Bingka Banjar dan Jejak Peradaban Melayu
Foto Ilustrasi - Bahkan nama “bingka” sendiri memiliki kemiripan dengan berbagai kue di kawasan Asia Tenggara, seperti bibingka di Filipina atau bingka ubi di Malaysia dan Brunei. (Foto - Risanta).
oleh : Muhammad Risanta
Ramadan itu ada nostalgia yang dirasakan, terutama mereka orang Banjar yang ada di mana saja. Seperti saya yang selalu merindukan jajanan kuliner Banjar,mulai Selada Banjar, nasi kuning, soto Banjar, Ketupat Kandangan hingga wadai-wadai Banjar.
Namun yang berkesan sejak kecil hingga usia dewasa adalah Wadai Bingka. Wadai dalam bahasa Banjar adalah kue. Nah menjelang waktu berbuka puasa di Banjarmasin, aroma santan dan telur yang dipanggang perlahan menyebar dari dapur-dapur kecil di sudut kota. Di pasar wadai Ramadan, orang-orang berdiri mengantre di depan loyang-loyang kue berbentuk bunga dengan warna kuning keemasan.
Itulah Bingka Banjar, kue yang bagi masyarakat Kalimantan Selatan bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari memori budaya yang panjang.
Bingka selalu hadir dalam suasana Ramadan. Ia menjadi takjil yang diburu menjelang magrib, tetapi juga kue yang hampir pasti ada di meja tamu saat Idulfitri.
Namun di balik kelembutan teksturnya, bingka menyimpan cerita lebih besar tentang sejarah masyarakat Banjar dan keterhubungannya dengan dunia Melayu.
Kue ini, jika ditelusuri lebih jauh, adalah saksi bisu dari jaringan perdagangan maritim, migrasi budaya, serta pertukaran tradisi kuliner yang telah berlangsung berabad-abad di kawasan Asia Tenggara.

Sungai, Perdagangan, dan Peradaban Banjar
Menilik sisi sejarah dan melihat berbagai literatur, sejarah masyarakat Banjar tidak bisa dipisahkan dari sungai. Kota Banjarmasin tumbuh di kawasan delta sungai yang sejak lama menjadi jalur perdagangan penting di Kalimantan bagian selatan.
Para sejarawan mencatat bahwa wilayah ini telah terhubung dengan jaringan perdagangan Melayu sejak masa kerajaan maritim seperti Sriwijaya pada abad ke-7 hingga ke-13. Kekuasaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatra membangun jaringan perdagangan luas yang mencakup Selat Malaka, pesisir Kalimantan, hingga Laut Jawa.
Melalui jalur perdagangan inilah berbagai komoditas seperti rempah-rempah, kapur barus, damar, hingga hasil hutan dari Kalimantan, dipertukarkan dengan tekstil India, keramik Tiongkok, dan tentu saja budaya kuliner dari berbagai wilayah.
Jalur perdagangan tersebut membentuk apa yang sering disebut para antropolog sebagai peradaban Melayu maritim. Dalam peradaban ini, identitas budaya tidak dibentuk oleh batas wilayah politik, melainkan oleh jaringan perdagangan laut dan sungai.
Masyarakat Banjar, yang berkembang di kawasan muara sungai Barito dan Martapura, menjadi bagian dari jaringan besar ini.
Kuliner sebagai Artefak Budaya
Dalam antropologi, makanan sering dianggap sebagai “artefak budaya” sesuatu yang menyimpan jejak sejarah masyarakat yang menciptakannya.
Jika dilihat dari komposisi bahannya, bingka sangat mencerminkan karakter kuliner Melayu. Santan kelapa, telur, gula, dan tepung adalah bahan utama yang juga banyak digunakan dalam kue-kue tradisional di wilayah Melayu lain.
Bahkan nama “bingka” sendiri memiliki kemiripan dengan berbagai kue di kawasan Asia Tenggara, seperti bibingka di Filipina atau bingka ubi di Malaysia dan Brunei. Kesamaan ini bukan kebetulan. Karena ini adalah hasil dari proses pertukaran budaya yang berlangsung melalui jalur perdagangan maritim selama berabad-abad.
Dalam konteks ini, bingka Banjar sebenarnya adalah bagian dari keluarga besar kue Melayu yang menyebar di kawasan Nusantara.

Namun setiap daerah kemudian mengembangkan ciri khasnya sendiri.
Di Kalimantan Selatan, bingka memiliki bentuk bunga dengan lekukan khas pada loyangnya. Teksturnya lembut dengan rasa manis yang kuat, sementara aromanya berasal dari santan dan telur yang dipanggang perlahan.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa bingka dahulu merupakan salah satu kue yang disajikan dalam tradisi kuliner Kesultanan Banjar. Kerajaan yang berdiri sejak abad ke-16 itu memiliki hubungan erat dengan jaringan budaya Melayu di Nusantara.
Dalam tradisi kerajaan Melayu, makanan sering menjadi simbol status sosial sekaligus alat diplomasi budaya. Hidangan yang disajikan dalam upacara kerajaan biasanya mencerminkan kekayaan bahan pangan lokal sekaligus pengaruh kuliner dari wilayah lain.
Bingka kemungkinan besar berkembang dari tradisi tersebut, sebelum akhirnya menjadi makanan rakyat yang populer di berbagai lapisan masyarakat Banjar.
Seiring waktu, kue ini tidak lagi hanya hadir dalam lingkungan istana atau upacara adat. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun bingka tetap mempertahankan posisi penting dalam tradisi Banjar, terutama dalam berbagai acara keluarga seperti pernikahan, selamatan, hingga kelahiran anak.
Dalam budaya Banjar bahkan dikenal tradisi “41 macam kue”, yaitu ragam wadai tradisional yang biasanya disajikan dalam acara adat. Bingka hampir selalu menjadi salah satu kue utama dalam daftar tersebut.
Bingka dan Ritual Ramadan
Disinilah keunikan dan perhatian luar biasa terhadap Bingka. Karena ada satu momen ketika bingka mencapai puncak popularitasnya, itu adalah bulan Ramadan.
Di Banjarmasin dan kota-kota lain di Kalimantan Selatan,bahkan ke Kalimantan Tengah dan Timur, Ramadan identik dengan pasar wadai pasar musiman yang menjual berbagai kue tradisional untuk berbuka puasa.
Di antara puluhan jenis wadai yang dijajakan, bingka hampir selalu menjadi primadona.
Mengapa bingka begitu identik dengan Ramadan?
Jawabannya mungkin sederhana. Kandungan santan, telur, dan gula memberikan energi cepat setelah seharian berpuasa. Teksturnya yang lembut juga membuatnya mudah dinikmati saat berbuka.
Namun ada alasan budaya yang lebih dalam.
Ramadan dalam tradisi Melayu bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan. Makanan yang disajikan saat berbuka sering kali menjadi simbol kehangatan keluarga dan solidaritas sosial.Ini juga menjadi bagian sehari-hari Urang Banjar.
Bingka, dengan bentuknya yang cantik dan rasanya yang manis, menjadi bagian dari simbol tersebut.
Ia tidak hanya dimakan sendiri, tetapi sering dibawa sebagai buah tangan ketika berkunjung ke rumah kerabat atau tetangga.

Menariknya, bingka tetap bertahan hingga hari ini meskipun dunia kuliner terus berubah.Inilah mengapa tangan dan pikiran saya tergerak untuk menulis kisah panjang wadai Bingka di momen Ramadan kali ini.
Terus terang di tengah maraknya makanan modern dan jaringan restoran cepat saji, kue tradisional seperti bingka justru tetap memiliki tempat di hati masyarakat Banjar.
Ada beberapa faktor yang menjelaskan ketahanan ini.
Pertama, bingka memiliki identitas budaya yang kuat. Ia bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kedua, resep bingka relatif sederhana namun fleksibel. Dari resep dasar yang sama, muncul berbagai variasi seperti bingka kentang, bingka pandan, bingka tapai, hingga bingka labu.
Ketiga, munculnya produsen bingka legendaris di Kalimantan Selatan turut menjaga popularitas kue ini. Nama-nama seperti Bingka Mama Haji Gusti, Bingka Thamrin Salon, Bingka Bunda, hingga Bingka H. Kaitah menjadi bagian dari sejarah kuliner Banjar modern.
Tempat-tempat ini bukan hanya menjual kue, tetapi juga menjaga resep tradisional yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Bingka sebagai Identitas Melayu Banjar
Jika ditarik lebih jauh, bingka sebenarnya merupakan simbol dari identitas budaya Melayu yang berkembang di Kalimantan Selatan.
Budaya Banjar sendiri lahir dari pertemuan berbagai pengaruh Melayu, Dayak, Jawa, hingga Arab. Namun dalam banyak aspek terutama bahasa, adat, dan kuliner, ternyata pengaruh Melayu sangat dominan.
Bingka adalah salah satu bukti nyata dari pengaruh tersebut.
Melalui kue sederhana ini, kita dapat melihat bagaimana tradisi kuliner menjadi media yang menghubungkan masyarakat Banjar dengan dunia Melayu yang lebih luas.
Ia menjadi semacam “arsip rasa” yang menyimpan memori sejarah panjang hubungan budaya di kawasan Nusantara.Sebuah warisan rasa yang perlu kita jaga sepanjang masa.

