Bingka Banjar, Manis yang Bertahan dari Dapur Ramadan ke Meja Lebaran
Bingka kuliner Banjar yang selalu hadir di meja berbuka, dan tetap bertahan hingga hari raya Idul Fitri. (Foto - Risanta , Model : Diana & Endy).
Di banyak rumah di Banjarmasin dan Banjarbaru, menjelang azan magrib di bulan Ramadan, aroma santan dan telur yang dipanggang sering kali menyelinap keluar dari dapur-dapur kecil.
Aromanya lembut, manis, dan hangat pertanda satu kudapan khas Banjar sedang matang, wadai bingka.
Bagi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, bingka bukan sekadar kue. Kuliner khas Banua ini adalah bagian dari ritus sosial Ramadan makanan yang selalu hadir di meja berbuka, dan tetap bertahan hingga hari raya Idul Fitri.
Di pasar-pasar takjil, orang rela antre panjang demi mendapatkan bingka yang masih hangat dari oven. Bahkan di beberapa tempat, bingka sering habis sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Jejak Sejarah dari Dapur Melayu
Secara historis, bingka Banjar diyakini memiliki hubungan erat dengan tradisi kuliner Melayu dan Timur Tengah yang masuk ke Kalimantan melalui jalur perdagangan sejak abad ke-17.
Para pedagang Arab dan Gujarat membawa teknik membuat kue berbahan telur, santan, dan gula. Resep ini kemudian beradaptasi dengan bahan lokal yang melimpah di Kalimantan Selatan terutama santan kelapa dan tepung.
Dalam khazanah kuliner Banjar, bingka termasuk dalam kelompok wadai 41, yaitu 41 jenis kue tradisional yang dahulu disajikan dalam berbagai upacara adat Banjar.
Namun di antara puluhan jenis wadai itu, bingka memiliki tempat istimewa. Teksturnya lembut seperti custard, tetapi bagian atasnya sedikit karamela akibat proses pemanggangan.
Bentuknya yang menyerupai bunga juga memiliki filosofi, yaitu melambangkan keberkahan dan keindahan hidup.

Mengapa Bingka Selalu Diburu Saat Ramadan
Setiap Ramadan, fenomena yang sama selalu terjadi masyarakat berburu bingka untuk berbuka puasa.
Ada beberapa alasan mengapa bingka begitu populer.
Pertama, rasanya ringan namun mengenyangkan. Kombinasi telur, santan, dan gula menghasilkan energi cepat setelah seharian berpuasa.
Kedua, aromanya sangat khas. Ketika bingka baru keluar dari oven, campuran santan, pandan, dan karamel menciptakan wangi yang menggoda.
Ketiga, nilai nostalgia. Banyak orang Banjar mengenang bingka sebagai kue yang selalu ada di meja keluarga sejak kecil.
Karena itu, membeli bingka saat Ramadan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang menjaga memori keluarga.
Legenda Bingka di Banua
Seiring waktu, beberapa pembuat bingka menjadi legenda di Kalimantan Selatan.
Nama-nama seperti Bingka Mama Haji Gusti (sekarang menetap di Palangkaraya) , Bingka Thamrin Salon, Bingka Bunda, dan Bingka H. Kaitah sering disebut ketika orang berbicara tentang bingka terbaik.
Setiap tempat memiliki ciri khas. Ada yang terkenal dengan tekstur sangat lembut, ada pula yang unggul pada karamelisasi bagian atasnya. Sebagian mempertahankan resep keluarga yang diwariskan puluhan tahun.
Rahasia mereka sebenarnya sederhana bahan berkualitas, takaran presisi, dan kesabaran dalam memanggang.
Dari Takjil ke Meja Lebaran
Menariknya, bingka tidak hanya hadir saat berbuka puasa.
Pada hari Idul Fitri, bingka sering menjadi salah satu kue utama yang disajikan untuk tamu.
Teksturnya yang lembut dan rasanya yang tidak terlalu manis membuatnya cocok disantap bersama teh panas atau kopi.
Di banyak rumah Banjar, bingka bahkan dianggap sebagai simbol keramahan tuan rumah.
Menawarkan bingka kepada tamu adalah cara sederhana mengatakan: “Silakan menikmati rumah kami.”
Resep Legenda Bingka Banjar
Berikut salah satu resep bingka Banjar klasik yang banyak diwariskan di dapur-dapur keluarga Banua.
Bahan:
10 butir telur ayam
250 gram gula pasir
500 ml santan kental dari 1 butir kelapa
150 gram tepung terigu
50 gram margarin, lelehkan
1/2 sendok teh garam
1 sendok teh vanili
2 lembar daun pandan, haluskan dengan santan
1 sendok makan susu kental manis (opsional)
Cara Membuat:
Kocok telur dan gula hingga larut dan agak berbusa.
Masukkan santan pandan, aduk perlahan.
Tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit agar tidak menggumpal.
Masukkan margarin cair, garam, dan vanili.
Saring adonan agar teksturnya halus.
Tuang ke dalam loyang bingka berbentuk bunga yang sudah diolesi margarin.
Panggang dalam oven suhu 180°C selama 40–50 menit hingga bagian atas kecokelatan.
Dinginkan sebelum disajikan.
Hasilnya adalah bingka dengan permukaan karamel tipis, bagian dalam lembut, dan aroma santan yang kuat.
Warisan yang Tak Lekang .
Di tengah gempuran makanan modern, bingka tetap bertahan.
Bingka Banjar tidak sekadar kue tradisional. Ia adalah warisan rasa, yang menghubungkan generasi lama dan generasi baru.
Selama Ramadan masih dirayakan, selama keluarga masih berkumpul untuk berbuka dan menyambut Lebaran, selama itu pula bingka akan terus hadir di meja-meja rumah Banjar.
Manisnya mungkin sederhana.
Namun di baliknya, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, keluarga, dan ingatan kolektif masyarakat Banua.(Ridzky Husna).

