Mengenal Bingka Barandam, Manisnya Tradisi dari Tanah Banjar
Foto Ilustrasi - Salah satu wisatawan asal Jawa Timur, Poppy, menikmati kuliner Banjar, Bingka Barandam untuk menu berbuka puasa di pasar Wadai Ramadan. (Foto - Olpah Sari).
Di antara deretan wadai khas Banjar yang memenuhi meja berbuka puasa, bingka barandam memiliki tempat tersendiri. Wadai ini tidak mencolok seperti bingka panggang yang berwarna kuning cerah, dan tidak pula setenar amparan tatak yang berlapis rapi.
Namun, sekali mencicipinya, bingka barandam menghadirkan pengalaman rasa yang lembut, manis, dan sarat makna tradisi.Sebuah wadai yang selalu membuat kenangan indah bagi yang mencicipinya.
Kuliner ini bukan sekadar makanan penutup. Ia adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar, khususnya di wilayah Banjarmasin dan kawasan tepian sungainya yang sejak lama menjadi pusat peradaban Banjar.
Jejak sejarah dari dapur kesultanan hingga kampung sungai
Sejarah bingka barandam tidak dapat dilepaskan dari perkembangan budaya kuliner masyarakat Banjar sejak masa Kesultanan Banjar, yang berdiri pada abad ke-16 di wilayah Kalimantan Selatan.
Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Suriansyah sekitar tahun 1526, setelah proses Islamisasi yang dipengaruhi hubungan dagang dengan Jawa dan Malaka.
Pada masa itu, Banjarmasin berkembang sebagai bandar perdagangan penting di jalur sungai dan pesisir. Selain menjadi pusat ekonomi, istana kesultanan juga menjadi pusat perkembangan budaya, termasuk kuliner.
Banyak jenis wadai Banjar lahir dari perpaduan tradisi lokal dengan pengaruh Melayu dan Jawa, terutama dalam penggunaan bahan seperti santan, telur, dan gula aren.
Bingka sendiri diyakini merupakan salah satu kue yang awalnya berkembang di lingkungan bangsawan dan keluarga istana, karena bahan seperti telur dan gula pada masa itu tergolong bernilai tinggi.
Dari lingkungan istana, resep bingka kemudian menyebar ke masyarakat luas, mengalami adaptasi sesuai kondisi dapur rakyat.
Varian bingka barandam muncul sebagai bentuk inovasi lokal. Kata barandam dalam bahasa Banjar berarti “terendam,” merujuk pada penyajian bingka yang direndam dalam kuah gula merah atau gula pasir putih
Cara penyajian ini bukan hanya memperkaya rasa, tetapi juga memperpanjang daya tahan kue dalam iklim tropis yang lembap.
Seiring waktu, bingka barandam tidak lagi menjadi makanan eksklusif kalangan bangsawan. Kini menjadi milik masyarakat.
Jika merujuk sejarah pula, nama “bingka barandam” menyimpan makna sederhana namun khas. Bingka merujuk pada jenis kue berbahan dasar telur, santan, dan tepung, sementara barandam berarti terendam dalam kuah.
Kuah gula merah atau gula aren memberi karakter utama, manis, hangat, dan aromatik. Teksturnya lembut, padat, namun tetap basah karena menyerap kuah.
Rasa bingka barandam mencerminkan karakter kuliner Banjar tidak berlebihan, tetapi kaya rasa dan mengandalkan bahan alami.
Tradisi Ramadan dan lahirnya Pasar Wadai
Peran bingka barandam semakin kuat dalam tradisi Ramadan masyarakat Banjar. Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Banjar memiliki kebiasaan menyiapkan wadai sebagai hidangan berbuka puasa.
Tradisi ini berkembang seiring kuatnya pengaruh Islam sejak masa Kesultanan Banjar.
Pada masa lalu, masyarakat menjual wadai di pasar terapung dan pasar darat menjelang waktu berbuka. Aktivitas ini kemudian berkembang menjadi tradisi yang kini dikenal sebagai Pasar Wadai Ramadan.
Pasar wadai modern di Banjarmasin mulai terorganisasi secara resmi pada era 1980-an oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya Banjar. Setiap Ramadan, ratusan pedagang berkumpul menjual berbagai wadai tradisional, termasuk bingka barandam.
Pasar wadai tidak hanya menjadi pusat kuliner, tetapi juga simbol keberlanjutan tradisi yang telah berlangsung sejak masa kesultanan.
Di sana, bingka barandam selalu hadir—berjejer bersama puluhan jenis wadai lain yang diwariskan lintas generasi.
Bertahan di tengah modernisasi
Memasuki era modern, banyak kuliner tradisional menghadapi tantangan. Makanan cepat saji dan kue modern semakin mendominasi. Namun bingka barandam tetap bertahan, terutama karena perannya yang kuat dalam tradisi Ramadan dan budaya lokal.
Bingka Barandam terus diproduksi oleh pembuat wadai tradisional, dijual di pasar Ramadan, dan dibuat di dapur rumah sebagai bagian dari tradisi keluarga.
Keberadaannya menjadi pengingat akan kesinambungan sejarah—dari dapur kesultanan, ke pasar terapung, hingga ke pasar wadai modern.
Jika mau jujur menurut penggemar kuliner, Bingka barandam bukan hanya kue. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang masyarakat Banjar dari masa Kesultanan Banjar, kehidupan sungai, hingga tradisi Ramadan yang masih hidup hari ini di Banjarmasin.
Karena di setiap potongannya menyimpan cerita, tentang perdagangan sungai, tentang dapur keluarga, tentang Ramadan, dan tentang identitas sebuah masyarakat.
Manisnya bukan sekadar rasa.Bingka Barandam adalah warisan Urang Banjar.(Olpah Sari).

Foto nya bagus banget