TANJUNG UTAMA

Foto - Dok Rizqan Maulana.

FKG UGM-Tabalong Kolaborasi Lahirkan Generasi Dokter Gigi Baru

Di sebuah ruangan yang hangat oleh dialog dan ekspresi optimistis, sebuah momen penting terjadi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) dan Pemerintah Kabupaten Tabalong resmi menandatangani perjanjian kerja sama.Catatan lembaran sejarah pun dimulai dari sini,

Di hadapan para pejabat, akademisi, dan tamu undangan, Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., dan Bupati Tabalong H. M. Noor Rifani duduk berdampingan, menorehkan tanda tangan pada dokumen yang diharapkan menjadi pengubah masa depan.

Walau berlangsung singkat, penandatanganan itu menyimpan makna panjang. Tidak hanya soal teknis kerja sama di bidang kesehatan, pendidikan, atau pengembangan kapasitas.

Lebih jauh, kerja sama ini dapat menjadi pintu pembuka bagi putra-putri Tabalong untuk menapaki salah satu disiplin ilmu paling kompetitif di Indonesia, kedokteran gigi.

Bagi banyak siswa dari daerah seperti Tabalong, kuliah di kampus besar sering kali terlihat seperti mimpi yang berada di seberang tembok tebal. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena akses, persiapan, dan kesempatan yang terbatas.

FKG UGM, dengan reputasi nasional dan rekam jejak akademik yang panjang, selama ini adalah salah satu destinasi idaman para pelajar terbaik, termasuk anak-anak muda di Tabalong.

Kini, melalui kerja sama ini, FKG UGM memberikan prioritas penerimaan bagi siswa berprestasi asal Tabalong. Sebuah jalur yang bukan hanya membuka peluang, tetapi meruntuhkan persepsi bahwa kampus besar hanya milik kota besar.

 

Bupati Tabalong H. M. Noor Rifani menyebut kerja sama ini sebagai “investasi masa depan” , sebuah langkah visioner untuk memastikan daerah mampu melahirkan tenaga kesehatan berkualitas dari anak-anaknya sendiri.

“Kita ingin memastikan bahwa putra-putri Tabalong memiliki akses yang sama terhadap pendidikan terbaik. Dengan prioritas dari FKG UGM, kita tidak sekadar membuka peluang, tetapi menciptakan harapan baru bagi generasi muda,” ucap Rifani.

Di sisi lain, FKG UGM membawa semangat klasik perguruan tinggi. ilmu untuk pengabdian. Prof. Suryono menekankan bahwa universitas memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan daerah-daerah di luar pusat kota juga menikmati manfaat keilmuan, teknologi, dan pendidikan yang merata.

“UGM hadir untuk Indonesia. Kami ingin pengetahuan yang kami miliki mengalir ke daerah-daerah yang membutuhkan, termasuk Tabalong. Ini adalah bentuk kontribusi nyata kami untuk pemerataan pendidikan dan kesehatan,” ujarnya.

Komitmen ini bukan sekadar simbolis. FKG UGM berencana memperkuat pendampingan tenaga kesehatan, membuka ruang riset kolaboratif, hingga menyelenggarakan pengabdian masyarakat secara berkala.

Mengubah Wajah Pelayanan Kesehatan Daerah

Tabalong tengah tumbuh. Infrastruktur kesehatan diperkuat, layanan publik ditingkatkan, dan kebutuhan tenaga kesehatan profesional terus meningkat. Dengan kerja sama ini, pelatihan tenaga medis hingga peningkatan kapasitas layanan gigi dan mulut dapat dilakukan lebih terstruktur dan berkesinambungan.

Masyarakat Tabalong pun akan merasakan manfaat melalui kegiatan-kegiatan lapangan seperti bakti kesehatan, pemeriksaan gigi gratis, penyuluhan di sekolah, hingga operasi sosial yang melibatkan tenaga ahli FKG UGM.

Namun bagian terpenting dari kerja sama ini mungkin bukan yang terlihat hari ini, melainkan yang akan muncul beberapa tahun ke depan: hadirnya dokter gigi asal Tabalong yang kembali mengabdi di tanah kelahiran mereka.

Membuka Jalan Pulang bagi Generasi Baru

Bagi banyak siswa, kehadiran program prioritas ini adalah undangan untuk bermimpi lebih besar. Mereka yang selama ini menatap Yogyakarta hanya melalui layar handphone kini memiliki peluang nyata untuk duduk di bangku kuliah FKG UGM — tempat melahirkan dokter-dokter gigi terbaik di Indonesia.

Itulah sebabnya, kerja sama ini terasa bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol harapan. Sebuah jembatan yang menghubungkan Tabalong dengan Yogyakarta, desa dengan kampus, ambisi dengan kesempatan, dan masa kini dengan masa depan.

Ketika Prof. Suryono dan Bupati Noor Rifani menandatangani perjanjian itu, mereka seolah ikut menandatangani peluang baru untuk ratusan bahkan ribuan anak Tabalong di masa mendatang.

Sebuah pertemuan yang sederhana, namun maknanya bisa melintasi generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!