Japin Carita dan Ingatan yang Dijaga

0
JAPIN CERITA

Foto Ilustrasi - Kesenian Japin Cerita, Khas Kalimantan Selatan.

Ada budaya yang hidup karena sering dipamerkan. Ada pula budaya yang bertahan karena terus diceritakan. Japin Carita berada di antara keduanya. Seni ini hidup karena ditampilkan, bertahan karena dituturkan.

Tersebutlah di Anjungan Kalimantan Selatan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), alunan panting dan gerak Japin bukan sekadar hiburan akhir pekan. Seni budaya ini adalah penanda ingatan kolektif yang sedang diuji zaman. Di tengah budaya populer yang bergerak cepat dan serba instan, Japin Carita masih setia di jalannya sendiri, pelan,akrab dan tetap mengakar kuat.

Japin bukan seni yang lahir dari ruang elite. Ia tumbuh dari lantai-lantai rumah kayu, dari tepian sungai, dari percakapan sehari-hari masyarakat Banjar. Sejarah pun mencatat, Japin berakar dari perjumpaan panjang budaya Banjar dengan pengaruh Melayu dan Arab. Konon jejak zapin yang kemudian menjelma menjadi bentuk lokal. Di tangan masyarakat Banua, Japin tidak berhenti sebagai tarian, namun ia berkembang menjadi ruang bertutur.

Di situlah Japin Carita menemukan rohnya. Tarian, musik panting, dan lakon berpadu menghadirkan cerita rakyat, satire sosial, hingga potret kehidupan yang kadang getir, kadang jenaka. Seni ini tidak menggurui. Ia mengajak penonton tertawa, merenung, lalu pulang dengan rasa yang tertinggal.

Menampilkan Japin Carita di panggung nasional adalah langkah penting, tetapi bukan tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada keberlanjutan.Seperti harapan seniman dan warga Banua, bagaimana seni tradisi tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau etalase kebudayaan. Sebab budaya yang hanya hadir saat festival, perlahan akan kehilangan konteks sosialnya.

Terlepas itu semua, boleh jadi di sinilah peran negara dan masyarakat diuji. Pelestarian tidak cukup dengan pencatatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, meski itu penting. Budaya harus diberi ruang hidup, apakah itu di sekolah, di komunitas, di panggung-panggung kecil yang dekat dengan denyut masyarakat. Tanpa itu, Japin Carita hanya akan menjadi arsip bergerak.

Namun harapan selalu ada. Ketika generasi muda mulai kembali menari Japin, memetik panting, dan bercerita lewat bahasa mereka sendiri, kita tahu bahwa tradisi belum selesai. Ia hanya sedang mencari bentuk baru untuk tetap relevan.

Ada catatan penting ketika Redaksi membuat alur editorial ini. Sejatinya memang Japin Carita mengajarkan satu hal penting, menjaga budaya bukan soal melawan modernitas, melainkan merawat akar agar tidak tercerabut.

Selama cerita-cerita itu masih dituturkan,dengan gerak, musik, dan keberanian untuk tampil, sudah pasti identitas Banua akan tetap menemukan suaranya di tengah hiruk-pikuk zaman.

Budaya, pada akhirnya, bukan milik masa lalu. Ia adalah percakapan yang terus kita lanjutkan hari ini.Japin Cerita benar-benar dalam cerita. (Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!