Jarujut, Romantika Memancing bagi Urang Banjar
Para Mancing Mania dari Kampus STIE Pancasetia Banjarmasin, memanfaatkan momen liburan dengan memancing bersama di Danau Riam Kanan, Aranio, Kabupaten Banjar. (Foto-Olpah Sari).
Bagi banyak urang Banjar, memancing bukan sekadar hobi biasa. Ada istilah khas yang selalu dibawa para pemancing lokal saat suasana sudah mulai tenang, senja mulai merayap, dan umpan mulai tarik-menarik,itulah yang mereka sebut “jarujut.”
Bagi para mancing mania, sensasi jarujut bukan hanya soal mendapatkan ikan, tetapi pengalaman yang membawa mood menjadi sangat baik, melepas segala penat, bahkan membuat waktu terasa berjalan sangat cepat.
Duduk bersama kawan di tepi empang atau sisi pahumaan, sambil sesekali saling bercanda dan menunggu kail tersambar, menjadi ritus sosial yang mengikat persahabatan. Jarujutlah yang membuat seseorang bisa betah dari pagi hingga sore, seakan berada dalam alunan meditasi riil yang memberi kepuasan batin.
Aktivitas menangkap ikan sudah ada dalam kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu—awal mulanya sebagai kebutuhan bertahan hidup, kemudian berkembang menjadi bagian dari kebudayaan dan rekreasi.
Sejak teknik sederhana menangkap ikan hingga teknologi pancing modern berkembang di abad ke-19 dan 20, memancing semakin menjadi olahraga rekreasi yang digemari banyak kalangan di dunia.
Di Indonesia sendiri, sebelum menjadi hobi santai di sungai dan empang, menangkap ikan merupakan bagian penting dari mata pencaharian komunitas pesisir maupun penduduk pedalaman.
Perubahan ini melahirkan dua wajah memancing: satu sebagai kebutuhan ekonomi, dan satu lagi sebagai bentuk hiburan, pembentukan komunitas, serta gaya hidup.

Memancing di Kalimantan Selatan, Tradisi Bertemu Alam
Kalimantan Selatan, dengan jaringan sungainya yang luas, mulai dari Sungai Barito, Sungai Martapura, hingga sungai-sungai kecil di persawahan Banjar,telah lama menjadi ladang pengalaman memancing bagi masyarakatnya.
Selain joran modern, pemancing Banjar juga lazim menggunakan tantaran unjun, alat pancing tradisional yang dibuat dari bambu. Bukan sekadar piranti, tetapi bagian dari tradisi lokal yang bertahan hingga kini.
Bubuhan pemancing atau Paunjunan sering mengaku tantaran unjun punya “keistimewaan” sendiri yang memberi nuansa berbeda saat jarujut terjadi—sensasi klasik yang membawa kenangan masa kecil di sungai atau empang
Tak hanya di sungai, waduk seperti Riam Kanan di Banjar juga menjadi spot favorit bagi para penghobi untuk memancing—terutama saat malam hari ketika aktivitas ikan lebih menggairahkan. Seperti halnya yang dilakukan para Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin, yang memilih memancing sambil bakar ikan di pinggiran Danau Riam Kanan, memberikan kenangan terindah tersendiri.
“Jika sudah ada Jarujutnya, memang luar biasa dan membuat kita betah duduk Maunjun di tepi Danau Riam Kanan ini.Apalagi kesunyian ditemani harmoni alam yang indah,” tutur Intan, salah satu staf Kampus STIE Pancasetia Banjarmasin.

Aktivitas memancing juga memberi kontribusi ekonomi lokal. Permintaan umpan, tali pancing, dan peralatan dari bambu atau fiber meningkat tiap musim mancing mania datang. Tak jarang, warga perdesaan ikut mencari dan menjual umpan alami yang banyak dicari oleh pemancing kota.
Kini, memancing di Kalsel bukan hanya soal santai dipinggir sungai. Potensi hobi ini diakui begitu besar sehingga para penggemar tengah menjajaki pembentukan Federasi Olahraga Memancing di Kalimantan Selatan. Harapannya, bukan hanya sekadar menjadi komunitas lokal, tetapi juga bisa menjadi bagian dari even memancing yang lebih besar dan profesional.
Baru-baru ini, di Kabupaten Banjar, even mancing dengan teknik tradisional mamair dan modern casting juga telah digelar, menarik lebih dari seribu peserta dari berbagai wilayah. Ini menunjukkan bagaimana memancing dapat menjadi olahraga populer yang mempertemukan tradisi dan modernitas sekaligus menawarkan peluang regenerasi bagi pemuda lokal.
Jarujut, Lebih dari Sekadar Hobi
Bagi banyak orang Banjar, umpan hanyalah senjata,yang sesungguhnya dicari adalah jarujut. Tarikan pertama, detik-detik menunggu sambaran, hingga akhirnya ikan terangkat ke permukaan memberi rasa puas yang tak tergantikan.
“Sensasi ini kadang lebih berharga daripada hasil tangkapan itu sendiri,” ujar Arul salah satu Mancing Mania asal Sriwijaya, Landasan Ulin, Banjarbaru.
Memancing di Kalsel bukan sekadar hobi, ia adalah gaya hidup, solidaritas sosial, dan bagian dari kecintaan terhadap alam dan budaya lokal.
Jarujut mengajarkan kita tentang kesabaran, tentang kesederhanaan, dan tentang bagaimana kebahagiaan bisa lahir dari pengalaman sederhana di tepi air yang tenang. (Olpah Sari).
