Dari Seni ke Diplomasi, Kisah Inspiratif Din Jaya

0
DIN JAYA

Din Jaya (Kaos Hitam) bersama adik kandungnya Rolly Irawan, dalam acara syukuran milad di kediamannya di Kelayan A Dalam Banjarmasin. (Foto-Dok Rolly Irawan).

Nama Din Jaya mungkin lebih dulu dikenal lewat alunan dangdut. Suaranya, di masa muda, kerap disebut-sebut mirip Raja Dangdut Rhoma Irama. Namun satu dekade terakhir, sorotan publik terhadap Din Jaya tak lagi semata soal musik.

Ia justru lebih sering terlihat di jalanan, menggenggam bendera Forpeban, menggunakan microfon menyuarakan aspirasi rakyat, dan konsisten mendukung gerakan Kalimantan Selatan bebas korupsi.

Bagi Din Jaya, seni dan perjuangan sosial bukan dua dunia yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan. Seni mengasah rasa, sementara perjuangan sosial menguji nurani. Dari panggung dangdut hingga ruang-ruang advokasi, Din Jaya menjalani keduanya dengan keyakinan yang sama, berpihak pada rakyat kecil.

Din Jaya adalah seniman dangdut asal Banjarmasin yang mulai berkiprah sejak era 1970-an. Namanya tumbuh bersama musik Orkes Melayu, hingga kemudian mendirikan Orkes Melayu Surya Arina Grup, yang bermarkas di Jalan Kelayan A Gang Cenderawasih, Kelurahan Kelayan Dalam. Dari tempat sederhana itulah, irama dangdut Banua pernah bergema dan menghidupi banyak mimpi.

Dunia seni membesarkan Din Jaya. Ia tumbuh bersama keluarga yang lekat dengan musik. Adik-adiknya,Supian Noor, almarhum Ghani Samatha, almarhum Abdul Kadir, Rolly Irawan, hingga keponakannya Wulan, mengikuti jejak yang sama di dunia tarik suara.

 

Bersama adikknya Rolly Irawan (topi merah), Din Jaya saat berdemo di depan Kantor Kejaksaan Negeri Banjarmasin, Senin (15/12/2025).

Namun, di titik tertentu, Din Jaya memilih jalan berbeda. Ia meninggalkan sorotan lampu panggung dan masuk ke ruang yang lebih sunyi, dunia LSM dan advokasi sosial.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Berpindah dari seniman ke penggiat LSM berarti siap berhadapan dengan tekanan, stigma, bahkan ancaman. Tapi Din Jaya menjalaninya dengan tenang.

Ia menyebut pilihannya sebagai “diplomasi nurani”,cara menyampaikan kritik dan aspirasi rakyat dengan keteguhan, bukan kemarahan.

Kiprahnya sebagai penggiat sosial tak diragukan. Ia konsisten menyuarakan persoalan kesejahteraan masyarakat, keadilan sosial, dan pemerintahan yang bersih.

Dalam setiap aksinya, Din Jaya tidak sekadar berteriak. Ia membawa narasi, pengalaman hidup, dan empati yang lahir dari perjalanan panjang sebagai seniman rakyat.

Di luar aktivitas sosial, Din Jaya juga dikenal sebagai pendiri Majelis Taklim Surya Arina. Di ruang spiritual inilah ia menegaskan satu hal perjuangan sosial harus berakar pada nilai moral dan keimanan. Bagi Din Jaya, melawan korupsi dan ketidakadilan bukan sekadar urusan politik, tetapi bagian dari ibadah.

Kini, di usia 73 tahun, semangat Din Jaya belum surut. Tubuh boleh menua, tetapi suara nurani tetap lantang. Ia percaya bahwa kebaikan tak mengenal usia dan panggung. Selama masih diberi waktu oleh Tuhan, ia memilih untuk terus bergerak.

“Selama masih diberi waktu oleh Allah, jangan pernah menghentikan niat untuk berbuat baik,” ujarnya suatu ketika. “Sekecil apa pun, kebaikan itu tetap bernilai.”

Kisah Din Jaya mengajarkan satu hal penting, seni tak berhenti di panggung, dan perjuangan tak selalu lahir dari ruang kekuasaan. Di tangan orang-orang seperti Din Jaya, seni menjelma menjadi bahasa diplomasi,lembut, jujur, dan berpihak pada kemanusiaan. (Muhammad Irfani).

Muhammad Irfani aldalah Jurnalis Economic Travelling.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!