Menanti Energi Baru di PAM Bandarmasih
Foto Ilustrasi - Tiga Direksi Baru PAM Bandarmasih, Zulbadi, Direktur Umum dan Pemasaran, Hj Yulia Riana Sari, dan Direktur Operasional, Irwan Firmana.(Foto - Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Penetapan tiga direksi baru di tubuh PAM Bandarmasih untuk periode 2026–2031 menjadi momen penting bagi perjalanan perusahaan daerah yang memegang peran strategis dalam kehidupan warga kota.
Di balik keputusan Rapat Umum Pemegang Saham, publik tentu berharap lahirnya energi baru yang mampu membawa perusahaan ini bergerak lebih cepat, lebih responsif, dan lebih profesional dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat.
Air bersih bukan sekadar komoditas layanan. Ia adalah kebutuhan hidup yang paling fundamental. Di kota sungai seperti Banjarmasin, paradoks ketersediaan air selalu menjadi tantangan tersendiri.
Air melimpah di alam, tetapi tidak selalu mudah diubah menjadi air bersih yang layak konsumsi dan dapat mengalir stabil ke setiap rumah warga.

Karena itu, penunjukan Zulbadi sebagai Direktur Utama bersama Hj Yulia Riana Sari dan Irwan Firmana bukan hanya soal pergantian struktur manajemen. Ia adalah titik awal bagaimana arah kebijakan pelayanan air kota akan ditentukan dalam lima tahun ke depan.
Dari sudut pandang seorang jurnalis, kepemimpinan baru ini memikul tanggung jawab komunikasi yang tidak ringan. Dalam era keterbukaan informasi, perusahaan layanan publik tidak lagi cukup hanya bekerja di balik meja operasional. Mereka juga harus mampu membangun komunikasi publik yang transparan, jujur, dan konsisten.
Publik perlu mengetahui apa yang sedang dikerjakan perusahaan, tantangan apa yang dihadapi, dan bagaimana solusi yang disiapkan.
Di sinilah peran komunikasi strategis menjadi penting. Direksi harus mampu menjelaskan program-program perusahaan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Komunikasi yang baik akan membangun kepercayaan. Sebaliknya, komunikasi yang tertutup sering kali memunculkan spekulasi. Dalam konteks pelayanan air bersih, kepercayaan publik menjadi modal sosial yang sangat besar.
Sebagai perusahaan layanan publik, PAM Bandarmasih tidak hanya dituntut menghadirkan air di keran pelanggan. Namun juga harus mampu menghadirkan rasa kepastian bagi masyarakat bahwa layanan tersebut terus diperbaiki dari waktu ke waktu.
Dari perspektif akademik, pergantian direksi juga membuka ruang bagi perubahan cara pandang dalam mengelola perusahaan daerah. BUMD modern tidak lagi bisa dikelola dengan pendekatan birokratis semata.
Melainkan BUMD itu harus dikelola seperti korporasi profesional yang memiliki strategi bisnis, manajemen risiko, serta orientasi kinerja yang jelas.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa BUMD yang memiliki kinerja keuangan “moncer” hampir selalu ditopang oleh tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance.
Prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran harus menjadi fondasi dalam setiap pengambilan keputusan.
Selain tata kelola yang baik, kemampuan manajemen dalam mengelola risiko juga menjadi kunci. Industri air minum memiliki tantangan teknis yang tidak sederhana, mulai dari kualitas air baku, kondisi jaringan pipa yang menua, hingga pertumbuhan kebutuhan pelanggan yang terus meningkat.
Dalam situasi seperti itu, perusahaan memerlukan manajemen yang mampu melihat persoalan secara strategis. Bukan hanya memadamkan masalah jangka pendek, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Kinerja keuangan yang sehat juga menjadi indikator penting. BUMD tidak boleh sekadar bertahan hidup. Ia harus mampu tumbuh.
Perusahaan yang sehat umumnya memiliki rasio keuangan yang baik, efisiensi operasional yang terjaga, serta mampu memberikan kontribusi deviden kepada pemerintah daerah.
Namun orientasi profit tidak boleh menenggelamkan misi pelayanan publik. Di sinilah letak dilema klasik BUMD. Ia harus berjalan di dua kaki sekaligus, yakni sebagai entitas bisnis dan sebagai institusi pelayanan sosial.
BUMD berada dalam ruang yang unik. Ia beroperasi sebagai perusahaan, tetapi berada dalam bayang-bayang pemerintah daerah sebagai pemegang saham.
Karena itu, keseimbangan antara profesionalisme manajemen dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor yang sangat menentukan.

Di berbagai daerah, BUMD yang sukses biasanya didorong oleh kombinasi tiga faktor utama, muali tata kelola yang baik, inovasi layanan, hingga manajemen profesional. Tanpa tiga hal tersebut, sulit bagi perusahaan daerah untuk berkembang secara sehat.
Inovasi menjadi kata kunci berikutnya. Dunia pelayanan publik hari ini berubah cepat. Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Perusahaan air minum harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat pelayanan pelanggan.
Digitalisasi sistem pembayaran, layanan pengaduan berbasis aplikasi, hingga pemantauan jaringan distribusi secara real time adalah beberapa contoh inovasi yang kini menjadi standar baru dalam industri air minum.
Di sisi lain, kekuatan sumber daya manusia juga tidak boleh diabaikan. Perusahaan yang kuat selalu ditopang oleh human capital yang kompeten. Budaya kerja yang berintegritas, disiplin, dan berorientasi pada pelayanan harus terus ditanamkan di setiap lini organisasi.
Direksi baru tentu memiliki pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Mereka harus memperkuat koordinasi internal, memastikan setiap unit kerja berjalan efektif, sekaligus mendorong semangat inovasi di lingkungan perusahaan.
Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepemimpinan baru ini akan kembali pada satu hal sederhana, apakah air bersih benar-benar mengalir lebih baik ke rumah-rumah warga.
Jika dalam lima tahun ke depan setiap warga Banjarmasin dapat menikmati layanan air yang lebih andal, merata, dan berkelanjutan, maka keputusan memilih direksi baru ini dapat dikatakan sebagai langkah yang tepat.
Publik tentu berharap, kepemimpinan baru di PAM Bandarmasih tidak hanya menghadirkan perubahan administratif, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata dalam kualitas pelayanan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan layanan publik selalu diukur dari satu indikator paling sederhana, sejauh mana ia mampu hadir dalam kehidupan masyarakat, secara konsisten, setiap hari.Air mengalir sampai jauh !

