Kisah Inspiratif Ratna, Menjaga Kelestarian Soto Banjar
Warung Soto Banjar Ratna salah satu warung makanan ikonik Banjarmasin yang berada di kawasan Jalan Pekapuran A, Banjarmasin Tengah. (Foto-Ridzky Husna).
Ratna adalah potret perempuan tangguh yang melangkah pelan namun pasti. Ia menjaga akar tradisi sambil menatap masa depan. Di tangannya, warisan leluhur urang Banjar tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali melalui rasa lewat sepiring Soto Banjar yang kini dikenal hingga ke luar daerah.
Usaha yang dijalani Ratna berawal dari dapur sederhana. Sebuah usaha turun-temurun yang tumbuh lintas generasi. Namun sentuhan tangan dingin Ratna menjadikan warisan itu lebih dari sekadar peninggalan keluarga.
Dengan ketekunan dan kecintaannya pada tradisi, Soto Banjar racikannya menjelma sebagai kuliner ikonik yang tetap bisa dijumpai di perkampungan tempo dulu, Pekapuran A, Banjarmasin, tempat rasa dan kenangan berpadu.
Ratna adalah salah satu pedagang Soto Banjar legendaris di Banjarmasin. Ia mulai sepenuhnya mengelola usaha setelah warung soto keluarga diserahkan kepadanya, seiring kepergian kedua orang tuanya.
Sejak kecil, Ratna telah akrab dengan aroma rempah dan kepulan uap soto. Ia membantu orang tuanya berjualan di kawasan Pekapuran A, Kelurahan Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

Warung Soto Banjar milik keluarganya dikenal sebagai salah satu perintis dan legenda soto Banjar di kawasan padat penduduk tersebut.
“Almarhum abah sebelum meninggal meminta ulun untuk meneruskan dan menjaga warisan leluhur, kuliner Soto Banjar. Sebagai urang Banjar, ulun merasa terpanggil untuk merawat dan menjaganya dengan baik, termasuk mempertahankan cita rasa yang selalu dikenang pelanggan,” tutur Ratna, perempuan yang juga memiliki hobi travelling itu.
Kepiawaian Ratna sebagai master chef tanpa penghargaan formal tak hanya berhenti pada Soto Banjar dan nasi sop. Ia juga mengembangkan berbagai kreasi masakan berbahan dasar mi. Salah satu menu andalannya adalah Mie Bancir khas Banjar, selain ikan bakar yang turut menjadi favorit pelanggan.
“Ini karena pelanggan mencari pilihan lain selain Soto Banjar dan nasi sop. Akhirnya kami mengembangkan menu tambahan seperti Mie Bancir ala Banjar. Alhamdulillah, justru selalu menjadi permintaan pelanggan,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik kelembutan sikapnya, Ratna adalah seorang entrepreneur sejati. Ia menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama dalam menjalankan usaha kuliner. Baginya, rasa yang baik harus lahir dari niat yang baik pula. Karena itu, ia menjaga kualitas bahan, konsistensi cita rasa, dan menanamkan nilai keramahan kepada setiap stafnya, bahwa melayani dengan hati adalah bagian dari ibadah sekaligus bentuk penghormatan kepada pelanggan.
Ratna membuktikan bahwa perempuan bisa kuat tanpa kehilangan kelembutan, bisa maju tanpa melupakan akar budaya. Dari dapur sederhana di Pekapuran A, Banjarmasin, ia merawat tradisi, membangun kepercayaan, dan memperkenalkan Soto Banjar sebagai identitas rasa yang membanggakan urang Banjar.(Ridzky Husna).

