Aroma Uang Baru di Ujung Ramadan
Foto Ilustrasi - Suasana gembira anak di kampung merayakan lebaran dan mendapat uang pecahan Rupiah baru. (Foto - Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Ada aroma yang selalu kembali setiap Ramadan menjelang Idul Fitri, wangi khas kertas rupiah baru. Ia tipis, nyaris tak terdefinisi, tetapi sanggup menghidupkan kenangan masa kecil saya di Kampung Kelayan A, Banjarmasin.
Aroma itu bercampur dengan bau kue bingka yang baru keluar dari kukusan dan riuh anak-anak berlarian di titian kayu, menunggu pagi Lebaran dengan sabar yang setengah dipaksa.
Tradisi berbagi uang baru bukanlah fenomena kemarin sore. Sejak dekade 1980-an bahkan bisa ditarik lebih jauh ke era 1970-an, kebiasaan menukarkan uang pecahan kecil untuk dibagikan kepada anak-anak sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Lebaran di Indonesia.
Ketika pemerintah melalui otoritas moneter mulai menata sistem distribusi uang secara lebih modern pada akhir 1970-an, momentum Ramadan selalu menjadi musim puncak peredaran uang kartal.
Di Kampung Kelayan A, tradisi itu punya ritual sendiri. Sepekan sebelum Lebaran, orang-orang dewasa berbisik soal “uang baru”. Ada yang berangkat pagi-pagi ke bank. Ada pula yang menunggu jasa penukaran datang dengan sepeda motor, membawa tas hitam penuh gepokan uang kertas yang masih kaku.
Kami, anak-anak, tak pernah benar-benar peduli dari mana asalnya. Yang kami tahu, lembaran Rp1.000 atau Rp5.000 yang masih lurus tanpa lipatan terasa lebih istimewa dibanding nominalnya.
Saya masih ingat seorang teman masa kecil, Syahriyanto Ruslan, yang selalu memamerkan amplopnya. “Lihat, masih bau percetakan!” katanya sambil mengibas-ngibaskan uang itu ke udara.
Kami tertawa. Uang baru menjadi simbol status kecil-kecilan, nah siapa yang paling banyak, siapa yang pecahannya paling rapi. Namun lebih dari itu, ia adalah simbol perhatian orang tua, paman, dan tetangga, termasuk Kai dan nini (Kakek-nenek) kami di kampung.

Secara ekonomi, fenomena ini bisa dijelaskan. Ramadan dan Idul Fitri adalah musim lonjakan konsumsi. Permintaan uang tunai meningkat tajam untuk kebutuhan zakat, sedekah, THR, hingga tradisi berbagi kepada anak-anak. Tentu kalau mau jujur kita berterimakasih dengan peran Bank Indonesia yang begitu krusial.
Dalam lima tahun terakhir, tren penyediaan uang layak edar oleh Bank Indonesia menunjukkan pola yang konsisten meningkat menjelang Lebaran.
2021: sekitar Rp152 triliun disiapkan untuk kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri, dengan distribusi terbatas akibat pandemi.
2022: melonjak menjadi sekitar Rp175 triliun seiring pelonggaran mobilitas.
2023: meningkat signifikan menjadi sekitar Rp195 triliun, didorong pemulihan ekonomi dan mudik besar-besaran.
2024: mencapai kisaran Rp197–200 triliun, dengan penguatan layanan kas keliling dan penukaran digital terjadwal.
2025: kembali berada di kisaran Rp197 triliun lebih, dengan fokus pada pecahan kecil Rp1.000 hingga Rp20.000 yang paling diminati masyarakat.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ini adalah denyut perputaran ekonomi musiman yang menggerakkan pasar, pedagang kecil, hingga industri percetakan uang negara.
Bank Indonesia setiap tahun membuka layanan kas keliling, bekerja sama dengan perbankan nasional dan daerah, menghadirkan titik penukaran resmi di berbagai kota termasuk di Banjarmasin.
Di kota sungai ini, antrean penukaran uang selalu menjadi pemandangan khas Ramadan. Orang-orang datang dengan wajah sabar, sebagian membawa daftar kebutuhan pecahan. Mereka tidak sekadar menukar uang, yaitu tadi mereka sedang menyiapkan kebahagiaan kecil untuk dibagikan.
Mengapa harus uang baru? Secara rasional, uang lama pun tetap sah dan bernilai sama. Namun manusia tidak hidup dari rasionalitas semata. Ada dimensi simbolik yang bekerja.
Uang baru melambangkan kebersihan, pembaruan, harapan. Ia seolah-olah mengamini makna Idul Fitri, kembali suci, membuka lembaran baru.
Di Kelayan A Banjarmasin, kampung halaman, saat kecil setiap kali saya menerima amplop itu, saya merasa sedang memegang masa depan meski biasanya hanya bertahan beberapa hari sebelum habis untuk membeli mainan atau jajan di warung.
Namun sensasinya tinggal lebih lama daripada nominalnya. Hingga kini, setiap melihat antrean penukaran uang di Ramadan, saya selalu teringat titian kayu kampung, suara takbir yang menggema dari surau kecil, dan tawa teman-teman yang bangga memamerkan lembaran rupiah yang masih kaku.
Tradisi ini bertahan bukan karena nilainya besar, tetapi karena ia menyentuh sisi terdalam kebudayaan kita, tentang berbagi, memuliakan anak-anak, dan merayakan kebersamaan.
Bank Indonesia boleh menghitungnya dalam triliunan rupiah, tetapi bagi masyarakat, ia terhitung dalam senyum.
Dan mungkin, di suatu sudut kampung hari ini, ada anak-anak yang kembali mengendus aroma uang baru dengan mata berbinar seperti kami dulu di Kelayan A Banjarmasin.

