Satu Periode, Satu Lompatan Besar Andi Fitri & Gekrafs
Foto Ilustrasi - H Andi Fitri SE MM, Ketua DPW Gekrafs Kalsel.
Gekrafs Kalsel Mengubah Wajah Ekonomi Kreatif BanuaOleh Muhammad Risanta, Jurnalis Senior CNN – Akademisi
Di tengah dinamika ekonomi daerah yang terus bergerak, kehadiran organisasi kreatif sering kali dipandang sebagai pelengkap. Namun di Kalimantan Selatan, anggapan itu perlahan berubah.
Dalam satu periode kepemimpinan H. Andi Fitri SE MM, Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional Kalimantan Selatan tampil bukan sekadar sebagai komunitas, melainkan sebagai motor penggerak baru ekonomi kreatif Banua.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari konsistensi, konsolidasi, dan keberanian membangun ekosistem.
Menguatkan Fondasi, Merawat Ekosistem
Secara nasional, Gekrafs sepanjang 2024–2025 menunjukkan capaian signifikan dalam memperkuat 17 subsektor ekonomi kreatif. Organisasi ini menjelma sebagai jembatan antara pelaku kreatif, pemerintah daerah, dan bahkan pasar global.
Ekspansi kepengurusan hingga menjangkau 240 kabupaten/kota menjadi bukti bahwa ekraf tidak lagi terpusat di kota-kota besar, tetapi mulai tumbuh di akar rumput.

Di Kalsel, Andi Fitri menerjemahkan semangat itu dalam kerja nyata. Ia tidak memulai dari proyek besar yang gemerlap, melainkan dari penguatan jaringan.
Konsolidasi DPW dan DPC dilakukan secara intensif. Forum-forum diskusi, pelatihan, serta ruang kolaborasi diperbanyak. Ekosistem yang dibangun melibatkan akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, dan media, sebuah pendekatan pentahelix yang menjadi fondasi gerakan.
Hasilnya mulai terlihat. Gekrafs Kalsel tidak lagi hanya dikenal sebagai organisasi seremonial, melainkan sebagai simpul koordinasi lintas subsektor, dari kuliner, kriya, fesyen, film, musik, hingga digital kreatif.
Program Terbaik di Bawah Kepemimpinan Andi Fitri
Ada beberapa program yang menandai periode kepemimpinan ini sebagai fase transformasional.
Pertama, penguatan kapasitas pelaku kreatif melalui pelatihan literasi digital dan manajemen usaha. Pelaku UMKM kreatif didorong memahami branding, pemasaran digital, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Kedua, integrasi produk lokal dalam berbagai event daerah. Produk kreatif tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap pameran, tetapi menjadi identitas acara.
Ketiga, pembukaan akses jejaring lintas provinsi. Melalui koordinasi dengan pengurus wilayah lain, Gekrafs Kalsel ikut mengambil bagian dalam misi dagang dan promosi kreatif nasional.
Keempat, dukungan terhadap pengembangan KaTa (Kabupaten/Kota) Kreatif. Pendampingan ini bukan sekadar administratif, tetapi menciptakan kesadaran bahwa kreativitas adalah aset ekonomi yang dapat diukur dan ditumbuhkan.
Kelima, penyelarasan dengan program prioritas nasional “Asta Karya” 2025–2030, yang menitikberatkan pada penguatan pelaku, akses pendanaan, perlindungan HKI, serta perluasan pasar.
Dalam konteks ini, Andi Fitri bukan hanya memimpin organisasi, tetapi merawat optimisme.
Mengembangkan 17 subsektor bukan perkara mudah. Diperlukan visi jangka panjang yang terstruktur namun lentur menghadapi perubahan zaman.
Pertama, pemetaan potensi unggulan daerah. Tidak semua subsektor harus dipaksakan tumbuh bersamaan. Kalsel dapat memprioritaskan kriya berbasis budaya Banjar, kuliner khas, serta konten digital yang mengangkat kearifan lokal.
Kedua, inkubasi bisnis kreatif. Gekrafs dapat membangun program inkubasi berbasis mentoring dan akses pembiayaan, agar pelaku kreatif naik kelas dari skala mikro ke skala komersial.
Ketiga, digitalisasi menyeluruh. Era pasar global menuntut kehadiran di ruang digital. Marketplace, media sosial, hingga platform ekspor harus menjadi ruang alami bagi produk Banua.
Keempat, diplomasi kreatif. Jika kain Indonesia bisa dibentangkan di Antwerp, Belgia, maka produk kreatif Kalsel pun memiliki peluang serupa. Dunia kini mencari keunikan, dan Banua memiliki itu.
Kelima, regenerasi kepemimpinan kreatif. Organisasi akan besar bila mampu melahirkan pemimpin baru di setiap DPC—mereka yang bukan hanya aktif, tetapi visioner.

Langkah Strategis Lanjutan
Agar Gekrafs Kalsel bertumbuh menjadi kekuatan besar yang bermanfaat bagi Banua, ada beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan.
Memperkuat basis data pelaku kreatif agar kebijakan berbasis bukti, bukan asumsi.
Mendorong kolaborasi lintas subsektor untuk melahirkan produk inovatif.
Membangun kemitraan berkelanjutan dengan perguruan tinggi sebagai pusat riset dan inovasi.
Serta memastikan keberlanjutan organisasi melalui tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Yang terpenting, menjaga ruh kolektifnya. Sebab kekuatan Gekrafs bukan pada figur semata, tetapi pada semangat persatuan yang menolak berjalan sendiri.
Satu periode kepemimpinan Andi Fitri telah membuktikan bahwa ekonomi kreatif bukan wacana. Ia bisa menjadi denyut ekonomi baru bila dirawat dengan konsisten.
Gekrafs Kalsel hari ini adalah cermin dari kerja kolektif yang terarah. Ia mungkin belum sempurna, tetapi telah menunjukkan arah yang jelas: menjadikan kreativitas sebagai kekuatan ekonomi, bukan sekadar ekspresi.
Banua membutuhkan lebih banyak ruang bagi gagasan, lebih banyak panggung bagi karya, dan lebih banyak jembatan menuju pasar. Jika fondasi ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin Kalsel akan berdiri sebagai salah satu episentrum ekonomi kreatif di Indonesia.
Dan sejarah kecil itu, setidaknya, telah mulai ditulis dalam satu periode kepemimpinan.

