Perempuan, Kekuatan Baru Ekonomi Halal
Foto - Humas Bank Indonesia.
Perempuan Indonesia memainkan peran penting dalam memperkuat ekosistem halal nasional dan memperluas pasar halal global. Dengan jejaring komunitas dan semangat kolaboratif, perempuan dinilai menjadi pilar utama dalam ketahanan ekonomi bangsa di tengah dinamika ekonomi global.
Isu ini mengemuka dalam Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) yang berkolaborasi dengan International Halal Lifestyle Conference (INHALIFE) 2025, di Jakarta International Expo (JIEXPO) Convention Center, Kamis (10/10/2025). Kegiatan ini mengangkat tema “Collaboration to Connect Muslim Women, Halal Businesses, and the Global Market.”
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, menyebut perempuan sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Ia menyoroti data yang menunjukkan bahwa lebih dari 64% UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
“UMKM menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau 97% dari total lapangan kerja nasional. Perempuan adalah penggerak utama ekonomi rakyat,” ujar Arifah.
Melalui forum ICWSCE x INHALIFE 2025, Arifah mendorong lahirnya lebih banyak Muslimpreneur perempuan untuk memperluas pasar halal dan memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif.
“Pemberdayaan dan kolaborasi menjadi kunci agar perempuan Indonesia berperan sebagai penggerak utama ekonomi halal yang berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya sebatas isu kesetaraan gender, tetapi strategi pembangunan nasional.
“Kita ingin perempuan tidak sekadar pelaku, tetapi penggerak utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia,” kata Filianingsih.
Filianingsih menambahkan, potensi industri halal global terus tumbuh. Berdasarkan State of Global Islamic Economy Report 2024/25, konsumsi produk halal dunia mencapai USD 2,5 triliun, dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,36 triliun pada 2028. Sektor prioritas yang paling berkembang antara lain makanan dan minuman halal, fesyen muslim, serta kosmetik halal.
Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar, menilai perempuan memiliki kekuatan khas dalam menggerakkan ekonomi halal.
“Perempuan menjadikan ekonomi halal bukan sekadar bisnis, tetapi bagian dari nilai, karakter, dan keberkahan. Mereka menghidupkan semangat kejujuran, kesederhanaan, dan kolaborasi,”ungkapnya.
Forum ICWSCE x INHALIFE 2025 mencanangkan tiga capaian utama: membangun jejaring kolaborasi perempuan pelaku usaha halal di tingkat nasional dan global, meningkatkan literasi bisnis dan akses pembiayaan, serta menumbuhkan ekosistem bisnis halal berbasis komunitas perempuan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-12, yang diselenggarakan oleh BI bersama Kementerian PPPA dan IHLC. Sinergi antar-pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai halal dan memperluas pasar halal ke tingkat global.
“Perempuan Indonesia memiliki potensi luar biasa. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, mereka akan menjadi ujung tombak dalam menjadikan Indonesia pusat ekonomi syariah dunia,” tutup Filianingsih. (Olpah Sari).
