Menikmati Hujan, Menikmati Kehidupan

0
HUJAN

Karikatur Ilustrasi - Hujan turun, warga menikmati suasana hangat di rumah dengan berbagai aktivitasi. (Dok - Tim Redaksi).

Aktivitas Warga di Akhir Pekan yang Basah

Langit mendung menutup matahari pagi. Rintik hujan turun perlahan, mengetuk atap rumah, memantulkan aroma tanah yang khas. Di tengah cuaca yang sering membuat sebagian orang enggan keluar rumah, ada warga yang justru menemukan kebahagiaan baru di balik tirai hujan.

“Hujan bukan penghalang, malah bikin suasana jadi lebih tenang,” kata Siti Rusnaj , ibu rumah tangga di kawasan Jalan Mahligai Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, sambil menyiapkan teh hangat di ruang tamu.

Biasanya akhir pekan perempuan aktivis lingkungan ini menghabiskan di luar rumah, tapi kali ini ia memilih memasak bersama anak-anaknya dan menonton acara tv bersama  keluarga.

“Kami malah lebih dekat saat hujan begini,” ujarnya.

 

Foto Ilustrasi – Saat hujan Waroeng Acil menjadi tempat bersantai dan berkumpul sembari menikmati makanan khas Banjar, Nasi Kuning dan Lontong serta Bubur Ayam spesial.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banjarbaru, Kalimantan Selatan memasuki puncak musim hujan pada Oktober -Desember 2025, dengan curah hujan rata-rata mencapai 300–400 mm per bulan. Kondisi ini membuat warga lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.

Namun, hujan tidak harus berarti pasif. Justru, menurut para ahli, ritme cuaca basah bisa menjadi momentum untuk melakukan kegiatan yang menenangkan pikiran dan memperkuat ikatan sosial.

“Hujan mengubah kecepatan hidup kita. Ini saat terbaik untuk beristirahat aktif , melakukan hal-hal kecil yang bermakna,” ujar Agusdianoor, Dosen UIN AntasariIa menyebut bahwa aktivitas seperti memasak, membaca, atau berbincang bersama keluarga mampu menurunkan kadar stres hingga 20%, sebagaimana ditunjukkan oleh riset Harvard Health Publishing (2021).

Bagi banyak warga, hujan menjadi waktu terbaik untuk kembali ke dapur. Aroma sup, jahe, dan ubi rebus terasa akrab di udara.

“Kalau hujan, saya selalu masak makanan berkuah. Lebih nikmat disantap bareng keluarga,” kata Kaspi (45), Warga Anjir, Barito Kuala.

 

Foto Ilustrasi – Kumpul bersama keluarga dan menikmati makan, sebelum hujan turun.

Kegiatan seperti ini bukan hanya soal rasa, tapi juga soal suasana. Penelitian Journal of Positive Psychology (2020) menunjukkan bahwa aktivitas memasak bersama keluarga dapat meningkatkan hormon kebahagiaan dopamin dan memperkuat koneksi emosional antaranggota rumah tangga.

Selain itu, warga juga memanfaatkan waktu di rumah untuk menata ulang ruang tamu, membaca buku, atau menulis catatan harian. Kegiatan sederhana ini terbukti dapat membantu menjaga kesehatan mental selama musim hujan.

Suara hujan sendiri ternyata memiliki efek menenangkan. Studi Frontiers in Psychology (2022) menemukan bahwa suara hujan alami dapat menurunkan tekanan darah dan detak jantung, sehingga membantu tubuh beristirahat secara alami.

Di beberapa sudut kota, kafe tetap ramai meski langit kelabu. Orang-orang menulis, bekerja, atau sekadar menyeruput kopi sambil memandangi jendela yang basah.Bagi mereka, hujan justru menghadirkan ruang refleksi  jeda yang membuat hidup terasa lebih manusiawi.

“Kadang kita perlu melambat, dan hujan memberi izin untuk itu Selama kita tetap bergerak dengan cara yang bermakna, hujan justru membawa kesehatan emosional dan spiritual,” kata Dr. Saukani, salah satu pimpina Universitas di Lampung, yang juga orang Banua.

Hujan tidak pernah datang untuk menghentikan langkah, melainkan untuk menenangkan. Hujan itu menumbuhkan, menyegarkan, dan mengingatkan bahwa dalam kehidupan, tidak semua harus cepat.
Di tengah bunyi rintiknya, kita bisa belajar , bahwa kebaikan, ketenangan, dan kehangatan bisa tumbuh bahkan di hari paling basah.(M.Irfani).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!