Bandara Internasional Cahaya Baru Pariwisata Belitung

0
Agus-Pahlevi-Ketua-DPP-ASPPI

Agus Pahlevi, Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPP).

Tepat setahun lalu, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mencabut status 17 bandara internasional menjadi bandara domestik.Otomatis dari 34 bandara internasional kini menjadi tersisa 17 bandara internasional. Keputusan ini berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 31 Tahun 2024 (KM 31/2024) tentang Penetapan Bandar Udara Internasional pada tanggal 2 April 2024.

Sebagai penggiat bisnis dan pariwisata tentu kami maklum dengan kebijakan yang ditempuh pemerintah. Alasannya karena sejumlah bandara internasional hanya melayani penerbangan jarak dekat dari atau ke satu atau dua negara.

Seperti yang dilansir Kompas.Com dengan judul Kemenhub Cabut Status 17 Bandara Internasional, Ini Alasannya. Sementara beberapa bandara internasional lainnya, hanya beberapa kali melakukan penerbangan internasional, bahkan ternyata ada yang sama sekali tidak memiliki pelayanan penerbangan internasional. Kok bisa ya ?

Menarik ke belakang dari rujukan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, ada 34 bandara internasional yang dibuka selama 2015-2021. Tercatat hanya Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara Kualanamu Medan yang melayani penerbangan niaga berjadwal luar negeri.

 

Foto Ilustrasi .Salah satu destinasi wisata di Bali (Foto-Kementerian Pariwisata).

Namun ketika itu, disaat kami pelaku pariwisata berjuang keras membangkitkan kembali pariwisata “yang tertidur kolaps” karena pandemi, satu kebijakan setidaknya memberikan kabar tidak baik-baik saja untuk sebuah industri pariwisata.
Saat itu berbagai media pun meminta tanggapan kami sebagai orang yang terlibat langsung dalam industri pariwisata dan Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia.Tentu kami tak bisa menyembunyikan rasa khawatir saat itu, karena ini kabar buruk.

Terus terang Keberadaan pintu internasional, sebenarnya diharapkan dapat meningkatkan multiplier effect, salah satunya adalah sektor pariwisata. Sejatinya keberadaan gerbang internasional dapat memudahkan wisatawan mancanegara untuk menjangkau destinasi wisata secara efisien.

Namun kami pun tak memungkiri pula sisi lainnya, kadang status internasional juga menjadi dilema. Seolah hanya sebagai branding untuk kelas sebuah destinasi wisata.Karena terkadang beberapa bandara yang berstatus internasional, tetapi hanya melayani rute pendek dan satu atau dua tujuan luar negeri saja. Tentu tidak sesuai ekspektasi, terlebih bagi pengembangan bandara yang berharap serapan “energi dana” dari operasional yang tidak sedikit.

 

Rombongan wisatawan nusantara saat mengunjungi destinasi unggulan Candi Borobudor, Jawa Tengah (Foto-Olpah Sari).

Dan setahun berlalu, tepat 25 April 2025 Kementerian Perhubungan pun menerbitkan keputusan penting bagi tiga bandara naik status menjadi bandara Internasional. Bandara ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin di Palembang, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang serta yang terakhir berada di kampung halaman kami, Bandara HAS Hanandjoedin, Bangka Belitung.

Kabar ini pun menjadi energi terbaru dalam jiwa penggiat pariwisata. Bahkan kami menyebut adalah “Cahaya Baru” khususnya untuk masa depan pariwisata Bangka Belitung.

Keep your head high, your chin up, and keep moving forward, don’t forget it Stay positive. Tak ada kata yang bisa mengalir sepertinya halnya penyair menuangkan kalimat sastra dalam cangkir puisi, bersyukur dan memahami kebangkitan ini sebagai jalan kembali untuk bekerja keras untuk sebuah pariwisata.

Karena pintu masuk ke Belitung, kampung kami serta dua daerah lainnya tak sempit lagi.Terlebih bagi tanahnya Laskar Pelangi berharap membawa Belitung go internasional.

 

Kegiatan Travel Mart di salah satu kota bersama ASPPI dalam menunjang kemajuan pariwisata Indonesia.

Thanks Mister Presiden, Prabowo Subianto, yang memberikan semangat baru bagi pelaku pariwisata, tidak hanya di Belitung, tetapi juga untuk Bangka Belitung secara umum.

Bandara adalah separo nyawa Pariwisata.Sejatinya pula tantangan ke depan.Kami pun berusaha memberikan pandangan jauh ke depan bahwa status internasional bandara ini bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan.Karena tak hanya untuk mendongkrak PAD sebuah daerah, namun yang terpenting adalah membahagiakan dan mensejahterakan masyarakatnya bersama sektor pariwisata.

“To travel is to live a thousand lives in one lifetime.” Jangan pernah berhenti berbuat baik untuk sebuah pariwisata. Bandara adalah pintu membawa orang-orang berbahagia dalam sebuah industri pariwisata dan kesejahteraan masyarakatnya.(Agus Pahlevi).

 

  • Penulis adalah Ketua Umum Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) dan Dosen Kepariwisataan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!