Paris Barantai, Dari Banjar untuk Indonesia
Penulis Abdul Munir, saat menyelesaikan Studi di London, Inggris.
Oleh : Drs.Abd.Munir, S.Sos., M.Sc., M.M
Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan musik daerah. Dengan luas wilayah yang besar dan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia menjadi negara keempat terpadat di dunia. Negeri ini dihuni ribuan suku bangsa, masing-masing dengan adat, tarian, dan musik tradisional yang unik.
Setiap daerah punya lagu khas yang sering jadi “wajah” musiknya, misalnya Apuse dari Papua, Rasa Sayange dari Ambon, Anging Mamiri dari Sulawesi Selatan, Bungong Jeumpa dari Aceh, dan tentu saja Paris Barantai dari Kalimantan Selatan.
Kalau bicara Paris Barantai, lagu ini punya tempat spesial di hati masyarakat Banjar. Sebelum Paris Barantai naik daun, banyak lagu Banjar yang dulu populer, seperti Sapu Tangan Babuncu, Ampat Ampar Ampar Pisang, Kambang Goyang, dan Ading Bastari.
Namun Paris Barantai, yang populer disebut “lagu Kotabaru”, berhasil mempertahankan eksistensinya hingga lebih dari setengah abad. Lagu ini diciptakan oleh almarhum H. Anang Ardiansyah sekitar pertengahan tahun 1960-an.
Cerita di balik lahirnya lagu ini pun unik. Saat itu, Anang Ardiansyah bersama almarhum Addi Maswardi, Parhan Nasrie, dan teman-temannya tergabung dalam Orkes Rindang Banua dan sedang merantau di Surabaya untuk sekolah. Kebetulan, kota Samarinda mengalami kebakaran besar yang menimpa banyak penduduk. Untuk membantu warga terdampak, mereka mengadakan malam amal untuk mengumpulkan dana. Nah, saat itulah Paris Barantai pertama kali dinyanyikan dan kemudian direkam di Surabaya.
Sejak itu, lagu ini tidak hanya populer di Kalimantan Selatan, tapi juga dikenal di seluruh Indonesia. Dengan irama latin yang cepat, Paris Barantai bahkan bisa dibawakan dalam genre reggae. Versi lain juga pernah muncul, seperti aransemen oleh Elfa Singer pada tahun 1990-an, versi band oleh Radja, bahkan versi rock oleh Arul Erfansyah dari Power Metal, serta penampilan gitaris nasional Eet Syahrani dari Edane di sebuah acara di Banjarbaru.

Lagu ini unik karena liriknya kaya simbolisme. Terinspirasi dari “kain samporis yang berenda”, lirik Paris Barantai menceritakan seorang pemuda yang melamar gadis pujaannya. Namun, liriknya tak bisa diterjemahkan secara literal karena mengikuti irama dan pantun Banjar yang khas.
Berikut tafsir konotatif dari delapan bait lagu ini:
Kotabaru gunungnya bamega, bamega umbak manampur di sala karang – Menggambarkan Kotabaru, kabupaten yang dikelilingi gunung indah dan pantai eksotis.
Batamu lawanlah adinda, adinda iman di dada rasa malaayang – Hati pemuda berdebar saat bertemu pujaan hati.
Pisang Silat tanamnya babaris, babaris tabanglah bamban kuhalangakan – Kesetiaan sang pemuda menjaga kekasihnya kapan pun dan di mana pun.
Bahalat gunungnya babaris, babaris hatiku dandam kusalangakan – Kesibukan sehari-hari tetap memberi waktu untuk sang kekasih.
Burung Bintit batiti di batang, di batang si batang buluh kuning manggading – Sang kekasih bak model yang anggun berjalan di catwalk.
Malam tadi bamimpi badatang, badatang asa bapaluk lawan adinda – Saat mengantar mas kawin, pemuda merasa seolah berpelukan dengan calon istrinya.
Kacilangan lampunya di kapal, di kapal anak Walanda main kumidi – Suasana bermain dan bersenang-senang di ruang remang.
Kasiangan guringlah sabantal, sabantal tagan kadada hidung kapipi – Pengantin baru bangun terlambat, masih berpelukan mesra.
Intinya, Paris Barantai bukan sekadar lagu daerah. Lagu ini adalah cerita budaya Banjar, warisan sejarah, dan simbol cinta yang tetap hidup di hati generasi muda. Bahkan sekarang, di era digital, lagu ini bisa dinikmati lewat YouTube, Spotify, dan platform musik lainnya, membuktikan bahwa karya klasik tetap relevan dan bisa dikenalkan ke dunia.
Bagi generasi muda, Paris Barantai adalah contoh bagaimana musik tradisional bisa tetap keren, menghibur, dan menghubungkan kita dengan sejarah, budaya, serta identitas bangsa. Lagu ini mengingatkan kita bahwa musik lokal tak kalah dengan musik modern, bahkan bisa jadi inspirasi aransemen baru yang segar. Jadi, jangan hanya mendengar lagu Barat atau K-pop, tapi dengarkan juga Paris Barantai, dan rasakan keindahan musik Banjar yang legendaris ini.

