Selembar Batik, Sejuta Cerita Indonesia

0
CINDY

Tak hanya Batik, seorang Dosen Muda seperti Cindy kerap mengenakan busana Sasirangan di setiap aktivitas.

Pagi itu, suasana kampus di Banjarmasin tampak berbeda. Cindy, seorang Dosen, melangkah mantap ke aula tempat ke salah satu ruang tempat dia menguji mahasiswa yang tengah ujian skripsi. Corak batik kawung yang ia kenakan berpadu dengan senyum percaya diri.

“Kalau memakai batik, saya merasa seperti sedang membawa sejarah bangsa ini bersama saya,” ujarnya sambil merapikan jilbab.

Perempuan muda cantik memang salah satu perempuan yang senang mengenakan busana batik dan Sasirangan, disamping pakai resmi di kampusnya. Dia mengaku memilih batik karena hobbi koleksi kain khas Indonesia dan coraknya yang elegan.

Sementara itu di luar sana, dari gedung-gedung pemerintahan hingga ruang kelas sekolah, dari kantor perbankan hingga pasar tradisional, orang-orang berbondong-bondong mengenakan batik. Pemandangan itu serentak hadir setiap tanggal 2 Oktober, saat bangsa Indonesia memperingati Hari Batik Nasional.

Hari itu, jalanan tampak lebih berwarna. Ada yang mengenakan motif parang yang tegas, ada yang memilih mega mendung yang teduh, ada pula batik pesisir dengan warna-warna cerah yang berani. Seolah setiap corak bercerita, tapi tetap menyatu dalam satu bingkai: Indonesia.

Batik bukan sekadar kain bermotif. Ia adalah kisah panjang perjalanan budaya bangsa. Setiap tarikan canting, setiap tetes lilin panas, setiap celupan warna, bukan hanya proses teknis, melainkan doa dan harapan yang diwariskan turun-temurun.

Tak heran, ketika pada 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, masyarakat Indonesia menyambutnya dengan penuh kebanggaan. Pengakuan dunia itu seakan berkata: batik bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga milik peradaban dunia.

Namun bagi orang Indonesia sendiri, batik lebih dari itu. Ia adalah identitas, simbol persatuan, dan cara bangsa ini menyampaikan nilai-nilai kehidupan.

 

Husaini SE MM, salah satu pria yang hobbi mengenakan Batik maupun kain sasirangan di setiap acara resmi dan kegiatan kampus.

 

Filosofi dalam Motif

Di balik setiap motif batik, tersimpan filosofi mendalam. Motif parang, dengan garis tegas menyerupai ombak, melambangkan semangat perjuangan yang tak pernah padam. Motif kawung, berbentuk bulatan seperti buah aren, mengajarkan tentang kesucian hati dan keteguhan moral. Motif mega mendung dari Cirebon, dengan lengkungan menyerupai awan, membawa pesan kesejukan dan keteduhan.

Bagi para perajin, batik bukan hanya soal karya seni. Ia adalah pengabdian. Setiap goresan adalah napas kehidupan. Dari dapur-dapur kecil di kampung, batik lahir dengan tangan telaten ibu-ibu yang bekerja sambil menjaga anak, hingga ke industri besar yang memasarkan ke mancanegara.

Hari Batik Nasional kini tak hanya dirayakan di kota-kota besar. Di desa-desa, sekolah-sekolah mengajak murid belajar membatik sederhana. Anak-anak diajarkan memegang canting, mencelupkan ke dalam malam, lalu menarik garis di atas kain putih. Walau tangan gemetar, wajah mereka berseri-seri melihat hasilnya.

Di kampus, mahasiswa menggelar lomba desain batik modern. Di mal-mal, pameran batik kontemporer menarik perhatian pengunjung. Bahkan, diaspora Indonesia di luar negeri ikut memamerkan batik di acara-acara budaya, membuat dunia semakin mengenal indahnya warisan ini.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana saat bersama pengrajin batik. (Foto – Biro Komunikasi Kemenpar).

Hari Batik Nasional menjadi ruang bersama. Semua orang merasa memiliki dan ingin merayakan.

“Batik adalah cermin keberagaman Indonesia. Dari Yogyakarta dengan batik klasiknya, Pekalongan dengan corak pesisirnya, hingga Kalimantan dengan batik sasirangan yang kaya warna, semuanya berbeda namun tetap dalam satu nama, batik Indonesia,” tutur Husaini, alumni S2 STIE Pancasetia.

Seperti bangsa ini, yang terdiri dari ratusan suku, bahasa, dan adat, batik juga punya ribuan motif. Tapi justru di situlah letak keindahannya perbedaan yang menyatu, keberagaman yang serasi.

Selembar Kain, Sejuta Cerita. Setiap kali kita mengenakan batik, sesungguhnya kita sedang menyelubungi diri dengan cerita. Cerita tentang tangan-tangan perajin yang setia menjaga tradisi. Cerita tentang leluhur yang menitipkan pesan moral dalam motif-motifnya. Cerita tentang bangsa yang bangga berdiri dengan identitasnya sendiri.

Hari Batik Nasional adalah pengingat bahwa selembar kain mampu menyimpan sejuta cerita tentang Indonesia.
Cerita tentang keberanian, kesucian, keteduhan, perjuangan, cinta, dan persatuan.

Dan selama batik terus hidup, selama itu pula Indonesia akan selalu punya cara untuk mengingat jati dirinya.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!