Menulis dengan Hati, Ketika Kata Menjadi Daya Dorong Perubahan

0
JURNALIS MERENUNG

Foto Ilustrasi - Seorang Jurnalis merenung panjang sebelum menuliskan berita peristiwa menyentuh hati tanpa menghilangkan sisi krtitis. (Foto - Risanta).

Oleh: Muhammad Risanta, SE, MM

Menulis bukan sekadar menyusun kata, apalagi hanya mengutip pernyataan narasumber lalu menutup berita dengan tanda titik. Menulis itu dalam makna jurnalistik yang sesungguhnya adalah kerja hati, kerja nalar, dan kerja keberpihakan pada kemanusiaan.

Penulis pun banyak mendapat inspirasi dan masukan dari berbagai diskusi dengan Jurnalis Senior dan Ahli serta kawan-kawan akademisi. Mengambil pesan penting mereka, bahwa tulisan memiliki daya dorong, mendorong kesadaran publik, mendorong empati kolektif, bahkan mendorong perubahan arah kebijakan pemerintah agar lebih berpihak kepada masyarakat.

Dalam setiap peristiwa bencana, seperti banjir yang berulang di Kalimantan Selatan dan Sumatera, jurnalis dihadapkan pada pilihan mendasar, sekadar melaporkan air yang naik dan rumah yang terendam, atau menyelami lebih dalam luka-luka sosial yang tersembunyi di balik genangan itu. Di situlah menulis dengan hati diuji.

Banjir bukan hanya soal curah hujan dan sungai yang meluap. Ia adalah cerita tentang ibu yang harus menggendong anaknya menembus air setinggi dada, tentang petani yang gagal panen, tentang warga yang kehilangan harapan karena banjir datang nyaris setiap tahun tanpa solusi nyata. Ketika jurnalis menulis dengan empati, pembaca tidak hanya “tahu” ada banjir, tetapi “merasakan” penderitaan mereka yang terdampak.

Di titik inilah tulisan jurnalistik berubah menjadi kekuatan sosial.

Tulisan yang lahir dari empati mampu menggugah pembuat kebijakan. Bukan dengan kemarahan yang membabi buta, melainkan dengan fakta yang disusun jujur, suara warga yang dihadirkan utuh, dan konteks yang dijelaskan secara adil.

Pemerintah kerap kali bergerak bukan hanya karena tekanan, tetapi karena tersentuh oleh realitas yang ditampilkan secara manusiawi dan bertanggung jawab.Begitu kata senior kami, Verdy, mantan Jurnalis yang sekarang banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial kemanusiaan.

Namun empati tidak berarti kehilangan sikap kritis. Justru sebaliknya. Jurnalisme yang berempati tetap berpedoman pada Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, akurat, berimbang, tidak menghakimi, serta menjunjung tinggi kepentingan publik. Kritik tetap disampaikan, tetapi dengan tujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan. Kontrol sosial tetap dijalankan, tetapi tidak kehilangan nurani.

Menulis yang berkualitas menuntut persiapan dan riset yang matang. Jurnalis tidak boleh berhenti pada satu kutipan pejabat atau satu pernyataan resmi. Kutipan hanyalah pintu masuk. Setelah itu, jurnalis wajib membuka ruang yang lebih luas, yakni menelusuri data, membaca kebijakan, mendengar suara warga, membandingkan janji dan realisasi, serta merangkai semuanya menjadi cerita yang utuh dan bermakna.

Tanpa riset, tulisan akan dangkal. Tanpa empati, tulisan akan kering. Tanpa keberanian bersikap, tulisan akan kehilangan daya dorongnya.

Di era banjir informasi seperti sekarang, masyarakat tidak hanya membutuhkan berita yang cepat, tetapi berita yang bermakna. Tulisan yang tidak sekadar mengabarkan apa yang terjadi, tetapi mengapa itu terjadi dan ke mana seharusnya kita melangkah.

Tulisan yang kritis, namun sekaligus menawarkan perspektif solusi entah melalui kebijakan lingkungan, tata ruang yang adil, atau keberpihakan anggaran bagi masyarakat rentan.

Menulis dengan hati bukan berarti menjadi lembek. Ia justru membuat jurnalis lebih tajam, lebih manusiawi, dan lebih bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kata-kata yang ditulis dengan empati akan hidup lebih lama daripada sekadar angka dan pernyataan formal.

Ketika tulisan mampu menggerakkan kesadaran, mengubah cara pandang, dan mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat, di situlah jurnalisme menemukan makna tertingginya. Bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penjaga nurani publik. Dan di situlah, menulis benar-benar menjadi kekuatan.

Penulis adalah seorang Jurnalis Senior dan Akademisi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!