Padi Apung Inovasi Bertani Di Atas Air
Panen Padi Apung di Desa Ampukung, Kelua, Kabupaten Tabalong, bersama Bank Indonesia. (Foto-Humas Bank Indonesia).
Ada cerita lain tentang pertanian di Kalimantan Selatan. Ternyata lahan pertanian di bumi Lambung Mangkurat ini dipenuhi rawa yang tergenang.Memang inilah yang membedakan dengan kawasan pertanian lainnya di Indonesia.
Jika melihat dari geografi alamnya Kalimantan Selatan itu banyak memiliki rawa karena wilayahnya yang berada di daerah dataran rendah dengan topografi yang cenderung rata, serta adanya pengaruh dari sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Landas yang seringkali membawa sedimentasi dan menyebabkan wilayah tersebut menjadi rawa.
Bertahun-tahun mayorita petaninya berdampingan dengan tantangan yang sama: lahan rawa yang tergenang hingga 6–7 bulan dalam setahun. Kondisi ini membatasi musim tanam padi, membuat banyak lahan tak bisa dimanfaatkan secara optimal.
Namun dibalik itu ada hikmah cerita yang memberikan harapan baru dalam pengembangan ilmu pertanian.Karena melalui inovasi padi apung. Budidaya padi ini adalah teknik menanam padi di atas rakit yang terapung di permukaan air, cocok untuk lahan yang tergenang atau rawan banjir.

Teknik ini menggunakan media tanam seperti styrofoam atau bambu dengan lubang yang berisi tanah, di mana bibit padi ditanam.Sejatinya budidaya padi apung memberikan manfaat seperti mengoptimalkan lahan rawa.Karena lahan sering tergenang air dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
Tak hanya itu padi apung diklaim mampu meningkatkan produktivitas, sebab padi apung dapat menghasilkan panen yang melimpah. Tak heran jika sekarang Kalimantan Selatan mengembangkan inovasi di atas air, budidaya padi apung.
Salah satu Kabupaten yang mengembangkan budidaya padi apung adalah Tabalong. Dan Desa Ampukung di Kecamatan Kelua, menjadi pilot project pengembangan bagi daerah rawa di Tabalong. Di lapangan, program pengembangan padi apung ini dilaksanakan oleh kelompok tani Al Fallah, dengan dukungan dari kelompok tani lain melalui skema berbagi praktik terbaik.
Program di Tabalong ini merupakan hasil kolaborasi Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Tabalong, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Sejarah pun mencatat Desa Ampukung menjadi saksi program penanaman dan pelaksanaan panen padi apung. Panen ini bukan hanya simbol keberhasilan satu musim tanam, tapi juga langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga, terutama komoditas beras yang harganya selama ini dipengaruhi ketersediaan pasokan.

Seremoni panen juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan simbolis dari Pemerintah Provinsi Kalsel kepada Pemkab Tabalong sebagai bentuk dukungan lanjutan terhadap sektor pertanian daerah.
Panen padi apung ini merupakan buah nyata dari keberhasilan program dukungan pengembangan padi apung di wilayah Kalimantan Selatan pada tahun 2024. Budidaya padi apung merupakan bagian dari program unggulan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalsel dalam mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Inovasi ini memanfaatkan media tanam terapung di atas lahan rawa, memungkinkan petani tetap menanam meski air tengah pasang,” terang Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalsel Aloysius Donanto, Senin (05/07/2025).

Lebih jauh Aloysius Donanto menyebutkan keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa program yang dirancang secara terukur dan tepat sasaran mampu menghasilkan capaian yang signifikan, bahkan pada lahan yang sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan untuk budidaya. Berdasarkan hasil sampling, produktivitas padi apung mencapai sekitar 6,5 ton per hektare, setara dengan hasil tanam konvensional.
“Panen ini menunjukkan peningkatan siklus tanam, di mana lahan yang sebelumnya hanya bisa ditanami satu kali dalam setahun, kini dapat dimanfaatkan hingga dua kali musim tanam dalam setahun,” sebutnya.
Sementara itu Bupati Tabalong menyampaikan apresiasi terhadap dukungan yang diberikan Bank Indonesia Kalsel. Keberhasilan padi apung ini membuka peluang baru, bukan hanya untuk Tabalong, tetapi juga bagi daerah-daerah lain dengan karakteristik serupa.
“Dengan replikasi dan pengembangan metode budidaya apung yang berkelanjutan, harapan pun tumbuh bukan hanya dari tanah, tapi juga dari permukaan air,” ujar Bupati Tabalong HM Noor Rifani. (Olpah Sari).

