Tiga Jurus Machli, Koperasi, UMKM, dan Serangan Balik Pengangguran
Foto Ilustrasi - Machli Riyadi dengan latar belakang mereka yang diperjuangkan dalam program kerjanya. (Foto - Ridzky Husna).
Di tengah tekanan ekonomi perkotaan dan tantangan ketenagakerjaan yang kian kompleks, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Kota Banjarmasin, Dr. Machli Riyadi, memilih langkah yang tidak sekadar administratif.
Birokrat muda ini memilih langkah strategis dan ideologis yakni mengembalikan kekuatan ekonomi ke akar masyarakat.
Tiga prioritas langsung ditegaskan pasca pelantikannya sebagai pimpinan baru SKPD ini.Ketiganya meliputi penguatan Koperasi Merah Putih, akselerasi UMKM, dan penurunan angka pengangguran.
Tiga sektor ini bukan sekadar program, melainkan simpul yang saling mengunci dalam membentuk daya tahan ekonomi daerah.
Dalam wawancara eksklusif di ruang kerjanya, Rabu (01/04/2026), Machli menegaskan bahwa Diskopumker memegang mandat lintas sektor yang tidak ringan,mengintegrasikan kebijakan dari tiga kementerian sekaligus mulai koperasi, UMKM, dan ketenagakerjaan.
“Ini bukan sekadar menjalankan program. Ini tentang memastikan arah kebijakan pusat bertemu dengan kebutuhan riil masyarakat, sekaligus menjawab visi besar Banjarmasin sebagai kota yang maju dan sejahtera,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Roh Koperasi
Di garis depan, Machli menempatkan Koperasi Merah Putih sebagai instrumen utama. Targetnya tegas yakni operasional penuh paling lambat 2027.
Lebih dari sekadar program, koperasi diposisikan sebagai mesin ekonomi berbasis komunitas,menghidupkan kembali gagasan besar Muhammad Hatta tentang kedaulatan ekonomi rakyat.
Saat ini, fondasi itu mulai terbentuk. Sebanyak 52 koperasi telah berdiri di 52 kelurahan. Dua wilayah Pemurus Luar dan Tanjung Pagar,dipilih sebagai laboratorium awal, model koperasi ideal yang akan direplikasi.
Namun jalan tidak sepenuhnya mulus. Keterbatasan lahan, kualitas SDM pengelola, hingga akses permodalan masih menjadi pekerjaan rumah.
Machli tidak menutup mata. Ia merespons dengan pendekatan konkret pelatihan manajemen, tata kelola, keuangan, hingga kewirausahaan yang dijadwalkan pada 7–8 April 2026.
“Kalau koperasi ingin hidup, pengurusnya harus kuat. Kita tidak ingin koperasi hanya aktif di atas kertas,” tegasnya.
Jika koperasi adalah mesin, maka UMKM adalah bahan bakarnya. Data menunjukkan dominasi sektor ini begitu nyata, karena lebih dari 62 ribu usaha mikro dan kecil, dengan usaha mikro mencapai hampir 60 ribu unit.
Angka itu bukan sekadar statistik melainkan sebuah denyut ekonomi Banjarmasin.
Namun Machli melihat satu persoalan klasik skala usaha yang besar secara jumlah, tetapi belum sepenuhnya naik kelas secara kualitas dan daya saing.
Karena itu, pendekatan yang dibangun tidak lagi sebatas pembinaan formal. Diskopumker mendorong ekosistem akses permodalan, pendampingan berkelanjutan, hingga pembukaan pasar yang nyata.
“Kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan terkoneksi. Kehadiran pemerintah harus terasa langsung,” ucapnya sembari mengajak media menikmati teh panas.
Salah satu strategi kunci adalah pola kemitraan dan konsinyasi antara koperasi dan pelaku usaha sebuah skema yang memungkinkan distribusi berjalan tanpa membebani modal di awal.

Menyerang Akar Pengangguran
Di sektor ketenagakerjaan, tantangan terlihat lebih gamblang. Tingkat pengangguran Banjarmasin ternyata berada di angka 6,49 persen, sebuah angka yang melampaui rata-rata nasional.
Dan dibalik angka itu, terdapat lebih dari 21 ribu pencari kerja yang menunggu peluang.
Pria yang merupakan Doktor hukum memilih pendekatan yang lebih progresif, tidak hanya mendorong pencarian kerja, tetapi menciptakan pekerjaan itu sendiri.
Balai Latihan Kerja (BLK) akan diperkuat dengan orientasi kebutuhan industri, memastikan pelatihan tidak lagi generik, tetapi relevan dan terserap pasar.
Di saat yang sama, kerja sama dengan dunia usaha akan diperluas, termasuk rencana rekrutmen massal pasca-Lebaran.
“Kita tidak bisa hanya menunggu lapangan kerja tersedia. Kita harus ikut menciptakannya,” sambungnya lagi.
Perhatian juga diarahkan pada perlindungan tenaga kerja mulai dari kasus PHK sepihak, upah di bawah standar, hingga pemenuhan hak pekerja. Bagi Machli, pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan tenaga kerja adalah kontradiksi.
Koperasi sebagai Simpul Investasi Lokal
Menariknya, Machli juga membuka ruang baru menjadikan koperasi sebagai wahana investasi berbasis komunitas. Dengan badan hukum yang jelas, koperasi didorong menjadi kanal investasi yang aman, produktif, dan berorientasi lokal.
Dengan 512 koperasi aktif saat ini, potensi itu bukan ilusi.
“Kita ingin investasi tidak hanya datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam dari masyarakat itu sendiri,” ucapnya optimis.
Machli sendiri menekankan tiga prioritas ini bermuara pada satu tujuan besar yakni membangun ekonomi yang tidak rapuh, karena bertumpu pada kekuatan lokal.
Koperasi yang sehat. UMKM yang naik kelas. Lapangan kerja yang tumbuh.
Machli sadar, target itu tidak bisa dicapai dengan pendekatan biasa. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, keberanian berinovasi, dan konsistensi dalam eksekusi.
“Kunci keberhasilan ada pada kolaborasi dan inovasi. Program yang baik harus kita jaga, yang kurang kita perbaiki agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya mengakhiri wawancara khusus. (Ridzky Husna).
