Carstensz Bukan Sekadar Puncak, Tapi Janji Masa Depan

0
ABBY PAPUA

Traveler Abby (Tengah) bersama Ketua Umum PB FMI Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, SE dan Ketua Umum PMA Maximus Tipagau, SE. (foto - Dok Abby).

Sebagai seorang traveler, nama Carstensz Pyramid selalu terdengar seperti legenda. Puncak bersalju di garis khatulistiwa, tebing batu yang menantang, dan lanskap Papua yang liar sekaligus sakral.

Namun selama ini, bagi banyak pelancong seperti saya, Carstensz bukan hanya sulit secara fisik, tetapi ia juga terasa jauh secara akses dan tata kelola.

Karena itu, ketika saya mendengar kabar penandatanganan MoU antara Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) dan Papua Mountaineering Association (PMA), ada rasa lega sekaligus harapan.

Sekedar diketahui Penandatanganan MoU dilaksanakan di Journey Coffee, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (07/02/2026). Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum PB FMI Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, SE dan Ketua Umum PMA Maximus Tipagau, SE.

Bagi traveler, ini bukan sekadar berita organisasi. Ini adalah sinyal bahwa Carstensz mulai dipandang bukan hanya sebagai “puncak tertinggi”, tetapi sebagai ruang hidup yang perlu dirawat bersama.

 

Penandatanganan MoU dilaksanakan di Journey Coffee, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026). Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum PB FMI Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, SE dan Ketua Umum PMA Maximus Tipagau, SE. Momentum ini dinilai sebagai tonggak penting bagi dunia mountaineering Indonesia, baik pada skala nasional maupun internasional.

Selama bertahun-tahun, cerita tentang Carstensz sering dibayangi birokrasi rumit, isu keselamatan, dan ketidakpastian di lapangan. Pendaki asing ragu, traveler lokal sering hanya bisa bermimpi.

Maka ketika saya membaca komitmen soal standarisasi keselamatan, zero accident, dan zero waste, rasanya seperti mendengar janji bahwa gunung ini akhirnya diperlakukan dengan hormat, bukan dieksploitasi, tapi dikelola.

Yang paling menyentuh bagi saya adalah penekanan pada masyarakat lokal. Sebab, sebagai traveler, pengalaman paling berharga bukan hanya mencapai puncak, melainkan bertemu orang-orang di kaki gunung, mendengar cerita mereka, dan tahu bahwa kehadiran kita membawa manfaat nyata.

Jika kerja sama FMI dan PMA benar-benar mendorong ekonomi lokal, maka Carstensz bukan lagi destinasi eksklusif, melainkan simbol keadilan pariwisata.

Carstensz juga punya makna global. Ia adalah satu-satunya Seven Summits di Asia Tenggara. Fakta bahwa “gunung dunia itu ada di Papua” seharusnya membuat kita bangga, sekaligus bertanggung jawab.

Sebagai traveler Indonesia, saya ingin melihat Carstensz dikenal dunia bukan karena tragedi atau konflik, tapi karena pengelolaan yang berkelas dan beretika.

Bagi saya pribadi, MoU ini menumbuhkan mimpi yang lebih realistis, suatu hari bisa menapakkan kaki di Papua sebagai tamu yang aman, terarah, dan diterima.

Bukan datang dengan rasa cemas, tapi dengan rasa hormat. Bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya.

Jika kolaborasi ini berjalan konsisten, Carstensz tidak hanya akan menjadi puncak tertinggi Indonesia. Ia akan menjadi contoh bagaimana alam, manusia, dan perjalanan bisa saling menguatkan.

Dan sebagai traveler bernama Abby, saya hanya berharap satu hal ketika suatu hari saya memandang Carstensz dari dekat, saya tahu gunung itu berdiri bukan karena ditaklukkan, tetapi karena dijaga bersama.

*Penulis adalah Seorang Traveler Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!