Jogokariyan dan Kisah yang Terhidang Saat Senja

2
RISANTA JOGOKARYAN JOGJA UTAMA

Foto Ilustrasi - Penulis dengan latar belakang Kampoeng Ramadan di kawasan halaman Masjid Jogokariyan Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto - Risanta).

Oleh : Muhammad Risanta

Sore itu, langit Yogyakarta tampak lebih teduh dari biasanya. Matahari menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh di atas bangunan-bangunan tua dan jalanan yang seolah tak pernah benar-benar sepi.

Saya dan sahabat saya, Syahriyanto Ruslan, berjalan tanpa tergesa. Tidak ada tujuan yang terlalu pasti, selain mengikuti arah langkah dan menikmati waktu yang terasa melambat selama Ramadan.

Sebuah perjalanan yang memang kami rencanakan untuk merasakan Ramadan disini.Perjalanan spiritual yang mengambil berkah Ramadan nan indah.

Kami menyusuri gang-gang yang dipenuhi aroma masakan rumahan. Dari dapur-dapur yang terbuka, tercium wangi santan, bawang goreng, dan gula jawa yang larut dalam rebusan kolak.

Sesekali terdengar suara anak-anak berlarian, diselingi tawa yang ringan dan bebas. Kota ini tidak pernah kehilangan caranya untuk terasa akrab dan istimewa.

Langkah kami akhirnya berhenti di pelataran Masjid Jogokariyan. Masjid itu berdiri sederhana, tetapi hidup.

 

Jemaah dan wisatawan berfoto di halaman Masjid Jogokariyan Yogjakarta yang selalu dipenuhi jemaah dari berbagai daerah di Indonesia. (Foto – Risanta).

Tidak hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai ruang yang bernapas oleh manusia-manusia yang datang dan pergi dengan niat yang sama,  mencari ketenangan, dan mungkin juga kebersamaan.

Kami tidak langsung masuk. Kami memilih duduk di tepi halaman, memperhatikan kehidupan yang perlahan berkumpul di sana.

Orang-orang berdatangan dari berbagai arah. Ada yang berjalan kaki, ada yang turun dari sepeda motor, ada pula yang datang berombongan. Wajah-wajah mereka berbeda, tetapi sorot matanya serupa tenang, seolah tahu bahwa mereka akan menemukan sesuatu di sini. Bukan hanya makanan, tetapi juga perasaan diterima.

Syahriyanto duduk di samping saya, diam, matanya mengikuti aktivitas para relawan yang mondar-mandir membawa nampan.
“Tempat seperti ini,” katanya pelan, “selalu punya cara membuat orang merasa tidak sendirian.”

Saya mengangguk. Dan merasa bersyukur bisa menapakkan langkah kesini, diantara deru langkah kesibukan bertahun-tahun yang tak berujung.Karenanya ketika diajak menyusuri Yogjakarta, begitu tiba kami langsung beranjak dari penginapan ke kawasan Masjid Jogokariyan yang terkenal itu.

Di halaman masjid, piring-piring mulai disusun rapi. Jumlahnya begitu banyak hingga tampak seperti barisan kecil yang menunggu perintah. Para relawan bergerak tanpa suara berlebihan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, seolah telah melakukannya seumur hidup.

Di seberang jalan, kawasan Kampoeng Ramadan Jogokariyan hidup dengan caranya sendiri. Lampu-lampu mulai menyala. Pedagang menata dagangan.

 

Foto Screenshot liputan Youtube -Dok Jalan Amrita.

Pembeli berjalan perlahan, sebagian berhenti, sebagian hanya melihat. Tidak ada yang terburu-buru. Semua orang tampaknya sepakat untuk memberi ruang bagi waktu.

Saya memperhatikan seorang lelaki tua yang duduk sendirian di barisan depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tenang.

Di sebelahnya, seorang anak muda duduk sambil memainkan ponsel, sesekali mengangkat kepala, memperhatikan sekitar. Mereka tidak saling bicara, tetapi duduk berdampingan tanpa canggung.

Di tempat ini, kebersamaan tidak selalu membutuhkan percakapan banyak.Tegur sapa dan keramahan memberi warna tersendiri yang hanya dirasakan dalam balutan silaturahmi sederhana.

Angin sore berembus pelan. Suara kendaraan dari kejauhan terdengar samar. Langit berubah warna, dari biru menjadi jingga, lalu perlahan menggelap.

Saya menyadari, perjalanan kami hari itu bukan tentang sejauh apa kami berjalan, tetapi tentang di mana kami berhenti. Syahriyanto tersenyum, matanya masih menatap halaman masjid.

“Kadang “yang kita butuhkan hanya berhenti sebentar. Namun bisa bertemu jemaah masjid dan ribuan orang dari berbagai kawasan dan daerah, adalah satu kebahagiaan tersendiri,”tutur pria yang merupakan Jurnalis Radio Elshinta Jakarta.

Tak lama kemudian, azan magrib berkumandang. Suaranya mengalir lembut, memenuhi udara, menyentuh setiap orang yang duduk menunggu. Para relawan bergerak. Piring-piring berpindah tangan. Orang-orang mulai berbuka, tidak dengan tergesa, tetapi dengan rasa syukur yang sederhana.

Saya memandang sekeliling, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Di tengah dunia yang sering bergerak terlalu cepat, sore itu memberi kami jeda.

Sebuah jeda yang mengingatkan bahwa kebahagiaan kadang hadir dalam bentuk yang paling bersahaja, duduk bersama, menunggu senja, dan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.Selamat berbuka puasa!.

Penulis adalah Seorang Jurnalis-Akademisi serta Humas Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kalsel.

 

2 thoughts on “Jogokariyan dan Kisah yang Terhidang Saat Senja”

  1. Aku kok merasa ada kemajuan yg sangat pesat dari narasi berita pak Risanta. Tidak kaku dan terasa pembaca terbawa suasana dan beritanya terasa mengalir asyik begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!