Sungai Andai Benteng Terakhir Pangan Banjarmasin

0
YAMIN SUNGAI ANDAI UTAMA

Foto Ilustrasi - Pimpinan Kota Banjarmasin berada di kawasan lahan pertanian terakhir di Sungai Andai Banjarmasin. (Foto - Dok Economic Travelling.Com).

Banjarmasin tengah berada dalam drama ironi yang akut.

Di balik jargon “Kota Seribu Sungai”, deru mesin pengaduk semen kian bising, menelan hamparan hijau demi ambisi hutan beton.

Kini, mata kita tertuju pada Sungai Andai sebuah kawasan yang bukan lagi sekadar sisa-sisa sawah, melainkan “benteng terakhir” pertahanan pangan yang sedang sekarat di ujung kota.

Data yang tersaji adalah sebuah tamparan keras. Dari 260 hektare lahan yang tersisa, hanya 200 hektare yang masih berdenyut produktif.

Sisanya? Mungkin sudah tertimbun urukan tanah atau sedang menunggu giliran dipasangi fondasi. Hingga April ini, realisasi tanam yang baru menyentuh satu hektare adalah sebuah anomali sekaligus alarm bencana.

Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret kedaulatan pangan kita yang sedang di ujung tanduk.

Aksi turun ke lumpur yang dilakukan Wali Kota Muhammad Yamin HR harus dimaknai melampaui seremoni publik. Itu adalah sebuah “sinyal darurat”.

Namun, kita tahu bahwa musuh pertanian di kota ini bukanlah hama atau cuaca semata, melainkan syahwat alih fungsi lahan yang tak terkendali.

Melawan beton dengan sekadar menanam padi adalah sia-sia jika tidak dibarengi dengan keberanian politik untuk memaku zona hijau secara absolut.

Pertama, pemerintah harus berani menegakkan aturan, yakni lahan pertanian di Sungai Andai adalah tanah suci yang tak boleh disentuh alat berat. Tanpa proteksi hukum yang garang, nilai ekonomi kavling perumahan akan selalu memenangkan pertarungan melawan bulir padi.

Kedua, janji pembangunan irigasi dan pompanisasi jangan hanya jadi pemanis pidato. Bertani di lahan rawa tanpa manajemen air yang modern adalah tindakan bunuh diri ekonomi bagi para petani.

Kita juga patut menggugat etika para pengembang. Membangun Banjarmasin dengan cara mematikan karakter rawa adalah kekeliruan sejarah.

Menimbun sungai dan mengepras sawah hanya akan melahirkan pemukiman yang rentan banjir dan kota yang lapar.

Rumah panggung bukan sekadar warisan masa lalu, itu adalah kearifan lokal yang seharusnya menjadi syarat mutlak, bukan sekadar imbauan basa-basi.

Jika hari ini kita membiarkan Sungai Andai kalah oleh semen, maka bersiaplah menyambut masa depan di mana Banjarmasin menjadi kota yang megah secara fisik, namun rapuh secara jiwa.

Sebuah kota yang mungkin berkilau dengan lampu pemukiman, namun ringkih karena kehilangan kemampuan untuk memberi makan warganya sendiri.

Menjaga Sungai Andai adalah menjaga nyawa kota. Sebelum benteng terakhir ini benar-benar roboh, mari kita pastikan bahwa masa depan pangan kita tidak terkubur di bawah hamparan beton yang gersang dan tak berjiwa.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!