Strategi Lama Tidak Lagi Cukup untuk Pariwisata Kalsel
Foto Ilustrasi - Wisatawan Mancanegara berinteraksi dengan penari Banjar dalam sebuah event di Banjarmasin. (Foto-Risanta).
Oleh : Muhammad Risanta SE MM
Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur dan tanpa basa-basi, apakah promosi pariwisata Kalimantan Selatan benar-benar efektif, atau kita selama ini hanya sibuk memenuhi daftar kegiatan tanpa memastikan dampak nyata bagi kunjungan wisatawan .Dan jawabannya, jika melihat capaian dan geliat di lapangan, masih jauh dari kata optimal.
Kalimantan Selatan memiliki modal kuat. Keindahan alam pegunungan Meratus, wisata budaya Banjar, kuliner khas yang tak ada duanya, hingga potensi geowisata dan ekowisata yang sebenarnya bisa menjadi magnet kuat wisatawan.
Namun potensi tidak akan pernah berubah menjadi prestasi jika strategi pemasaran kita masih berkutat pada pola lama yang seremonial, birokratis, dan minim sentuhan pasar.
Calendar of Event (CoE) Pariwisata Indonesia sejatinya merupakan program nasional yang sangat efektif untuk mendorong kunjungan wisatawan. Banyak daerah menjadi sorotan dunia berkat keberhasilan mengeksekusi CoE, seperti Lombok dengan Festival Bau Nyale atau Yogyakarta dengan sederet agenda budaya yang mampu menarik ribuan pengunjung.
Tetapi di Kalimantan Selatan, CoE sering kali hanya menjadi daftar kegiatan yang meriah di atas kertas, sementara di lapangan justru didominasi peserta internal seperti SKPD, panitia, ataupun undangan formal. Wisatawan yang seharusnya menjadi subjek utama malah seperti penonton yang tidak diajak hadir.
Inilah titik lemah mendasar. Kita terlalu sering memproduksi acara untuk memuaskan kewajiban administratif, bukan untuk menciptakan pengalaman wisata yang layak dijual ke pasar nasional maupun global.Namun kita tak perlu menyalahkan satu dengan yang lainnya, minimal bisa menjadi pembelajaran terbaik meningkatkan kualitas sebuah acara yang berdampak jangan panjang bagi industri pariwisata Banua dan Indonesia.
Yang lebih disayangkan, pelibatan pemangku kepentingan di sektor pariwisata daerah masih belum maksimal. Para tour guide, pelaku UMKM, travel agent, komunitas kreatif, fotografer perjalanan, hingga media massa seringkali hanya menjadi pelengkap penderita. Mereka hadir, tetapi tidak diberi ruang. Mereka diminta ikut, tetapi jarang diminta berbicara. Mereka didorong mendukung, tetapi jarang dilibatkan sejak perencanaan.

Padahal, dunia pariwisata adalah dunia kolaborasi. Tidak ada satu pun daerah di Indonesia yang sukses memajukan pariwisatanya tanpa kolaborasi penuh dengan komunitas lokal dan media. Ketika dinas pariwisata menutup pintu gagasan dan berjalan sendiri, yang lahir hanyalah program yang miskin dampak dan jauh dari kebutuhan pasar.
Sudah waktunya paradigma ini kita balik. Dinas Pariwisata perlu membuka ruang dialog yang sejati dengan para pelaku industri, bukan sekadar rapat seremonial. Tour guide memiliki pengalaman lapangan yang tidak dimiliki birokrat. Travel agent tahu persis apa yang dicari pasar. UMKM adalah wajah ekonomi kreatif yang menciptakan pengalaman autentik.
Media massa adalah corong utama untuk menyebarkan cerita dan menguatkan branding destinasi. Kesalahan besar jika masih ada anggapan bahwa media hanya dibutuhkan saat ingin mempublikasikan kegiatan. Perspektif itu harus dihentikan.
Jika kita ingin pariwisata Kalimantan Selatan naik kelas, maka media harus diposisikan sebagai mitra strategis, bukan sekadar alat publikasi.
Media mampu membentuk persepsi, membangun narasi, dan memperkuat citra destinasi. Tanpa pemberitaan yang konsisten, mendalam, dan menarik, pariwisata kita akan tetap tenggelam dalam kebisingan promosi daerah lain yang jauh lebih agresif.
Tantangan kita bukan sekadar memproduksi brosur atau membuat spanduk, melainkan membangun cerita besar tentang Kalimantan Selatan. Cerita yang dikisahkan media, difoto fotografer lokal, dipromosikan travel agent, dan diperkuat komunitas daerah. Cerita yang membuat wisatawan merasa harus datang, bukan sekadar ingin tahu.
Karena itu, dinas pariwisata harus berani memasukkan ide-ide dari pelaku lapangan ke dalam program kerja secara nyata. Jika ada gagasan yang baik, jangan hanya didengar lalu hilang tanpa jejak. Eksekusi harus menjadi kata kunci.
Pariwisata bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah industri yang bergerak cepat, dinamis, dan sangat dipengaruhi oleh kemampuan sebuah daerah membaca keinginan pasar. Jika kita hanya mengandalkan acara tanpa strategi pemasaran yang matang, maka Kalimantan Selatan akan terus tertinggal dari daerah lain yang jauh lebih progresif dan agresif.
Kini momentum itu ada. Kalimantan Selatan sedang naik di banyak sektor. Inilah saat terbaik untuk memperbaiki cara kita mempromosikan pariwisata. Tinggalkan cara lama yang hanya memproduksi seremoni. Beralihlah ke strategi yang memproduksi dampak. Libatkan semua pemangku kepentingan. Dekati media sebagai mitra. Dengarkan pelaku lapangan. Dan yang paling penting, jadikan wisatawan sebagai pusat dari setiap kebijakan.
Jika itu dilakukan, Kalimantan Selatan tidak sekadar menjadi daerah yang punya potensi pariwisata. Ia akan menjadi destinasi yang hidup, berkembang, dan benar-benar dikunjungi.
Dan di situlah pariwisata kita akhirnya menemukan tujuannya. We Love pariwisata Kalimantan Selatan dan Indonesia.

