Ayo Mudik, Ayo Meliput
Foto Ilustrasi - Liputan Mudik lebaran untuk memberikan informasi terkini jalan raya, arus lalulintas, kemacetan hingga jalan alternatif aman bagi pemudik.(Foto -Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Jurnalis Senior dan Akademisi
Mudik Lebaran di Indonesia bukan sekadar tradisi pulang kampung. Kata sebagian orang adalah cerita besar tentang rindu, perjalanan panjang, dan jutaan manusia yang bergerak hampir bersamaan menuju satu tujuan yang sama, rumah.
Di balik hiruk pikuk itu, ada satu kelompok yang juga ikut “mudik”, tetapi bukan untuk pulang. Mereka justru bergerak ke jalanan, ke terminal, ke pelabuhan, ke rest area, bahkan ke jalur-jalur paling padat. Mereka adalah para awak media.
Setiap musim mudik, televisi nasional berubah seperti pusat kendali informasi. Kamera menyala hampir tanpa henti. Reporter berdiri di pinggir tol, di gerbang pelabuhan, atau di antara barisan kendaraan yang bergerak pelan. Mereka bukan sekadar menyampaikan berita.
Mereka membantu jutaan orang mengambil keputusan, tentang kapan berangkat, jalur mana yang padat, dan di mana kemacetan sedang terjadi.
Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam liputan arus mudik. Sejumlah stasiun televisi nasional bahkan menurunkan tim khusus untuk memantau pergerakan pemudik secara real-time dari berbagai wilayah di Indonesia.
iNews Media Group, misalnya, melalui jaringan iNews, RCTI, MNCTV, dan GTV menerjunkan sekitar 50 tim liputan khusus dalam program “Mudik Lebaran 2026”. Tim-tim ini disebar di berbagai titik strategis dan bekerja bersama Korlantas Polri untuk memastikan informasi arus lalu lintas bisa disampaikan cepat dan akurat.
Sementara itu BTV dan Beritasatu yang berada di bawah B-Universe bahkan melepas sekitar 190 tim liputan bertajuk “Mudik 2026”. Jumlah yang tidak kecil. Artinya hampir di setiap simpul transportasi penting ada reporter yang siap memberi laporan langsung.
Garuda TV memilih pendekatan berbeda melalui program “Waktunya Mudik 2026” yang tidak hanya memantau jalur darat, tetapi juga pergerakan pemudik melalui laut dan udara.
Nusantara TV pun tidak ketinggalan dengan program “Mudik Yuk!”, sementara Transmedia menggabungkan kekuatan Trans7 dan CNN Indonesia dalam laporan bertajuk “Ayo Mudiknya”.
Di balik layar semua siaran langsung itu ada kerja keras yang jarang terlihat oleh penonton. Reporter harus berdiri berjam-jam di tengah panas atau hujan.

Kameramen memikul peralatan berat sambil mencari sudut gambar terbaik. Produser di studio terus memantau perkembangan dari berbagai daerah.
Saya masih ingat cerita seorang reporter radio dari Elshinta yang melakukan ekspedisi mudik dari Jakarta menuju Sumatera. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam beberapa jam bisa berubah menjadi belasan jam karena kepadatan kendaraan.
Namun di situlah justru informasi paling penting lahir. Dari kursi mobil liputan, dari antrean pelabuhan, dari percakapan dengan para pemudik yang kelelahan tetapi tetap bersemangat pulang kampung.
Di tengah segala dinamika itu, informasi yang disampaikan media menjadi sangat krusial bagi masyarakat. Pada tahun 2026 ini, puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 18 Maret, sedangkan puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 24 Maret.
Rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah atau one way juga akan diberlakukan secara situasional. Puncak penerapan one way nasional diperkirakan terjadi pada H-2 Lebaran, dimulai dari KM 72 Tol Cipali hingga KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung.
Selain itu pemerintah juga menyiapkan berbagai program untuk membantu masyarakat pulang kampung dengan lebih nyaman.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, menyediakan program mudik gratis dengan kuota sekitar 26 ribu penumpang serta fasilitas pengangkutan sepeda motor menuju sekitar 20 kota tujuan. Kementerian Perhubungan juga menjalankan program serupa di berbagai wilayah.
Bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, waktu perjalanan juga menjadi faktor penting. Banyak ahli transportasi menyarankan perjalanan dimulai pada pagi hari antara pukul 04.00 hingga 06.00 WIB.
Selain jalan yang relatif lebih lengang, waktu tersebut juga membantu mengurangi risiko microsleep yang sering terjadi pada perjalanan malam.
Di era digital seperti sekarang, informasi mudik juga semakin mudah diakses. Siaran langsung televisi masih menjadi sumber utama untuk melihat perkembangan terbaru.
Breaking news dari berbagai kanal berita memberikan laporan menit ke menit dari lapangan.
Di luar televisi, media sosial juga memainkan peran penting. Akun Instagram resmi stasiun televisi sering menayangkan potongan video singkat yang cepat menyebar.
Bagi yang lebih suka menonton lewat gawai, layanan streaming seperti Vidio, YouTube resmi stasiun TV, atau website berita juga menyediakan siaran langsung yang bisa diakses dari mana saja.
Namun di balik semua teknologi itu, esensi jurnalisme tetap sama yakni manusia yang bekerja di lapangan. Reporter yang berdiri di pinggir jalan tol. Kameramen yang mengejar gambar kendaraan pemudik. Produser yang memastikan semua informasi sampai ke layar televisi tepat waktu.
Mereka mungkin tidak ikut mudik seperti jutaan orang lainnya. Tetapi melalui laporan mereka, jutaan pemudik bisa pulang dengan lebih aman.
Dan mungkin di situlah makna lain dari mudik yang jarang kita sadari. Ada orang-orang yang tetap berada di jalan, bukan untuk pulang, melainkan untuk memastikan orang lain bisa sampai ke rumah dengan selamat.
Cerita lain yang tersembunyi di balik gegap-gempita orang ramai-ramai pulang “Mudik ke kampung halaman”.
