Penyiaran di Tengah Bising Digital

0
RISANTA WARTAWAN DI RESORT UTAMA

Oleh : Muhammad Risanta

Saya baru saja menyeruput kopi hangat buatan istri, saat sejumlah kolega mengirimkan selamat Hari Penyiaran Nasional.

Sebuah ritual yang kerap dilayangkan teman-teman di awal April setiap tahunnya.

Saya pun baru ngeh lagi wah ternyata tanggal 1 April adalah Hari Penyiaran Nasional. Maklum rutinitas kesibukan sebagai Jurnalis TV, Dosen hingga konsultan media serta pembicara seminar, terkadang saya hampir terlupakan momen yang satu ini.

Sembari menyeruput kopi hitam yang pekat dan pahit, saya merenungi kembali perjalanan dalam circle dunia penyiaran. Dulu saya mengawali terjun sebagai penyiar radio, reporter Radio Smart FM dan Elshinta Jakarta, kemudian di tahun 2004 berlabuh ke TV7. Media ini pun bertransformasi menjadi Trans7 dalam bingkai akuisisi dengan Transcorp.Dan tahun 2020 menempatkan saya bergabung dalam CNN Indonesia Indonesia.

Saya memulai kata sederhana saja. Bahwa di tengah riuhnya arus informasi digital, diakui penyiaran seperti kehilangan ruang sunyinya.

Dulu, suara dari radio atau tayangan televisi hadir sebagai rujukan, terukur, terverifikasi, dan dipercaya. Kini, barangkali harus bersaing dengan algoritma yang tak mengenal etika, hanya mengenal atensi.

Sebagai jurnalis yang memulai langkah dari radio, saya merasakan betul bagaimana penyiaran pernah menjadi medium yang intim. Media ini bukan sekadar menyampaikan kabar, tetapi membangun kedekatan emosional dengan publik.

Ada tanggung jawab yang melekat pada setiap kata yang keluar dari mikrofon. Tidak ada ruang untuk spekulasi, apalagi manipulasi.

 

Penulis saat menjadi narasumber Talkshow di Radio Suara Banjar, dipandu Host Radio Suara Banjar, Pepen Effendi dan pemerhati lingkungan nasional, Tommy Kristian Catur.

Namun lanskap itu berubah drastis. Media sosial menggeser cara publik mengonsumsi informasi. Kecepatan mengalahkan ketepatan. Viralitas sering kali lebih dihargai dibanding verifikasi.

Dalam situasi ini, memang posisi penyiaran,baik radio maupun televisi, seperti berada di persimpangan, mengikuti arus atau tetap menjaga marwah.

Dalam perspektif saya sebagai bagian dari CNN Indonesia dan juga dalam kapasitas di Dewan Pers, penyiaran tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai penjaga akurasi.

Justru di tengah bising digital, perannya harus semakin ditegaskan sebagai jangkar informasi yang dapat dipercaya.

Hari Penyiaran Nasional bukan sekadar peringatan sejarah berdirinya Solosche Radio Vereeniging, tetapi pengingat akan mandat moral penyiaran, yakku mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga ruang publik tetap sehat.

Penyiaran dan Etika di Era Disrupsi

Masalah utama penyiaran hari ini bukan pada teknologi, melainkan pada konsistensi nilai. Regulasi sudah jelas, pengawasan dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia, namun tantangan sesungguhnya ada pada praktik di lapangan.

Tekanan industri membuat sebagian lembaga penyiaran tergoda mengedepankan sensasi. Konten yang provokatif, dramatis, bahkan bias, kerap muncul demi mengejar angka. Padahal, kepercayaan publik adalah modal utama yang tak tergantikan.

Penyiaran yang sehat adalah penyiaran yang beretika, kalau kita ukur adalah yang mampu menahan diri di tengah godaan untuk menjadi sekadar “ramai”.

Tidak bisa dipungkiri, penyiaran juga merupakan entitas bisnis. Ia bergantung pada iklan, rating, dan keberlanjutan finansial. Dalam konteks ini, persaingan dengan platform digital global menjadi tantangan serius. Belanja iklan bergeser, audiens terfragmentasi, dan model bisnis konvensional tertekan.

 

Foto Ilustrasi – Salah satu aktivitas radio berita milik swasta. (Foto – Redaksi).

Lagi-lagi saya harus merenungi dalam-dalam, apakah ini ujian sebenarnya. Kalau mau jujur bagaimana penyiaran tetap bertahan secara ekonomi tanpa mengorbankan integritas?

Menurut saya, masa depan penyiaran ada pada keseimbangan. Inovasi itu harus dilakukan, baik dalam format konten, distribusi digital, maupun kolaborasi lintas platform.

Tetapi sekali lagi, nilai dasar jurnalistik tidak boleh ditinggalkan. Kredibilitas justru bisa menjadi diferensiasi utama di tengah banjir informasi yang tak terkurasi.

Penyiaran yang berkualitas tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi juga nilai ekonomi jangka panjang. Kepercayaan publik adalah aset yang, jika dikelola dengan baik, akan menjaga keberlanjutan industri.

Masyarakat hari ini semakin kritis. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menilai. Ada kerinduan yang kuat terhadap penyiaran yang santun, berimbang, dan mencerahkan.

Ini menjadi pesan penting bagi seluruh pelaku industri, yang mengharuskan mau tidak mau kualitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Hari Penyiaran Nasional seharusnya menjadi momentum untuk kembali bertanya: untuk siapa penyiaran ini hadir? Jika jawabannya adalah publik, maka seluruh arah kebijakan, konten, dan strategi bisnis harus kembali berpihak pada kepentingan publik.

Menjaga Suara di Tengah Kebisingan

Penyiaran lahir dari semangat kebangsaan. Ia pernah menjadi alat perjuangan, perekat sosial, dan ruang dialog publik. Nilai-nilai itu tidak boleh hilang, meski medium terus berubah.

Di tengah kebisingan digital, penyiaran justru harus menjadi suara yang jernih tidak ikut berteriak, tetapi tetap terdengar.

Sederhana saja yang dibutuhkan publik bukan sekadar informasi yang cepat, melainkan informasi yang benar.Itu saja! Selamat Hari Penyiaran Nasional.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Ahli Pers Dewan Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!