THR, Salam Tempel, dan Lebaran Berbagi

0
RISANTA BERBAGI THR IS THE BEST

Foto Ilustrasi - Dok Risanta.

Oleh: Muhammad Risanta

Lebaran selalu punya cara yang lembut untuk mengetuk ingatan dan kenangan. Momen indah ini datang tidak hanya dengan gema takbir dan aroma ketupat yang mengepul dari dapur, tetapi juga dengan satu kata yang selalu ditunggu-tunggu, yakni THR.

THR, Dua kata yang bagi sebagian orang terdengar administratif, tetapi bagi banyak orang di Indonesia, ia memiliki makna yang jauh lebih hangat. THR adalah cerita tentang berbagi. Tentang tangan yang memberi dan tangan yang menerima dengan mata berbinar.

Sejak kecil saya mengenal THR bukan sebagai istilah ekonomi, melainkan sebagai “salam tempel.” Sebuah tradisi sederhana, uang yang diselipkan di telapak tangan anak-anak, biasanya dalam pecahan baru yang masih kaku, harum tinta percetakan, dan terasa istimewa.

Dan anehnya, kenangan itu selalu kembali setiap kali bulan Ramadan memasuki hari-hari terakhirnya.

Di banyak tempat di Indonesia, uang pecahan baru selalu menjadi simbol khas Lebaran. Orang rela antre di bank atau menukar di pinggir jalan demi mendapatkan lembaran rupiah yang masih rapi.

Tak heran saya pun sering meminta beberapa sahabat penjual eceran pecahan Rupiah baru di Banjarmasin untuk menyediakan uang-uang baru tersebut. Sebagian besar saya dan kawan-kawan di majelis taklim membagikan saat berbuka puasa menjelang lebaran atau pas dibagikan ke anak-anak di kampung maupun kerabat yang baelang ke rumah.

Uang baru itu seperti metafora yang diam-diam disepakati bersama, hati yang kembali bersih setelah sebulan berpuasa.

Karena Ramadan mengajarkan menahan lapar, menahan amarah, dan menahan diri dari banyak hal yang sering kita anggap biasa. Ketika Idulfitri tiba, seakan ada perasaan bahwa hidup pun ikut diperbarui.

Maka ketika selembar uang baru diselipkan kepada anak-anak dengan ucapan “ini buat jajan ya,” sesungguhnya yang diberikan bukan sekadar uang. Tetapi ini adalah simbol kegembiraan, kasih sayang, dan rasa syukur.

 

Ichal Iloenx, Jurnalis dan wirausaha muda yang sering berbagi di penghujung ramadan di Panti Asuhan dan kampung halamannya di Kandangan dan Kotabaru. (Foto – Risanta).

Nostalgia di Kandangan dan Nagara

Setiap Lebaran, ingatan saya selalu melayang ke kampung halaman orangtua di Kandangan dan Nagara, di wilayah Hulu Sungai Selatan.

Di sana Lebaran terasa berbeda. Lebih pelan, lebih akrab, dan lebih hangat.

Rumah-rumah terbuka sejak pagi. Anak-anak datang berombongan, mengenakan baju baru yang kadang masih kebesaran. Mereka mengetuk pintu, mengucapkan salam, lalu bersalaman dengan tuan rumah.

Setelah itu biasanya ada dua hal yang mereka tunggu,

kue di meja tamu, termasuk tapai lakatan dan kacang, serta salam tempel.

Saya masih ingat wajah-wajah kecil yang penuh harap ketika orang dewasa membuka dompet. Ada yang tersenyum malu, ada yang tertawa riang, ada juga yang langsung menghitung isi amplop di halaman rumah.

Di desa-desa seperti itu, uang seribu atau dua ribu rupiah dulu sudah terasa seperti harta karun.

Yang paling menyenangkan bukan jumlahnya, tetapi ritual kebersamaannya. Anak-anak berjalan dari rumah ke rumah, saling bertemu sepupu, teman, dan tetangga. Lebaran menjadi perayaan kolektif, bukan sekadar acara keluarga inti.

Napak Tilas di Kelayan A Luar

Kenangan lain selalu membawa saya kembali ke tempat saya lahir, Jalan Kelayan A Luar, Banjarmasin.

Kawasan yang hidup dengan tradisi Banjar yang kuat. Di sana Lebaran juga punya irama yang khas.

Sejak pagi orang-orang saling berkunjung. Bau opor, ketupat, dan sambal habang bercampur dengan aroma kopi dari dapur. Di ruang tamu, piring-piring kue disusun rapi,ada  kastengel, nastar, hingga kue-kue tradisional.

Dan seperti di banyak rumah Banjar, selalu ada anak-anak yang datang bersalaman sambil tersenyum malu-malu.

Kadang mereka hanya mengucapkan:
“Mohon maaf lahir batin.”

Kalimat itu sederhana, tetapi selalu terasa tulus.

Lalu tangan kecil itu menunggu.

Ketika salam tempel diberikan, mereka mengucapkan terima kasih dengan mata berbinar. Setelah keluar rumah, biasanya mereka langsung berkumpul di ujung gang Sederhana dan Sejiran, membandingkan hasil “panen Lebaran.”

Suasana itu selalu membuat saya merasa bahwa Lebaran sebenarnya adalah festival kebahagiaan kecil.

Bagi anak-anak, THR memiliki makna yang berbeda lagi.

Ia seperti hadiah kecil setelah mereka mencoba belajar berpuasa selama Ramadan. Mungkin tidak penuh, mungkin hanya setengah hari, tetapi usaha itu selalu dihargai.

Memberikan uang kepada anak-anak di hari raya menjadi bentuk apresiasi yang sederhana namun bermakna.

Bukan untuk memanjakan, tetapi untuk membuat mereka merasa bahwa puasa adalah perjalanan yang layak dirayakan

Seiring waktu, tradisi berbagi di hari raya ikut berkembang. Kini kita mengenal hampers, parsel, dan berbagai bentuk bingkisan Lebaran.

Ada yang berisi kue, ada yang berisi makanan khas, ada pula yang dikemas elegan dengan pita dan kartu ucapan.

Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai tren modern, tetapi sebenarnya maknanya tetap sama, berbagi kebahagiaan.

Memberikan makanan atau parsel adalah cara halus untuk mengatakan:

“Aku ingat kamu.”
“Aku peduli.”
“Aku bersyukur bisa berbagi.”

Tradisi ini juga menjadi jembatan silaturahmi. Dalam kehidupan modern yang serba sibuk, kadang kita jarang bertemu keluarga, tetangga, atau rekan kerja. Lebaran menjadi momen untuk merawat kembali hubungan itu.

Satu kotak kue bisa menjadi alasan untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

Foto Ilustrasi – Produk Hampers di Rumah Hampers Diana Banjarmasin. (Foto – Risanta).

Sedekah yang Menghidupkan Tradisi

Jika ditarik lebih jauh, tradisi salam tempel dan berbagi makanan sebenarnya berakar pada ajaran Islam tentang sedekah dan memuliakan tamu.

Hari raya bukan hanya tentang kemenangan spiritual setelah Ramadan, tetapi juga tentang memastikan bahwa kebahagiaan itu dirasakan bersama.

Ada pesan sosial yang kuat di baliknya, jangan sampai ada orang yang merayakan Idulfitri dengan kesepian atau kekurangan.

Karena itu di banyak tempat orang juga berbagi kepada anak yatim, fakir miskin, dan mereka yang membutuhkan.

Lebaran menjadi momen ketika empati terasa lebih nyata.

Di era digital, banyak hal berubah. Orang bisa mengirim THR melalui transfer bank atau dompet digital. Salam tempel kadang digantikan oleh notifikasi di ponsel.

Namun saya percaya satu hal, makna berbagi tidak pernah menjadi usang.

Entah itu melalui amplop kecil, kotak kue, atau transfer elektronik, inti dari tradisi ini tetap sama.

Karena ini adalah bahasa universal tentang kasih sayang.

Lebaran Adalah Tentang Kita

Setiap Lebaran, saya selalu menyadari satu hal.

THR bukan sekadar uang.
Salam tempel bukan sekadar tradisi.

Ia adalah cara masyarakat Indonesia merayakan kemenangan dengan cara yang paling manusiawi: berbagi.

Berbagi rezeki.
Berbagi kebahagiaan.
Berbagi ingatan.

Dan mungkin itulah sebabnya setiap kali saya kembali mengingat Kandangan, Nagara, atau Jalan Kelayan A Luar di Banjarmasin, Lebaran selalu terasa hidup.

Karena di sana, di antara ketupat, kue Lebaran, dan amplop kecil berisi uang baru, kita belajar satu hal sederhana:

kebahagiaan selalu terasa lebih lengkap ketika dibagikan.Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin !

* Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!