Memaknai Penelitian Ilmiah Bagi Akademisi

0
ARIFIA KEREN

Penulis bersama mahasiswa yang tengah mengikuti praktik lapangan Program Bisnis Gila Marketing Kampus STIE Pancasetia. (Foto - Koleksi Pribadi).

Urgensi dan Bukti Empiris dari Indonesia

Oleh : Arifia Nurriqli SE MM

Di kampus, kata “penelitian” sering terdengar bersamaan dengan tugas-penugasan administratif,  angka publikasi, skor SINTA, atau syarat kenaikan jabatan. Namun bagi akademisi sejati, penelitian ilmiah adalah fungsi utama universitas atau perguruan tinggi cara untuk menambah pengetahuan, menguji klaim, dan menjawab masalah riil masyarakat. Urgensinya jelas, tanpa penelitian, ilmu akan stagnan; kebijakan akan kehilangan basis bukt,; inovasi melemah.

Kita bisa melihat pentingnya penelitian lewat dua dimensi: (1) nilai intrinsik,menambah pengetahuan dan menguji teori, (2) nilai instrumental,memberi solusi praktis, mendukung kebijakan berbasis bukti, dan mendorong inovasi. Agar argumen ini tidak hanya retorika, mari lihat beberapa data terkini dari Indonesia.

Tren kuantitas: Publikasi meningkat, beberapa institusi mendominasi

Dalam laporan Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia (IIRI) 2024, BRIN memaparkan daftar institusi penghasil publikasi internasional terbanyak pada 2023. Di puncak daftar terdapat BRIN sendiri (5.273 dokumen) diikuti sejumlah universitas besar seperti UGM, UI, Unair, Binus, ITB, dan lain-lain , gambaran bahwa produksi ilmiah terkonsentrasi di beberapa pusat riset dan perguruan tinggi (sumber detik.com).

Universitas Indonesia (UI) menjadi contoh ilustratif: per 15 Januari 2025 UI tercatat telah menerbitkan 35.803 dokumen yang terindeks Scopus, dengan total sitasi mencapai 334.983 dan lebih dari 6.332 publikasi pada kuartil tertinggi (Q1). Angka ini menunjukkan bukan hanya kuantitas tetapi juga upaya memasuki jurnal bereputasi (data dilansir medcom.id)

Secara nasional, berbagai analisis bibliometrik menunjukkan tren kenaikan jumlah publikasi Indonesia dari tahun ke tahun (periode 2015–2023), termasuk lonjakan pasca-restrukturisasi lembaga riset dan sinergi yang difasilitasi BRIN. Namun kenaikan kuantitas ini perlu dibaca bersama indikator kualitas dan dampak.

 

Para Dosen di Kampus Gila Marketing STIE Pancasetia menggelar Seminar Penelitian Ilmiah Mandiri para Dosen. (Foto – Mansuri).

Dimensi kualitas dan dampak: sitasi, Q1, dan relevansi

 Kuantitas publikasi penting, tetapi ukuran sejati pengaruh akademik sering diukur lewat sitasi dan publikasi di jurnal berpengaruh. Data UI sebelumnya menonjolkan keberhasilan menempatkan puluhan ribu dokumen di Scopus dan mendapatkan ratusan ribu sitasi, bukti bahwa beberapa penelitian Indonesia mendapat perhatian luas.

Namun, secara makro, beberapa studi menunjukkan bahwa meskipun jumlah publikasi meningkat, sitasi per dokumen dan dampak relatif masih bisa ditingkatkan dibandingkan mitra regional. Artinya: tidak semua publikasi memberikan dampak ilmiah yang kuat (sumber rilis medcom,id).

BRIN juga melaporkan capaian riset dan inovasi yang lebih luas pada 2024 — termasuk peningkatan kekayaan intelektual dan kenaikan peringkat Global Innovation Index Indonesia ,  yang menunjukkan bahwa output riset semakin diarahkan ke nilai tambah dan inovasi, bukan sekadar angka publikasi. Tetap saja, tantangan berupa distribusi kualitas penelitian dan pemerataan kapasitas riset antar institusi tetap nyata.

Mengapa akademisi harus serius pada penelitian? (Empirik + Praktis)

Menambah dan mengoreksi pengetahuan: Penelitian memungkinkan teori diuji ulang, tanpa itu, klaim tetap hanya opini.

Dasar kebijakan publik: Banyak kebijakan efektif lahir dari riset yang kuat—dari kesehatan masyarakat sampai pertanian. Tanpa data, kebijakan mudah salah arah.

Inovasi dan daya saing: Hasil riset yang dipatenkan atau dikomersialkan meningkatkan kapasitas industri dan ekonomi nasional — sebuah tujuan yang tengah didorong BRIN.

Reputasi dan kolaborasi: Publikasi bereputasi membuka pintu kolaborasi internasional, pendanaan, dan peningkatan kualitas pendidikan. Data institusi top (UI, UGM, Unair, dll.) menunjukkan korelasi antara output riset dan pengakuan akademik.

Tantangan nyata yang mesti diatasi

Kualitas vs kuantitas: Dorongan untuk “menghasilkan publikasi” demi angka karir membuat sebagian riset kurang fokus pada relevansi dan metodologi rigorus.

Jurnal predator & integritas: Masih ada risiko publikasi di tempat kurang kredibel demi memenuhi target. Hal ini menurunkan kepercayaan terhadap output ilmiah.

Kesenjangan kapasitas regional: Perguruan tinggi besar mendominasi; perguruan di daerah perlu dorongan kapasitas, dana, dan jejaring kolaborasi.

Rekomendasi: membuat penelitian akademik benar-benar bermakna

Fokus pada relevansi dan metode — pilih topik yang menjawab masalah nyata dan gunakan metodologi kuat.

Perkuat kolaborasi lintas-disiplin dan internasional — bukti menunjukkan kolaborasi menaikkan kualitas dan sitasi.

Utamakan publikasi di jurnal bereputasi & transparansi data — kualitas lebih penting daripada kuantitas semata.

Bangun ekosistem riset di kampus kecil/daerah — dukungan dana, mentor, dan akses jurnal dapat mengurangi konsentrasi output pada kota besar.

Integrasikan riset dengan kebijakan dan industri — agar ilmu tidak berhenti di jurnal, tetapi menjadi solusi nyata.

Data menunjukkan kemajuan nyata, jumlah publikasi Indonesia meningkat dan beberapa institusi berhasil menempatkan karya mereka di jurnal bereputasi. Namun, tugas akademisi bukan sekadar menambah angka,melainkan memastikan penelitian itu bermutu, bermakna, dan berdampak bagi masyarakat. Ketika penelitian dijalankan dengan integritas dan relevansi, akademisi bukan hanya produsennya data, melainkan arsitek perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.

Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!