Menatap Langit Kalimantan , Banua Menyapa Dunia
Penerbangan internasional reguler pertama, menghubungkan Banjarmasin (BDJ) dan Kuala Lumpur (KUL), membuka pintu dunia bagi Kalimantan Selatan. (Foto - Olpah Sari).
Pagi di Banjarbaru terasa berbeda pada 20 Oktober 2025. Langit di atas Bandara Internasional Syamsudin Noor menjadi saksi ketika pesawat AirAsia AK-442 mendarat anggun, disambut semprotan air membentuk lengkung di udara , water salute yang lazim dilakukan untuk menandai peristiwa istimewa di dunia penerbangan.
Hari itu bukan sekadar penambahan satu rute udara. Ia adalah penanda babak baru bagi Kalimantan Selatan: provinsi ini resmi memiliki penerbangan internasional reguler pertama, menghubungkan Banjarmasin (BDJ) dan Kuala Lumpur (KUL).
“Ini bukan hanya soal transportasi, tetapi tentang membuka pintu dunia bagi Kalimantan Selatan,” ujar Stephanus Millyas Wardana, General Manager Bandara Syamsudin Noor, saat memberikan sambutan .Dibalik kalimat sederhana itu tersimpan makna yang jauh lebih dalam — tentang mobilitas, ekonomi, budaya, dan daya saing regional.
Mobilitas Sebagai Katalis Pertumbuhan. Dalam literatur ekonomi pembangunan, konektivitas transportasi udara kerap dianggap enabler utama pertumbuhan wilayah. World Bank (2023) mencatat bahwa peningkatan 10 persen konektivitas udara internasional dapat menstimulasi pertumbuhan ekspor regional hingga 1,2 persen dan mendorong investasi lintas batas hingga 1,8 persen.
Dengan dibukanya rute Banjarmasin–Kuala Lumpur, Kalimantan Selatan kini tidak lagi menjadi “daerah ujung” dalam jejaring penerbangan global. Bandara Syamsudin Noor yang pada 2024 mencatat trafik 4,2 juta penumpang berpotensi meningkatkan arus manusia dan barang secara signifikan.

Sebanyak 79 penumpang yang tiba dan 172 penumpang yang berangkat pada penerbangan perdana hanyalah angka awal dari rantai efek ekonomi yang lebih luas.
Mobilitas udara menciptakan efek pengganda (multiplier effect): setiap 1.000 wisatawan mancanegara yang datang diperkirakan dapat menambah Rp17–20 miliar terhadap ekonomi lokal, melalui belanja akomodasi, kuliner, transportasi, hingga ekonomi kreatif (Kemenparekraf, 2024).
Bila proyeksi minimal 8.000 penumpang per tahun terwujud dari rute ini, maka potensi perputaran ekonomi dapat mencapai Rp150 miliar lebih hanya dari sektor turisme dan jasa pendukungnya.
Kedatangan penerbangan internasional itu disambut Tari Japin Sigam dan kalungan Kain Sasirangan, dua simbol kuat identitas Banua. Di balik estetika sambutan itu tersimpan potensi ekonomi kreatif.
Menurut data Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan (2024), subsektor ekonomi kreatif seperti kriya, fesyen, dan kuliner tumbuh 5,8 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi provinsi yang berada di kisaran 5,2 persen.Kain Sasirangan, misalnya, kini menjadi produk unggulan UMKM yang mulai menembus pasar e-commerce dan ekspor kecil ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Dengan terbukanya rute udara langsung, biaya logistik dan waktu pengiriman dapat berkurang hingga 30 persen, menjadikan ekspor produk budaya lebih efisien dan berdaya saing.
Sambutan budaya juga mengandung pesan simbolik: pariwisata bukan sekadar perjalanan, tapi pengalaman lintas identitas. Di sinilah pariwisata berfungsi sebagai jembatan sosial, memperkuat people-to-people connection antara Banua dan Negeri Jiran.

Dalam peta kebijakan ekonomi nasional, Kalimantan Selatan berada di tengah persimpangan strategis antara proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), jalur logistik Kalimantan, dan kawasan industri pertambangan serta perikanan.’
Namun, salah satu tantangan utama yang kerap disorot oleh Asian Development Bank (ADB, 2024) adalah tingginya biaya logistik dan keterbatasan akses internasional langsung.
Rute Banjarmasin–Kuala Lumpur dapat menjadi solusi mikro terhadap persoalan makro tersebut. Jalur ini bukan hanya memudahkan pergerakan wisatawan, tetapi juga membuka rantai suplai udara (air freight chain) bagi produk ekspor bernilai tinggi seperti hasil perikanan segar, rotan, dan kerajinan.
Selain itu, konektivitas langsung ke Kuala Lumpur — salah satu hub penerbangan terbesar Asia Tenggara dengan lebih dari 120 rute internasional aktif — menjadikan Banjarmasin bagian dari jejaring global gateway.
Jika dikelola strategis, hal ini dapat mendorong diversifikasi ekonomi daerah yang selama ini masih bertumpu pada sektor tambang dan perkebunan.
Dimensi Pariwisata, Dari Transit ke Destinasi
Kalimantan Selatan memiliki potensi besar namun belum tergarap optimal di sektor pariwisata. Menurut Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan (2025), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi ini baru mencapai 6.000 orang per tahun, jauh di bawah potensi daya tariknya seperti Pasar Terapung Lok Baintan, Pegunungan Meratus, dan wisata budaya Banjar.
Dengan akses langsung dari Kuala Lumpur, peluang meningkatnya jumlah wisatawan asing menjadi realistis. Malaysia sendiri menyumbang lebih dari 20 persen wisatawan mancanegara ke Indonesia setiap tahun (BPS, 2024).
Jika sebagian kecil saja diarahkan ke Kalimantan Selatan melalui promosi dan paket wisata terintegrasi, dampaknya akan terasa hingga ke sektor mikro: hotel kecil, pemandu wisata lokal, hingga penjual cendera mata di pasar tradisional.
Penerbangan perdana AirAsia ini adalah awal dari ekosistem baru — ekosistem yang menghubungkan ekonomi udara, budaya lokal, dan diplomasi masyarakat. Konektivitas tidak sekadar memperpendek jarak fisik, tetapi juga memperluas horizon ekonomi dan sosial Kalimantan Selatan.
Banjarmasin kini tidak lagi sekadar pintu gerbang Kalimantan bagian selatan, melainkan simpul baru dalam jaringan global yang terus bergerak. Dari tarian Japin di ruang kedatangan, hingga peluang ekspor UMKM yang menembus batas negara, Banua kini benar-benar sedang belajar terbang.(Tim Redaksi).
