Aplikasi Daerah atau Jadi Pasar Selamanya?

0
DIANA OJEK ONLINE

Foto Ilustrasi - Aplikasi daerah yang dinantikan kehadirannya kelak di Kalsel. (Foto - Risanta - Model : Diana - Endi ).

Di sebuah pagi yang bergerak pelan di sudut warung kopi pinggir jalan di Banjarmasin Kalimantan Selatan, percakapan sederhana terdengar akrab.

Lamat-lamat di telinga saya pesanan nasi kuning kini tak lagi menunggu di bangku plastik atau kursi panjang saat mengantri.

“Tinggal klik saja,” kata seorang perempuan muda di kedai nasi kuning terkenal di kawasan Flamboyan, Kayu Tangi Banjarmasin. Singkat. Ringkas. Tapi di balik itu, ada perubahan besar yang sedang berlangsung, cara hidup sedang bergeser.

Saya jadi teringat lagi sederet nama seperti Gojek, Grab, dan Maxim telah membuktikan satu hal, bahwa  teknologi bukan sekadar alat, melainkan penggerak ekonomi. Mereka menghubungkan yang kecil menjadi besar, yang jauh menjadi dekat, yang diam menjadi bergerak.

Pagi itu menggelitik saya dan sahabat sekaligus senior saya Jhonson Marzuki yang tengah menikmati nasi kuning dan lontong. Kami pun berdiskusi ringan dan memiliki pertanyaan sederhana yang sama dan namun justru karena itu tajam. Mengapa daerah hanya menjadi pasar, bukan pemain?

Kata-kata tajam pengharapan Bang Jhonson Marzuki memang menginspirasi saya untuk menuliskan kegelisahan yang tersimpan lama.

Maklum di kalangan Jurnalis, kami termasuk yang suka mempertanyakan kemapanan daerah tapi tak bermakna.Karena perputaran uang dan pergerakan ekonomi sepenuhnya banyak masuk kantong luar daerah, salah satunya lewat aplikasi berbasis jasa online.

Menelaah dalam perspekstif ekonomi, disebutkan ekonomi tidak selalu lahir dari proyek besar. Ia tumbuh dari warung kecil, dari pasar tradisional, dari tangan-tangan yang bekerja setiap hari tanpa sorotan. Aplikasi on-demand memahami itu. Mereka tidak menciptakan UMKM, tetapi mereka hanya membuka jalan.

Digitalisasi membuat pedagang kecil melampaui batas ruang. Warung di gang sempit kini bisa menjangkau pelanggan lintas kota. Ojek daring menjadi perpanjangan tangan distribusi. Aktivitas ekonomi yang dulu berhenti di radius tertentu, kini meluas tanpa batas.

Yang menarik, ekosistem ini hampir sepenuhnya ditopang oleh UMKM. Mereka bukan pelengkap, dalam kacamata Manajemen Operasional mereka adalah inti. Teknologi hanya mempercepat denyut yang sudah ada.

 

Foto Ilustrasi – Pengrajin dengan produk berbasis tanaman herbal dan kopi dari Kalimantan Selatan yang bisa dipesan secara online.(Foto – Olpah Sari).

Di tengah sempitnya lapangan kerja formal, aplikasi menghadirkan alternatif yang nyata. Tanpa seleksi rumit, tanpa syarat berlapis, ribuan orang bisa langsung bergerak.

Gig economy, kata orang.

Namun di lapangan, ini lebih dari sekadar istilah. Ini adalah cara bertahan. Pengemudi ojek online menjadi simpul penting dalam perputaran uang. Mereka menjaga ekonomi tetap hidup mengantar, menghubungkan, dan memastikan transaksi terus terjadi.

Ekonomi bergerak bukan karena teori, tapi karena aktivitas.

Tak dipungkiri memang, perubahan lain terjadi secara halus cara orang bertransaksi. Dari tunai ke digital. Dari hitung manual ke sistem yang tercatat.

Dompet digital mempercepat segalanya. Uang tidak hanya berpindah, tapi juga terdokumentasi. Literasi keuangan tumbuh tanpa disadari.

Lagi-lagi peran lembaga lokal menjadi krusial. Bank Kalsel tidak cukup hanya menjadi penyedia layanan, tetapi harus naik kelas sebagai penggerak. Integrasi seperti AKSEL bukan sekadar fitur, karena ia bisa menjadi fondasi ekosistem ekonomi digital daerah.

Sejatinya hari ini, aplikasi bukan lagi sekadar transportasi. Aplikasi itu menurut sahabat saya Dosen Arifia,  telah berubah menjadi super app—ruang di mana berbagai kebutuhan hidup bertemu, dari makanan, logistik, jasa, hingga pembayaran.

Pertanyaannya kami disini adalah mengapa konsep ini tidak dibangun dari daerah?

Bukan karena tidak mampu. SDM teknologi di Kalimantan Selatan cukup. Programmer lokal tidak kalah. Yang sering hilang adalah keberanian memulai dan keberpihakan untuk mendukung.

Padahal, jika aplikasi dibangun dari daerah, dampaknya jauh lebih strategis. Data tetap di dalam. Keuntungan tidak keluar. Kebijakan bisa disesuaikan dengan realitas lokal. Ekonomi tidak bocor, karena ia berputar di tempatnya tumbuh.

Tentu, tantangan tidak kecil. Komisi aplikator sering dikeluhkan UMKM. Perlindungan driver masih lemah. Gesekan dengan ojek pangkalan kerap terjadi.

Namun masalah bukan alasan untuk berhenti. Justru titik awal untuk merancang sistem yang lebih adil. Regulasi yang berpihak. Model bisnis yang manusiawi. Ekosistem yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkeadilan.

Sebagai refleksi, semoga orat-arit ini didengar Pahaji Muhidin, Wali Kota Yamin maupun Lisa Halaby, dan sejumlah Bupati di Banua. Karena ini bukan soal aplikasi. Ini soal posisi.

Apakah daerah akan terus menjadi pasar yang empuk, tempat produk dan layanan luar bertumbuh?
Atau berani menjadi pemain membangun ekosistemnya sendiri?

Pemerintah daerah memegang kunci. Regulasi, pembiayaan, hingga inkubasi talenta lokal harus diarahkan ke sana. Dan kolaborasi menjadi syarat mutlak, antara pemerintah, startup lokal, UMKM, dan lembaga keuangan.

Bayangkan sebuah aplikasi lahir dari Kalimantan Selatan. Menghubungkan pasar tradisional, warung, jasa lokal, hingga transportasi. Didukung oleh bank daerah. Dikelola oleh talenta sendiri. Digunakan oleh masyarakatnya.

Sejarah bisa dimulai dan jika terwujud, maka di titik itu, ekonomi tidak lagi terasa jauh.Tetapi telah menjadi milik sendiri, Kalimantan Selatan.

Penulis adalah Ahli Pers Dewan Pers & Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!