Madu Hutan Kalimantan, Emas Cair dari Pedalaman

0
EMAS CAIR UTAMA

Kemilau emas cair Kalimantan usai dipanen di tengah hutan yang terjaga keasriannya. (Foto-Naparin).

Di pedalaman Kalimantan, ada emas yang tidak digali, tidak diledakkan, dan tidak merusak tanah. Ia menetes perlahan dari sarang lebah di pucuk-pucuk pohon rimba. Namanya madu hutan.

Bagi masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, madu hutan bukan sekadar pangan. Ia adalah sumber penghidupan, pengetahuan turun-temurun, dan penanda hubungan yang relatif seimbang antara manusia dan alam. Di saat banyak sektor ekonomi bertumpu pada eksploitasi, madu hutan justru hidup dari kelestarian.

“Kalau hutannya rusak, madu pasti hilang,” ujar Dr. Husni Naparin, seorang Dosen muda yang menghabiskan banyak waktunya menyusuri pedalaman Kalteng dan Kalsel untuk mencari madu hutan. Madu-madu hutan ini, untuk dikonsumsi, sekaligus dijual sebagai penghasilan tambahan.

“Lebah hanya datang kalau alamnya masih sehat.”begitu kata pria yang sering ekspedisi travelling ke hutan dan ikut memanen madu hutan bersama warga pedalaman di Kalteng.

Pernyataan itu merangkum inti persoalan, kalau sejatinya madu hutan adalah ekonomi yang mensyaratkan hutan tetap berdiri.

 

Dr Husni Naparin memperlihatkan hasil panen madu hutan asli Kalimantan saat ikut memanen di tengah hutan. (Foto- Naparin).

Ekonomi Sunyi dari Rimba

Sejak lama, masyarakat pedalaman Kalimantan memanen madu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Madu diminum sebagai penambah tenaga, obat luka, dan bekal berladang.

Namun seiring waktu, madu juga menjadi “tabungan musiman”, hasil panen yang membantu menutup kebutuhan sekolah anak, beras, dan biaya hidup lainnya.

Berbeda dengan komoditas ekstraktif, madu hutan tidak membutuhkan pembukaan lahan. Justru sebaliknya, ia menuntut ekosistem yang utuh, pohon berbunga, udara bersih, dan siklus alam yang tidak dipaksa.Sungguh karunia Tuhan yang luar biasa.

Inilah yang membuat madu hutan layak disebut emas cair. Nilainya tidak hanya pada harga jual, tetapi pada cara ia dihasilkan,tanpa menebang, tanpa merusak, dan tanpa meninggalkan luka ekologis.

Pengetahuan Lokal yang Menjadi Modal Ekonomi

Lebah liar seperti Apis dorsata dan lebah kelulut tidak bisa “dipaksa” seperti ternak. Masyarakat desa membaca tanda alam seperti musim berbunga, arah angin, dan lokasi pohon sarang. Ada aturan tak tertulis yang ditaati “sarang tidak diambil habis, pohon tidak ditebang, panen tidak boleh serampangan”.

Aturan ini sering disebut adat, tetapi sesungguhnya ia adalah strategi ekonomi jangka panjang. Dengan memberi jeda pada alam, masyarakat memastikan madu tetap ada di musim berikutnya.

Sayangnya, pengetahuan ini kerap berhenti di desa. Ketika madu masuk pasar, nilai pengetahuan lokal itu menguap. Madu dijual tanpa cerita, tanpa asal-usul, tanpa keadilan harga.

Masalah utama madu hutan hari ini bukan produksi, melainkan distribusi nilai. Pencari madu menghadapi risiko tinggi,memanjat pohon, menembus hutan, menghadapi cuaca. namun sering menerima harga terendah.

“Yang berat itu di hutan,” kata seorang warga desa. “Tapi untungnya lebih banyak di kota.”

 

Tetesan emas cair Kalimantan yang menunjukkan kualitas dan keaslian madu hutan pedalaman Kalimantan Tengah. (Foto-Naparin).

Tulisan ini pun menilai ketimpangan tersebut tidak bisa dibiarkan. Jika madu hutan ingin bertahan sebagai ekonomi berkelanjutan, maka masyarakat pencari harus ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar pemasok bahan mentah.

Di beberapa desa, mulai tumbuh inisiatif budidaya lebah kelulut di pekarangan. Model ini membuka peluang baru, risiko rendah, bisa dikelola keluarga, dan bernilai jual tinggi. Perempuan dan rumah tangga desa ikut masuk dalam ekonomi madu.

Namun pemberdayaan tidak cukup hanya pada produksi. Menurut Dosen Senior STIE Pancasetia, Abdul Munir, pemberdayaan harus menyentuh pengemasan, standar mutu, dan akses pasar. Tanpa itu, madu tetap akan keluar desa dengan nilai murah, lalu kembali sebagai produk mahal.

Negara dan pemerintah daerah seharusnya hadir di titik ini,bukan sebagai pengendali berlebihan, tetapi sebagai fasilitator, yakni koperasi madu hutan, pelabelan asal-usul, dan integrasi madu dalam program perhutanan sosial.

Menjaga Alam dengan Insentif Ekonomi

Madu hutan menunjukkan satu hal penting kelestarian tidak akan bertahan jika hanya dibebankan pada kesadaran moral masyarakat desa. Ia harus disertai manfaat ekonomi yang nyata.

Ketika madu dihargai dengan adil, hutan menjadi aset, bukan hambatan. Pohon dijaga, bukan ditebang. Lebah dilindungi, bukan diusir. Masyarakat menjadi penjaga ekosistem paling efektif, karena hidup mereka bergantung padanya.

Dr. Husni Naparin melihat madu hutan sebagai jembatan. “Kalau orang bisa hidup dari madu, mereka akan menjaga hutannya lebih baik dari siapa pun,” katanya.

Madu Hutan Kalimantan bukan romantisme pedalaman. Ia adalah bukti bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus bertentangan. Bahwa pemberdayaan masyarakat bisa berjalan seiring dengan pelestarian alam.

Sekali lagi emas cair dari pedalaman ini harus dijaga dari dua ancaman sekaligus, yakni kerusakan hutan dan ketidakadilan pasar. Tanpa keduanya, madu hutan hanya akan tinggal cerita.

Jika dikelola dengan benar, madu hutan bukan hanya pemanis meja kota, tetapi fondasi ekonomi hijau yang adil dan berakar di desa. Kalimantan tidak perlu menebang masa depannya. Ia cukup menjaga rimbanya dan membiarkan emas cair itu terus menetes.(Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis -Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!