sebenarnya kekurangan cairan meski sudah minum.

Fakta di lapangan memperkuat kekhawatiran ini. Pada musim haji sebelumnya, lebih dari 25 ribu jemaah menjalani perawatan akibat dampak cuaca panas, dengan dominasi kasus infeksi saluran pernapasan, hipertensi, hingga gangguan jantung .Karenanya juga pesan dari anggota DPRD Kalsel, H. Jahrian, ada benarnya pula. Ia menekankan bahwa jemaah bukan hanya menjalankan ibadah, tetapi juga membawa identitas daerah.

Disiplin, termasuk dalam hal kecil seperti pola minum, menjadi bagian dari tanggung jawab moral itu.

Karena ibadah haji hari ini bukan hanya soal spiritualitas, tetapi juga soal manajemen tubuh di tengah krisis iklim global.Sudah sepantasnya imbauan harus menjadi perhatian para jemaah haji.

Minum es bukan sekadar pilihan konsumsi. Dalam konteks Tanah Suci, ia bisa menjadi simbol ketidakwaspadaan.

Sebaliknya, memilih air suhu normal adalah bentuk adaptasi,kesadaran bahwa tubuh harus dijaga agar ibadah tidak terganggu.

Di tengah terik yang membakar, kesejukan sejati bukan datang dari es yang dingin, tetapi dari tubuh yang stabil, pikiran yang jernih, dan niat yang lurus.

Karena itu, jemaah dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi air putih hangat atau bersuhu normal, yang lebih mudah diserap tubuh dan membantu menjaga kestabilan metabolisme.

Selain itu, minuman sehat seperti air mineral yang cukup, cairan elektrolit, serta asupan bergizi juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh selama menjalani rangkaian ibadah. (Olpah Sari).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!