Mudik, Jutaan Langkah Menuju Rumah

0
MUDIK LEBARAN

Foto Ilustrasi : Sepasang suami istri dan anaknya begitu bahagia saat ingin berangkat menggunakan kapal laut menuju kampung halaman. (Foto - Risanta).

Oleh : Olpah Sari

Setiap Lebaran, Indonesia bergerak. Jalan tol memerah oleh lampu rem, terminal dipenuhi koper dan kardus, pelabuhan berdesakan kendaraan, bandara tak pernah benar-benar sepi. Di balik semua itu, ada satu kata yang menyatukan jutaan orang, yakni pulang.

Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Tapi adalah gerak sosial terbesar di negeri ini. Data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah pemudik dalam beberapa tahun terakhir kerap menembus angka lebih dari 100 juta orang.

Angka itu tentu bukan sekadar statistik. Karena yang satu ini adalah jutaan cerita, jutaan rindu, jutaan doa yang berjalan bersamaan menuju satu titik, rumah dan kampung halaman.

Secara historis, mudik menguat sejak gelombang urbanisasi pada era 1970-an. Ketika kota-kota besar seperti Jakarta menjadi pusat pekerjaan dan harapan ekonomi, desa tetap menjadi pusat akar dan identitas.

Lebaran menjadi momen sakral untuk kembali, meneguhkan bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, ia tetap punya kampung halaman.

Penelitian mobilitas penduduk oleh Badan Pusat Statistik mencatat bahwa arus terbesar berasal dari kawasan Jabodetabek menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatra.

Fenomena ini disebut para ahli transportasi sebagai lonjakan mobilitas musiman ekstrem, sebuah tantangan logistik yang hanya terjadi dalam waktu singkat namun berdampak nasional.

 

Foto Ilustrasi – Mudik adalah perjalanan spiritual yang memberikan makna akan pulang dan silaturahmi di hari lebaran. (Foto – RIsanta).

Namun di balik teori dan angka, mudik selalu tentang manusia.

Tentang seorang ayah yang menabung setahun penuh demi tiket kereta agar anaknya bisa sungkem pada nenek. Tentang ibu yang menyiapkan oleh-oleh sederhana, meski harus berbagi dengan kebutuhan rumah tangga.

Tentang anak-anak yang tak sabar menghitung hari untuk bermain di sawah, sungai, atau halaman luas yang tak mereka temui di kota.

Setiap daerah punya wajah mudik yang berbeda. Di Jawa, perjalanan panjang identik dengan kemacetan di jalur pantura atau padatnya rest area di tol trans-Jawa.

Di Sumatra, antrean kendaraan di pelabuhan menjadi pemandangan khas. Di Sulawesi, perjalanan darat melintasi pegunungan memakan waktu berjam-jam.

Di pedalaman Kalimantan, sungai adalah jalan raya dan perahu motor membawa keluarga menyusuri arus cokelat menuju desa-desa di hulu.

Semua berbeda rute, tapi satu tujuan.

Kilas balik mudik juga menyimpan kisah-kisah yang tak biasa. Pada masa pandemi Covid-19, ketika pembatasan wilayah diberlakukan, ada pemudik yang nekat bersembunyi di dalam mesin molen truk demi bisa lolos dan tiba di kampung halaman. Tindakan berbahaya itu tentu tak patut ditiru, tetapi menjadi potret betapa kuatnya dorongan untuk pulang.

Ada pula cerita tentang satu keluarga yang menempuh perjalanan jauh menggunakan bajaj dari Jakarta ke kampung halaman di Jawa Barat. Lambat, panas, dan melelahkan namun penuh tekad. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan perjalanan hati.

Di pedalaman Kalimantan, mudik bisa berarti menembus sungai berjam-jam dengan perahu kayu. Angin menyentuh wajah, hutan berdiri sunyi di kanan-kiri, dan suara mesin tempel menjadi irama perjalanan. Sesampainya di dermaga kecil, perjalanan mungkin masih dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri tanah merah. Tapi ketika rumah kayu terlihat di kejauhan, semua lelah luruh seketika.Himung (gembira) tak terkira.

Mudik selalu menghadirkan paradoks, lelah sekaligus bahagia, macet sekaligus hangat, panjang sekaligus dinanti.

Karena pada akhirnya, mudik bukan tentang seberapa cepat tiba. Ia tentang siapa yang menunggu di sana. Tentang ibu yang berdiri di depan pintu sejak pagi.

Tentang ayah yang pura-pura sibuk, padahal diam-diam menahan haru. Tentang pelukan yang tak bisa digantikan pesan singkat atau panggilan video.

Jutaan langkah itu bergerak serentak setiap tahun. Mereka membawa koper, kardus, cerita, dan harapan. Mereka mungkin datang dari profesi berbeda, latar belakang berbeda, bahkan keyakinan yang berbeda. Tetapi saat Lebaran tiba, semuanya menyatu dalam satu perjalanan bernama pulang.

Mudik adalah bukti bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah kita adalah tempat di mana nama kita dipanggil dengan nada paling lembut.

Dan selama rindu masih ada, selama kampung halaman masih menyimpan pelukan, jutaan langkah itu akan terus berjalan menuju rumah.Ada haru dan rindu.

Olpah Sari – Jurnalis – Sekaligus Pemimpin Umum Media Online Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!