Lebaran, dan Hangatnya Ruang Tanpa Sekat Di rumah Wagub Kalsel
Wagub Kalsel bersama sejumlah tokoh Kalsel, diantaranya H Tasriq Usman (Tenaga Ahli Gubernur), Fatkhan, S.E., M.M Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kalsel (Foto - Dok Biro Adpim Kalsel).
Lebaran selalu punya caranya sendiri untuk meluruhkan jarak. Di tengah hiruk-pikuk tradisi, ada momen-momen sunyi yang justru paling bermakna ketika pintu rumah dibuka, tangan-tangan saling menjabat, dan sekat-sekat sosial perlahan mencair.
Itulah yang terasa di kediaman Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman pada hari pertama Idul Fitri 1447 Hijriah. Sejak pagi hingga malam, arus tamu tak pernah benar-benar berhenti.
Namun suasana yang terbangun jauh dari kesan formal. Tak ada jarak yang kaku antara pejabat dan masyarakat. Semua menyatu dalam satu ruang yang sama, ruang silaturahmi.
Didampingi sang istri,, Hasnuryadi menyambut setiap tamu dengan kehangatan yang terasa personal. Senyum, sapa, dan percakapan ringan menjadi bahasa utama.

Lebaran di rumah itu bukan sekadar agenda tahunan, melainkan perjumpaan yang menghidupkan kembali makna kebersamaan.
Sebelumnya, rangkaian hari telah dimulai dengan agenda resmi bersama Gubernur Muhidin di Mahligai Pancasila, usai menunaikan salat Id di Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Namun justru selepas itu, suasana berubah menjadi lebih cair lebih dekat dengan denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Yang hadir datang dari beragam latar. Ketua DPRD Kalsel Supian HK, jajaran forkopimda, tokoh pers seperti Zainal Helmi, hingga para pelaku usaha dan organisasi kemasyarakatan.
Di antara mereka, tokoh lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama turut hadir, membawa pesan sederhana bahwa kebersamaan tidak mengenal batas identitas.
Menariknya, suasana semakin hidup ketika para pemain PS Barito Putera datang bersama keluarga. Di momen indah ini, pertemuan tak lagi soal jabatan atau peran sosial. Tetapi berubah menjadi ruang keluarga besar, tempat tawa dan cerita mengalir tanpa beban.
Di balik tradisi “open house” ini, tersimpan makna yang lebih dalam. Lebaran pun menjadi ruang di mana kepemimpinan tidak tampil dalam bentuk formalitas, melainkan dalam kedekatan.
Di sini, seorang pejabat publik hadir sebagai tuan rumah bukan sekadar pemegang jabatan, tetapi bagian dari masyarakat itu sendiri.
Malam pun menutup hari dengan perlahan. Namun kehangatan yang tercipta tidak ikut reda. Ia tinggal dalam ingatan para tamu sebagai pengingat bahwa Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang merawat hubungan, membuka ruang, dan menghadirkan kembali rasa saling memiliki.
Lebaran, ending terindahnya adalah tentang kembali. Dan di rumah yang pintunya terbuka itu, semua orang menemukan jalan pulang, setidaknya untuk sejenak, dalam hangatnya ruang tanpa sekat.(Olpah Sari).

