Durian Buah Musim Hujan, Rasa yang Mengikat Ingatan

0
MAKAN DURIAN

makan durian bukan terburu-buru, tetapi duduk, berbagi, berbincang. Di teras rumah, di bawah tenda darurat pinggir jalan, atau di kebun tempat durian jatuh sendiri dari pohonnya.(Foto - Muhammad Irfani).

Tak banyak buah yang memantik perdebatan sekaligus kerinduan seperti durian. Ada yang mencintainya sepenuh hati, ada pula yang menjauh karena aromanya. Namun bagi mereka yang tumbuh di Asia Tenggara, durian bukan sekadar buah. Buah ini adalah pengalaman, ritual, dan ingatan kolektif, terutama ketika hujan turun dan malam terasa lebih panjang.Hem Romantis juga begitu kalau musim hujan mengkonsumsi durian.

Durian adalah buah musiman. Di Indonesia, musim panen utama biasanya jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun, sekitar November hingga Februari, bertepatan dengan musim hujan. Di beberapa daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Jawa bagian tertentu, durian juga bisa muncul pada panen kecil di pertengahan tahun, tergantung cuaca dan varietas.

Musim hujan memberi durian apa yang ia butuhkan, yakni air yang cukup untuk membentuk daging buah yang tebal, lembut, dan legit. Tak heran jika banyak penikmat durian meyakini bahwa durian terbaik justru lahir dari tanah yang basah dan udara yang dingin.

 

Saat kebersamaan menikmati buah durian di musim hujan. (Foto – M.Irfani).

Konon Hujan seakan “mematangkan” rasa, membuat durian lebih manis, pahitnya seimbang, dan aromanya lebih dalam.

“Kami biasanya pas awal tahun seperti ini makan durian ramai-ramai. Ini aja tadi bareng kawan-kawan berburu durian hingga ke Basarang, Kuala Kapuas, Kalteng. Rencana akhir pekan ke hulu sungai,” tutur Ratna, salah satu penggemar durian asal Banjarmasin.

Perempuan yang dikenal sebagai penggiat wisata kuliner ini mengaku jatuh cinta dengan durian sejak masih SD. Karenanya hampir setiap musim durian ia selalu menyempatkan diri menyantap durian bersama keluarga maupun kawan-kawan semasa sekolah.

Mengapa Musim Hujan Cocok untuk Durian

Ada alasan biologis dan psikologis mengapa durian terasa lebih nikmat saat hujan. Dari sisi tubuh, durian adalah buah tinggi kalori dan kaya lemak nabati, sehingga memberikan sensasi hangat setelah dikonsumsi. Saat udara dingin dan lembap, tubuh secara alami mencari sumber energi tambahan dan durian menjawabnya.

Dari sisi rasa, hujan menciptakan suasana yang memperlambat waktu. Orang makan durian bukan terburu-buru, tetapi duduk, berbagi, berbincang. Di teras rumah, di bawah tenda darurat pinggir jalan, atau di kebun tempat durian jatuh sendiri dari pohonnya. Hujan membuat durian terasa lebih intim.

Manfaat Durian bagi Tubuh

Di balik stigma “buah kolesterol”, durian sebenarnya menyimpan banyak manfaat jika dikonsumsi dengan bijak.

Durian kaya akan karbohidrat alami yang memberi energi cepat. Ia juga mengandung vitamin C, vitamin B kompleks, terutama B6, yang membantu metabolisme dan fungsi saraf. Kandungan kalium dalam durian baik untuk menjaga keseimbangan tekanan darah dan fungsi otot.

Durian juga mengandung serat, yang membantu pencernaan, serta senyawa antioksidan yang berperan melawan radikal bebas. Lemak dalam durian sebagian besar adalah lemak tak jenuh, yang dalam jumlah wajar masih bermanfaat bagi tubuh.

Yang sering dilupakan, durian memiliki efek meningkatkan mood. Kandungan triptofan dan karbohidratnya membantu produksi serotonin atau zat kimia otak yang berhubungan dengan rasa nyaman dan bahagia. Tak heran jika makan durian sering diakhiri dengan senyum puas dan rasa kantuk ringan.

Antara Kelezatan dan Kearifan

Durian mengajarkan satu hal penting, yaitu kenikmatan perlu batas. Terlalu banyak durian bisa membuat tubuh tak nyaman, karena panas, kembung, atau pusing. Karena itu, tradisi lama selalu menyertai durian dengan jeda, air putih, atau buah pendamping seperti manggis.

Di banyak daerah, durian juga menjadi medium sosial. Orang berbagi buah, bukan menghitung porsi. Durian dibuka bersama, dinilai bersama, dan diingat bersama. Bahkan cerita tentang durian sering lebih panjang dari rasa durian itu sendiri.

Di tengah dunia yang semakin cepat, durian mengajak kita melambat. Menunggu musimnya. Menunggu jatuhnya. Menunggu hujan reda. Ia tidak bisa dipaksakan, tidak bisa diseragamkan rasanya. Setiap durian punya karakter, rasa manis, pahit, legit, atau ringan seperti manusia.

Mungkin itu sebabnya durian bertahan bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai warisan rasa. Ia menghubungkan tanah, cuaca, tubuh, dan ingatan dalam satu gigitan.

Dan ketika hujan turun di malam hari, lampu temaram menyala, lalu kulit durian dibelah kita tahu, musim sedang berada di puncaknya.Hem nikmatnya saat musim hujan ini makan durian. (Muhammad Irfani).

Muhammad Irfani aldalah Jurnalis Economic Travelling.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!