Sabah, di Persimpangan Bisnis Global dan Wisata Muslim Berkelas

0
BU SANTI DI SABAH UTAMA

Penulis (baju biru) bersama peserta B2B Travel Agent Meeting (3 Februari 2026) dan 3rd International Business Events Forum bertema “Global Collaboration Through Business” yang berlangsung pada 4–5 Februari 2026 di Sabah International Convention Center (SICC).

Oleh: Shanti Probowati
Awal Februari 2026 membawa saya ke Kota Kinabalu, Sabah, dalam kapasitas sebagai Delegate Indonesia pada perhelatan B2B Travel Agent Meeting (3 Februari 2026) dan 3rd International Business Events Forum bertema “Global Collaboration Through Business” yang berlangsung pada 4–5 Februari 2026 di Sabah International Convention Center (SICC).

Bagi saya, perjalanan ini bukan hanya agenda bisnis lintas negara, melainkan pertemuan antara visi profesional dan pengalaman destinasi.

Sebagai pelaku industri Hajj & Umrah, Inbound–Outbound Muslim Tour, serta BNSP Certified Manager Tour & Tour Leader dan Ticketing Consultant, saya melihat Sabah sebagai simpul strategis yang menghubungkan pariwisata, MICE, dan pasar Muslim global.

Ruang Bisnis yang Terbuka, Dialog yang Setara

Forum internasional ini menghadirkan dinamika yang relevan dengan lanskap industri travel saat ini yakni kolaborasi, keberlanjutan, dan adaptasi terhadap kebutuhan pasar.

Diskusi tidak lagi berkutat pada kuantitas wisatawan, melainkan kualitas pengalaman dan nilai ekonomi yang adil bagi semua pihak.

 

Penulis di sela-sela rehat pertemuan Meeting (3 Februari 2026) dan 3rd International Business Events Forum bertema “Global Collaboration Through Business”. (Foto – Dok Santi).

Saya melihat kekuatan Sabah. Infrastruktur modern SICC berpadu dengan tata kota yang tenang dan efisien. Kota Kinabalu tidak berisik, tetapi percaya diri. Tidak agresif, namun jelas arah pengembangannya.

Di luar ruang konferensi, Sabah menawarkan narasi yang lebih personal. Akses makanan halal yang mudah, fasilitas ibadah yang terawat, serta keramahan masyarakat menjadikannya destinasi yang Muslim-friendly tanpa harus kehilangan karakter lokal.

Sebagai penyusun paket Muslim Tour, saya mencermati detail-detail kecil yang menentukan kenyamanan wisatawan, jarak antar destinasi, ritme kota, hingga keamanan bagi keluarga dan pebisnis.

Sabah itu memiliki semua prasyarat itu. Bahkan, potensinya sangat kuat untuk pengembangan MICE berbasis Muslim market dan paket pre maupun post-Umrah leisure yang berkelas.

Kota Kinabalu memberi pengalaman visual yang jarang ditemui, laut yang tenang berpadu dengan latar pegunungan. Sabah mengajarkan bahwa destinasi tidak harus memilih antara alam dan bisnis. Keduanya bisa tumbuh berdampingan, asalkan dikelola dengan visi jangka panjang.

Bagi saya, ini penting. Industri travel masa depan tidak bisa hanya menjual destinasi, namun ia harus menjual nilai. Nilai keberlanjutan, kenyamanan, dan rasa hormat terhadap budaya lokal.

Saya kembali ke Indonesia dengan lebih dari sekadar kartu nama dan proposal kerja sama. Saya membawa perspektif baru tentang bagaimana Asia Tenggara dapat menjadi pusat pariwisata Muslim global yang profesional, inklusif, dan berdaya saing tinggi.

Sabah memberi pelajaran bahwa kolaborasi global tidak selalu harus megah. Ia bisa dimulai dari kota yang tenang, dialog yang jujur, dan visi yang sejalan.

Catatan Penutup

“Sebagai perempuan entrepreneur Muslim, saya percaya perjalanan bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang memperluas makna. Ketika bisnis dijalankan dengan nilai, dan perjalanan ditempuh dengan adab, maka keberhasilan bukan sekadar profit—melainkan keberkahan.”
– Shanti Probowati –

*Penulis adalah Owner PT Shantika Hijarah Kencana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!