Hari Kedua BCF 2025 Pecah oleh Antusias Publik

0
BCF 2025

Suasana kemeriahan BCF 2025.

Hari kedua Banua Creative Festival 2025 benar benar pecah. Gelaran kreatif terbesar di Kalimantan Selatan itu kembali memancing lonjakan pengunjung hingga mencapai 2.452 orang sepanjang hari.

Angka ini bukan hanya menunjukkan antusiasme yang tinggi, tetapi juga menegaskan bahwa festival bertema Titik Kumpul tersebut telah menjadi magnet baru bagi masyarakat Banua yang haus akan ruang ekspresi kreatif dan pertunjukan berkualitas.

Sejak pagi, area Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin dipadati pengunjung yang antusias mengikuti program Rasa Banua bersama Chef Agus Sasirangan. Melalui sesi ini, publik diajak menyelami filosofi dan kekayaan rempah Soto Banjar sebagai identitas kuliner yang mengakar di masyarakat Kalimantan Selatan. Kelas kuliner edukatif ini menjadi salah satu sesi paling diminati karena menyatukan pengetahuan gastronomi dan kebanggaan budaya lokal.

Gelaran kemudian berlanjut ke panggung IdeaForum dan Community Talks yang menghadirkan tokoh nasional Handoko Hendroyono, CoFounder MBloc Space sekaligus Founder Filosofi Kopi.

Kehadiran Handoko menghadirkan perspektif segar mengenai pembangunan ekosistem kreatif berbasis kolaborasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan komunitas. Peserta memenuhi ruangan hingga sesi berakhir, menandakan besarnya minat terhadap wawasan industri kreatif modern.

Menjelang sore hingga malam, atmosfer festival semakin bergairah. Program Sound On kembali menyita perhatian publik lewat penampilan musisi musisi Kalimantan Selatan.

Namun puncak keramaian terjadi saat The Panturas naik ke panggung. Sorakan, lambaian tangan, dan barisan massa yang padat membuat area festival berubah menjadi ruang selebrasi kreativitas. Energi publik yang membuncah membuat penutupan hari kedua ini terasa monumental.

Tak hanya di panggung utama, aktivitas di area expo pun memanas. Sebanyak 25 tenant kuliner, kriya, dan fesyen mencatat interaksi meningkat. Salah satu yang paling banyak dibicarakan ialah Kune Mulya, tenant fesyen dengan desain segar yang relevan dengan gaya hidup urban. Kehadirannya memperkaya ragam produk kreatif lokal yang semakin mendapat tempat di hati pengunjung.

Handoko Hendroyono menilai festival ini sebagai ruang belajar bersama. Ia menyebut bahwa bukan hanya pengunjung yang mendapatkan wawasan, tetapi juga para pelaku kreatif seperti EO, podcaster, musisi, dan komunitas yang tanpa sadar saling bertukar pengetahuan dan inspirasi.

“Terima kasih dan saya sangat senang bisa berada di sini. Dengan event kreatif seperti ini, menurut saya menjadi benih yang bagus. Karena bukan hanya yang datang yang belajar, tetapi juga para pelakunya,EO, podcaster, musisi, komunitas—semuanya saling belajar tanpa sadar,” katanya.

Lonjakan pengunjung dan intensitas interaksi sepanjang hari menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem kreatif Banua sedang bergerak menuju fase kedewasaan. Festival ini tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya, tetapi juga ruang transaksi, kolaborasi, dan pertumbuhan pengetahuan kreatif.

Hari kedua Banua Creative Festival 2025 membuktikan satu hal: kreativitas Banua tidak sekadar hidup, tetapi meledak kuat dan menyala lewat dukungan publik yang terus mengalir. Jika tren ini berlanjut, BCF bukan hanya festival, melainkan ikon baru kebangkitan ekonomi kreatif Kalimantan Selatan.(Muhammad Irfani).

Muhammad Irfani aldalah Jurnalis Economic Travelling.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!