Menjaga Marwah di Ujung Kuas

0
PERIAS PENGANTEN

Foto Ilustrasi - Penulis saat mendampingi perias penganten dalam momen resepsi pernikahan. (Foto - Olpah Sari).

Mengapa Profesionalisme Perias Pengantin Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

Oleh: Desy Hairina
(Penggiat Ekonomi Kreatif Kalimantan Selatan)

Di balik megahnya pelaminan dan kilau lampu chandelier, ada satu sosok yang memegang beban berat atas sejarah hidup seseorang. Dia adalah perias pengantin.

Bagi sebagian orang, merias mungkin dianggap sekadar memulas warna. Namun, dalam ekosistem ekonomi kreatif dan pelestarian budaya, perias pengantin adalah “sutradara visual” yang menentukan apakah sebuah memori akan dikenang dengan indah atau justru berakhir sebagai penyesalan seumur hidup.

Pernikahan adalah momen sekali seumur hidup. Di era digital saat ini, setiap detik acara dipotret, direkam, dan disiarkan secara real-time.

Profesi ini kini profesionalismenya diuji. Mengapa kita tidak bisa lagi berkompromi dengan perias “amatir”?

Riasan pengantin bukanlah riasan sehari-hari. Seorang profesional dibayar untuk teknis long-lasting. Mereka memahami bagaimana produk bereaksi terhadap keringat, air mata haru, hingga kelembapan udara tropis Kalimantan yang ekstrem.

Mengaplikasikan fondasi yang tetap halus selama 16 jam tanpa retak (crack) memerlukan pengetahuan mendalam tentang kimia kosmetik dan jenis kulit klien. Ini adalah investasi atas ketenangan pikiran pengantin agar tetap tampil flawless di depan kamera profesional maupun kamera ponsel tamu undangan.

Seorang perias profesional adalah ahli pencahayaan. Mereka tahu bagaimana riasan akan bereaksi terhadap lampu flash yang tajam atau redupnya suasana candlelight dinner.

Tanpa keahlian koreksi fitur wajah yang mumpuni, pengantin berisiko terlihat pucat atau justru terlalu mencolok (menor).

Profesionalisme menjamin wajah pengantin tidak kehilangan dimensinya saat didokumentasikan, karena foto dan video adalah “saksi bisu” yang akan disimpan selamanya.

Menjaga Marwah Banua dalam Guratan Pakem
Di Kalimantan Selatan, beban perias pengantin jauh lebih dalam daripada sekadar estetika modern.

Kita bicara tentang identitas. Pelestarian riasan tradisional seperti Bagajah Gamuling Baular Lulut dan Baamar Galung Pancar Matahari adalah sebuah tugas suci.

Harpi Melati bersama pemerintah daerah terus berjuang agar pakem ini tidak tergerus zaman. Seorang perias profesional wajib memahami filosofi di balik setiap aksesori mahkota dan goresan warna yang cerah khas Banjar.

Tanpa profesionalisme dan sertifikasi kompetensi, identitas budaya kita terancam “salah tafsir” atau bahkan tenggelam oleh tren makeup global yang serba seragam.

Lebih dari sekadar kuas, profesionalisme mencakup etika kerja. Ketepatan waktu di pagi buta, kemampuan bekerja di bawah tekanan jadwal yang ketat, hingga perilaku yang sopan adalah kunci.

Perias yang profesional bertindak sebagai peredam stres (stress reliever) bagi pengantin yang tegang, bukan justru menambah beban dengan keterlambatan atau ketidakhadiran sepihak.

Menjadikan perias pengantin sebagai profesi berkelas adalah cita-cita kita bersama di sektor ekonomi kreatif.

Saat kita menyewa perias profesional, kita tidak hanya membeli jasa rias, tetapi kita sedang mengamankan memori, menghargai budaya, dan mendukung martabat sebuah profesi.

Sudah saatnya perias pengantin di Banua berdiri tegak dengan standar kompetensi tinggi. Karena pada setiap sapuan kuasnya, ada doa, ada budaya, dan ada masa depan tradisi yang sedang dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!