Miris ! Dalam 4 Bulan Marak Pembunuhan Di Kalsel
Dirreskrimum Polda Kalsel Kombes Pol Frido Situmorang, didampingi oleh Kabid Humas Kombes Pol Adam Erwindi, S.I.K., M.H., dan Wadirreskrimum AKBP Diaz Sasongko, saat memberikan keterangan resmi kepada awak media. (Foto-Olpah Sari).
Catatan buruk bagi Kalimantan Selatan.Karena ternyata hanya dalam kurun waktu empat bulan tindak kekerasan yang berujung pembunuhan marak terjadi. Ironisnya tercatat ada 19 kasus pembunuhan yang terjadi di berbagai kawasan di wilayah hukum Kalimantan Selatan.
Potret buram ini tersaji dalam pengungkapan kasus menonjol yang ditangani Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan.Kasus-kasus ini pun mendapat atensi khusus Polda Kalsel khususnya Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), yang menggalang kekuatan penuh dengan Polres se-Kalsel dalam penanganan dan pengungkapan kasus.
Dalam konferensi pers yang digelar di halaman kantor Ditreskrimum Polda Kalsel di Banjarbaru, Jumat (25/07/2025), ternyata dari 19 kasus pembunuhan, polis berhasil mengamankan 26 orang pria dan 1 orang perempuan (kasus pembunuhan sadis terhadap suami sendiri di Paramasan, Kabupaten Banjar). Sementara untuk kasus pembunuhan di Hulu Sungai Tengah, dua pelakunya masih buron dan diduga masih bersembunyi dalam lebatnya hutan pegunungan Meratus.
Dirreskrimum Polda Kalsel Kombes Pol Frido Situmorang, didampingi oleh Kabid Humas Kombes Pol Adam Erwindi, S.I.K., M.H., dan Wadirreskrimum AKBP Diaz Sasongko, dalam keterangan resminya menyebutkan untuk kasus-kasus menonjol ini menjadi perhatian khusus pihaknya. Karenanya berkat dukungan masyarakat dan kerja keras anggota kepolisian, sejumlah pelaku berhasil diamankan dan proses sesuai hukum yang berlaku.
“Dan hari ini kami atensi dan apresiasi kerja keras petugas, serta terima kasih dukungan masyarakat Kalsel, hingga dapat mengamankan para berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Berdasarkan pengakuan dan keterangan mereka motifnya cukup beragam, dari pengaruh alkohol (mabuk-mabukan), cemburu, dendam pribadi, hingga cekcok spontan, yang berujung pembunuhan,” terang Dirreskrimum Polda Kalsel Kombes Pol Frido Situmorang, kepada awak media.

Dalam keterangan ini pria yang mantan Kapolres LabuhanBatu Raya dan Direktur Samapta Polda Nusantara Tenggara Barat, membeberkan peta kekerasan yang membuat kasus tindakan kriminal khususnya pembunuhan begitu menonjol.
Dimulai dari Banjarmasin yang menggemparkan dengan perkelahian brutal yang menghilangkan nyawa tiga orang pemuda di kawasan Sungai Andai, Banjarmasin Utara, 29 Juni 2025. Kasus ini pun makin melengkapi kasus tindak kekerasan berujung kematian di Banjarmasin hingga menjadi 4 kasus.
Kalsel pun kembali digegerkan dengan kasus istri bunuh suami akibat cekcok dan dugaan KDRT, di Paramasan Paramasan Atas Kecamatan Paramasan,Kabupaten Banjar, 18 Juli 2025. Pelakunya seorang perempuan berinisial FT(28) dibantu kakak kandungnya (PP).Motifnya menurut pelaku sendiri dilakukan spontan karena emosi anaknya dilempar korban ke sungai, saat mereka cekcok. Tak pelak dia pun menebas sang suami dengan senjata tajam hingga kepala dan tangan terputus. Kepala korban sendiri sempat dibuang sejauh tujuh meter dari lokasi.
“Ulun khilaf membela anak, karena ditimbai (dilempar) ke sungai,” ucap FT tanpa ekspresi saat ditanya Dirreskrimum Polda Kalsel Kombes Pol Frido Situmorang.

Selain di Kabupaten Banjar, Polda Kalsel bersama Polres lainnya juga berhasil mengungkap kasus menonjol lainnya di Tabalong dengan 4 kasus, Tanah Bumbu dengan 2 Kasus, dan Barito Kuala dengan 2 kasus.Demikian pula dengan kasus kekerasan di Tapin 1 kasus.
Polda Kalsel juga memberikan perhatian serius kasus pembunuhan yang menggemparkan di Desa Ulang, Loksado di bulan April 2025. Seorang pria asal Banjarmasin tewas dikeroyok empat orang pria (tiga berhasil ditangkap).Motifnya sendiri diduga tersinggung dan dianggap orang asing oleh pelaku.
Menilik berbagai kasus kekerasan, Frido Situmorang pun mengaku prihatin. Karena sebagian pelaku maupun korban masih berstatus pelajar SMA.Yang membuat miris juga karena banyak kasus dipicu oleh minuman oplosan dan penyalahugunaan senjata tajam.
“Kebiasaan sebagian warga membawa senjata tajam sangat berbahaya. Kami mengimbau agar masyarakat tidak membawa senjata tajam tanpa alasan jelas. Disatu sisi untuk sabar dan mampu mengendalikan emosi,”imbaunya. (Olpah Sari).
