Selada Banjar, Tradisi yang Bertahan di Lintasan Zaman

0
DOSEN MUNIR SELADA BANJAR

Foto Ilustrasi - Penulis sedang memperlihatkan sajian kuliner khas Kalsel "Selada Banjar" yang selalu hadir di momen Ramadan. (Foto - Risanta).

Oleh : Abdul Munir

Setiap Ramadan, pesan-pesan itu selalu datang, seperti gema dari ingatan yang menolak pudar oleh waktu dan jarak.

“Pak Munir, Ramadan kami selalu ingat Banjarmasin. Kami ingat kuliner Selada Banjar yang selalu Bapak bawakan ketika berkunjung ke Yogyakarta dan Semarang.”

Pesan itu dikirim Ngadimun, sahabat lama yang kini menjalani masa pensiun di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak lama berselang, pesan serupa datang dari Bandung. Andi Suka, adik tingkat semasa kuliah di London, Inggris, menanyakan hal yang sama. Apakah di Pasar Wadai Ramadan tahun ini Selada Banjar masih dijual seperti dulu.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang keterikatan pada sebuah tempat, tentang rasa yang membawa pulang kenangan.

Memang, di tengah perubahan selera dan derasnya arus kuliner modern, Selada Banjar tetap bertahan sebagai bagian dari identitas masyarakat Banjar. Masakan yang satu ini tidak memerlukan kemasan baru untuk tetap relevan. Kehadirannya justru menemukan kekuatan dalam kesetiaan pada bentuk aslinya.

Di Banjarmasin dan berbagai wilayah Kalimantan Selatan, Selada Banjar menjadi bagian dari lanskap Ramadan yang nyaris tak tergantikan. Ia hadir di meja makan keluarga, di sudut-sudut Pasar Wadai, dan dalam tradisi berbuka bersama yang telah berlangsung lintas generasi.

Sejarahnya berjalan seiring perjalanan masyarakat Banjar itu sendiri. Nama “selada” diyakini berakar dari istilah salad yang diperkenalkan melalui interaksi dengan bangsa Eropa pada abad ke-19.

Namun masyarakat Banjar tidak menyalin begitu saja. Mereka mengolahnya dengan bahan yang akrab dengan kehidupan mereka, santan dari kelapa yang tumbuh di halaman, gula merah dari nira yang diolah sendiri, serta kentang dan telur yang kemudian menjadi bagian dari keseharian.

Dari dapur-dapur rumah, singkat cerita Selada Banjar menemukan bentuknya. Ia diwariskan bukan melalui catatan tertulis, melainkan melalui kebiasaan.

Seorang ibu mengajarkannya kepada anaknya, sebagaimana ia dulu mempelajarinya dari ibunya. Begitulah tradisi bekerja, yang sunyi, tetapi pasti.

Ramadan memberi ruang khusus bagi kehadiran Selada Banjar. Setelah seharian berpuasa, hidangan ini menjadi pembuka yang lembut. Kentang memulihkan tenaga, telur memberi kekuatan, dan sayuran segar menghadirkan keseimbangan.

Santan yang menyatukan semuanya menghadirkan rasa yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menenangkan.

Namun yang membuat Selada Banjar benar-benar bertahan bukan semata komposisinya, melainkan makna yang dibawanya. Karena kuliner ini  menjadi penghubung antara mereka yang tinggal dan mereka yang telah pergi.

Ia mengikat ingatan orang-orang Banjar, bahkan ketika mereka berada jauh dari tanah asalnya.Termasuk teman dan sahabat saya yang dulu berdinas di Kalimantan Selatan dan sekarang mereka balik ke kampung halamannya di negeri seberang.

Bagi mereka yang merantau, Selada Banjar bukan lagi sekadar hidangan. Ia adalah bagian dari rumah yang bisa dibawa dalam kenangan.

Pasar Wadai mungkin berubah dari tahun ke tahun. Generasi berganti, selera berkembang. Namun selama masih ada yang menanyakannya, selama masih ada yang merindukannya, Selada Banjar akan terus hidup.

Selada Banjar bukan sekadar makanan berbuka puasa. Penganan yang satu ini  adalah jejak rasa yang menolak hilang, tradisi yang berjalan tenang di lintasan zaman, dan pengingat bahwa identitas sebuah tempat sering kali hidup paling kuat di atas sepiring hidangan sederhana.

*Penulis adalah Budayawan & Dosen STIE Pancasetia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!