Akhir Sebuah Era Ketika Hotel Batung Batulis Tak Lagi Bersinar

0
BATUNG BATULIS

Karrikatur Ilustrasi - Dok Tim Redaksi.

Ada yang hilang dari lanskap kota Banjarmasin dan Banjarbaru pada November 2025. Sebuah nama yang dulu menjadi kebanggaan daerah kini resmi berhenti beroperasi, Hotel Batung Batulis, ikon lama milik daerah yang pernah berdiri gagah sebagai simbol kemajuan pariwisata Kalimantan Selatan di era 1980–1990-an.

Langkah itu diumumkan langsung oleh Direktur Utama PT Bangun Banua, Afrizaldi, pada Senin, 10 November 2025.

“Setelah kami lakukan evaluasi, hotel ini terus mengalami kerugian. Ada dua opsi waktu itu: direnovasi atau dihentikan operasionalnya. Namun biaya renovasi cukup besar, sehingga kami mengambil keputusan untuk menghentikan operasional dan membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga,”ujar Afrizaldi lugas, menandai berakhirnya babak panjang dua hotel yang pernah menjadi saksi sejarah kemajuan ekonomi daerah.

 

Direktur Utama PT Bangun Banua, Afrizaldi

Jejak Emas di Masa Lalu

Hotel Batung Batulis bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol kebanggaan daerah. Hotel ini berdiri pada akhir 1970-an, dikelola oleh PT Bangun Banua, salah satu BUMD tertua di Kalimantan Selatan yang didirikan untuk memperkuat sektor ekonomi dan pariwisata.

Pada masa jayanya di era 1980–1990-an, Hotel Batung Batulis menjadi salah satu penginapan paling bergengsi di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Di sinilah berbagai rapat pejabat daerah, acara pernikahan tokoh Banua, hingga kunjungan kenegaraan sering digelar.

Dengan arsitektur klasik khas tropis dan pelayanan yang hangat, hotel ini menjadi wajah keramahan Banua bagi tamu dari luar Kalimantan.

Hotel Batung Batulis Banjarmasin, yang terletak strategis di pusat kota, dulu dikenal sebagai tempat favorit tamu pemerintah. Sedangkan Batung Batulis Banjarbaru, dengan suasana yang lebih tenang dan sejuk, menjadi pilihan utama bagi pebisnis dan wisatawan domestik.

Di masa keemasannya, okupansi hotel ini bisa mencapai 80–90 persen pada musim liburan, dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar PT Bangun Banua kala itu.

Dari Simbol Kejayaan ke Sumber Kerugian

Namun, waktu bergerak cepat. Persaingan industri perhotelan yang semakin ketat, munculnya hotel-hotel baru dengan konsep modern, dan perubahan perilaku wisatawan membuat Batung Batulis tertinggal jauh di belakang.

Bangunannya yang tua, fasilitas yang tak lagi kompetitif, serta lokasi yang sering terdampak banjir karena dekat sungai,  terutama untuk unit di Banjarmasinmenjadikan hotel ini lebih banyak menelan biaya daripada memberi laba.

Selama beberapa tahun terakhir, laporan keuangan menunjukkan tren kerugian beruntun. Biaya pemeliharaan membengkak, sementara tingkat hunian terus menurun.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, situasi semakin memburuk. Harapan untuk bangkit pun pupus karena biaya renovasi yang sangat besar, tak sebanding dengan potensi pendapatan di masa depan.

Akhirnya, setelah melalui evaluasi panjang dan audit aset, PT Bangun Banua memutuskan menghentikan operasional kedua hotel.
Langkah ini bukan tanda menyerah, melainkan tindakan realistis , sebuah keputusan bisnis yang pahit tapi perlu.

Langkah Cepat dan Arah Baru

Afrizaldi menyebut, setelah penilaian aset, minat investor justru terkonsentrasi pada Hotel Batung Batulis Banjarbaru.
Sekitar lima pihak telah menyatakan ketertarikan untuk mengelola hotel tersebut dengan skema profit sharing, sehingga Bangun Banua bisa tetap memperoleh pendapatan tanpa menanggung kerugian operasional.

Sebaliknya, hotel di Banjarmasin dinilai tak lagi layak secara komersial.

“Kemungkinan bangunan di Banjarmasin akan kita manfaatkan sebagai kantor PT Bangun Banua, karena sampai sekarang kami masih menggunakan kantor pinjam pakai dari Pemerintah Provinsi,”kata Afrizaldi.

Langkah cepat ini memperlihatkan tata kelola baru di tubuh PT Bangun Banua. Tidak lagi bertahan demi nostalgia, tapi berpikir rasional demi keberlanjutan.
Hasilnya terlihat nyata, dividen kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencapai Rp8,1 miliar pada tahun terakhir ,naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp3–4 miliar.

“Peningkatan dividen ini bukan karena ada usaha baru, tetapi karena tata kelola keuangan yang lebih baik,”ujar Afrizaldi menutup penjelasannya dengan nada optimistis.

Epilog: Warisan yang Harus Dikenang

Hotel Batung Batulis mungkin tak lagi beroperasi, tetapi jejaknya tetap hidup di ingatan banyak orang.
Ia adalah bagian dari sejarah pembangunan Banua ,saksi bahwa kemajuan daerah pernah dirintis melalui keberanian berinvestasi di masa ketika industri pariwisata belum semaju sekarang.

Kini, langkah PT Bangun Banua bukan sekadar menghentikan sebuah hotel, melainkan menghidupkan kembali semangat efisiensi dan transparansi dalam mengelola aset daerah.
Karena pada akhirnya, keberanian untuk menutup yang merugi sama pentingnya dengan keberanian untuk membangun yang baru.(Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!