Abdul Kadir dan Bubur Timur Tengah di Serambi Masjid Al-Furqon Martapura
Foto Ilustrasi - Abdul Kadir disela-sela kesibukan memasak bubur Timur Tengah untuk disajikan kepada warga dan jemaah masjid Al-Furqan Martapura di saat berbuka puasa. (Foto - Risanta).
Asap tipis mengepul dari tungku besar di serambi masjid. Aroma rempah, kapulaga, dan kaldu daging menyebar perlahan, bercampur dengan udara sore Martapura yang hangat.
Di hadapan panci logam berdiameter hampir satu meter, Abdul Kadir yang akrab disapa AB, serius mengaduk bubur dengan gerakan tenang dan terukur. Wajahnya tampak berkeringat, tapi senyumnya tak pernah lepas.
Setiap Ramadan, pemandangan itu selalu berulang di Masjid Al-Furqon Martapura, Kalimantan Selatan. Bersama sejumlah pengurus masjid, AB memulai aktivitas memasak sejak siang hari.
Ia memastikan bubur khas Timur Tengah yang disiapkan matang sempurna tepat sebelum azan Magrib berkumandang.
Bagi jemaah, bubur racikan AB bukan sekadar hidangan berbuka. Ia adalah bagian dari ritual Ramadan itu sendiri, sesuatu yang dinanti, sesuatu yang dirindukan di setiap Ramadan di Martapura.
Tradisi yang dirawat dengan tangan sendiri
Di tangan AB, bubur berbahan gandum, daging, dan rempah itu berubah menjadi sajian yang lembut dan gurih.Pria yang suka membaca buku ini, sesekali memeriksa kuah dari aroma sendok logam panjang, memastikan keseimbangan rasa tetap terjaga.
Di dekatnya, panci lain berisi air mendidih untuk menyeduh teh dan kopi khas Timur Tengah, lengkap dengan aroma kapulaga yang tajam namun menenangkan.
Dalam lima tahun terakhir, kehadiran AB di dapur masjid menjadi perhatian tersendiri. Bukan hanya karena keahliannya memasak, tetapi juga latar belakangnya. Ia adalah dosen di STIE Pancasetia Banjarmasin dan telah meraih gelar Doktor Ekonomi dari Universitas 17 Agustus Surabaya.

Namun di dapur masjid, gelar akademik seolah kehilangan relevansinya. Yang tersisa hanya seorang lelaki yang dengan sukarela melayani jemaah.
“Saya hanya ingin membantu orang berbuka puasa,” ujarnya suatu sore, sambil terus mengaduk bubur.
Tak ada kesan ingin dipuji. Baginya, memasak adalah bentuk ibadah yang sederhana.
Menyiapkan bubur untuk takjil atau berbuka puasa adalah tradisi sosial-keagamaan yang kuat di Indonesia. Di banyak daerah, masjid menjadi pusat kegiatan ini tempat warga berkumpul, berbagi tenaga, dan berbagi makanan.
Martapura memiliki tradisi itu. Setiap Ramadan, dapur masjid hidup oleh aktivitas sukarelawan. Ada yang memotong bahan, menyiapkan minuman, atau membersihkan peralatan. Semua bekerja tanpa imbalan.
AB adalah bagian dari ekosistem gotong royong itu. Ia tidak hanya memasak bubur, tetapi juga membantu menyiapkan teh dan kopi rempah. Minuman itu disajikan hangat, menjadi pelengkap berbuka yang menenangkan tubuh setelah seharian berpuasa.
Bagi banyak jemaah, momen berbuka di masjid bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan sosial merasakan kebersamaan.

Dari ruang kuliah ke dapur masjid
Di kampus, AB dikenal sebagai akademisi. Ia berbicara tentang ekonomi, teori pembangunan, dan dinamika pasar. Namun di masjid, ia berbicara dengan cara berbeda melalui tindakan.
Perpindahan dari ruang kuliah ke dapur masjid bukanlah kontradiksi, melainkan kelanjutan dari nilai yang sama sebuah pengabdian.
Ia tidak melihat aktivitas memasak sebagai sesuatu yang rendah. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai kesempatan untuk memberi.
Ramadan, bagi AB, adalah waktu untuk kembali ke hal-hal yang mendasar. Tentang berbagi, tentang melayani, menjadi bagian dari komunitas.
Menjelang Magrib, jemaah mulai berdatangan. Sebagian duduk bersila di lantai masjid, sebagian lagi berbincang pelan. Di sudut dapur, bubur telah siap disajikan.
AB menuangkan bubur ke dalam mangkuk satu per satu.
Tak lama kemudian, azan berkumandang.
Suara sendok yang menyentuh mangkuk menjadi penanda berakhirnya puasa hari itu.
Di tengah kesederhanaan itu, bubur yang dimasak AB menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah simbol kebersamaan bahwa Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang memberi makan.(Muhammad Irfani).
