Banjir Sungai Tabuk, Negara Datang ke Pengungsian

0
MENSOS-SYARIFUDIN

Menteri Sosial Saifullah Yusuf didampingi Sekdaprov Kalsel HM Syarifuddin serta Anggota DPD RI asal Kalsel, M Hidayatullah saat meninjau dapur umum Dinas Sosial - Tagana. (Foto - Dok Biro Adpim Kalsel).

Banjir yang melanda Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan bertahan di pengungsian. Di tengah kondisi itu, kehadiran negara menjadi penopang utama bagi warga terdampak, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga rencana pemulihan pascabencana.

Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meninjau langsung lokasi pengungsian di Puskesmas Desa Keramat, Minggu (04/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin yang mewakili Gubernur Kalsel H. Muhidin.

Di lokasi pengungsian, tercatat 218 jiwa dari 79 kepala keluarga masih bertahan akibat genangan banjir yang belum sepenuhnya surut. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi prioritas penanganan.

“Pemprov Kalsel terus melakukan pendampingan sejak awal banjir. Kami pastikan pengungsian, distribusi logistik, hingga pendataan untuk pemulihan berjalan,” ujar Muhammad Syarifuddin.

Menurutnya, kehadiran Menteri Sosial di Sungai Tabuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.

Bantuan Darurat hingga Jaminan Hidup

Gus Ipul menegaskan, dalam setiap fase kedaruratan, pemerintah menyiapkan dukungan logistik yang mencakup makanan siap saji, pakaian, kasur, tenda, dapur umum, hingga layanan psikososial.

“Ini kerja bersama. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, dan Polri hadir untuk memastikan pengungsi terlayani dengan baik,” kata Gus Ipul.

Selain bantuan darurat, pemerintah juga menyiapkan skema dukungan lanjutan. Bagi keluarga korban meninggal dunia, pemerintah menyalurkan santunan sebesar Rp15 juta. Sementara korban luka berat menerima bantuan Rp5 juta.

Pada tahap pemulihan, keluarga terdampak akan memperoleh bantuan isian rumah sebesar Rp3 juta serta jaminan hidup Rp450 ribu per orang per bulan selama tiga bulan. Pemerintah juga menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi warga dengan rumah rusak berat sembari menunggu proses rekonstruksi.

“Tujuannya agar keluarga terdampak bisa kembali bangkit secara bertahap, bukan hanya bertahan di masa darurat,” ujar Gus Ipul.

Di pengungsian, Gus Ipul menyempatkan diri berinteraksi dengan anak-anak korban banjir. Ia mengajak mereka bernyanyi bersama sebagai bagian dari pemulihan trauma. Kementerian Sosial juga menurunkan tim dukungan psikososial yang mengisi pengungsian dengan aktivitas bermain dan edukatif.

Salah satu pengungsi, Masjulia, mengaku terbantu dengan kehadiran pemerintah.

“Kami sangat terbantu, terutama soal makan, minum, kasur, selimut, dan sembako. Terima kasih atas perhatian pemerintah,” ujarnya.

Usai meninjau pengungsian, rombongan melanjutkan agenda ke Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru untuk melihat kesiapan Sekolah Rakyat, sebelum Gus Ipul kembali ke Jakarta.

Bagi warga Sungai Tabuk, banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi ujian ketahanan hidup. Di tengah genangan dan pengungsian, kehadiran negara menjadi penanda bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian.(Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!