Sampah Tanggung Jawab Siapa ? Kita Bersama Dong !
Sinergisitas Radio, Organisasi dan Akademisi. Host Radio Suara Banjar, Pepen Effendi bersama Muhammad Risanta (tengah) dan Tommy Kristian Catur.
Sampah menjadi persoalan serius bagi kota-kota di Indonesia, termasuk Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Bahkan gara-gara TPA Basirih, Banjarmasin ditutup resmi Kementerian Lingkungan Hidup, warga Banjarmasin pun dibuat kelabakan membuang sampah ke TPS-TPS.
Hampir sebulan penuh, sejumlah kawasan terutama yang menjadi kantong-kantong pembuangan sampah dipenuhi berton-ton sampah organik maupun non organik.Ironisnya ini diperparah dengan munculnya TPS-TPS liar dan menjadi dermaga baru tumpukan sampah yang menggunung.
Tak heran jika Banjarmasin menyalakan status “Darurat Sampah”, seiring perpindahan kekuasaan pemerintahan Ibnu Sina-Arifin ke Yamin-Ananda. Tentunya Kementerian Lingkungan Hidup punya alasan tertentu mengapa harus menutup permanen TPA Basirih.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Hanif Faisol Nurrofiq saat bertandang ke Pemko Banjarmasin akhir Pebruari 2025 barusan, menegaskan TPA Basirih tidak memungkinkan lagi untuk kembali digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.
“Penutupan tidak terhindarkan karena sudah menyebabkan pencemaran lingkungan,” tegasnya.

Meskipun dibaned, Pemerintah menurut Menteri Lingkungan Hidup, Banjarmasin termasuk tetangganya tetap disupport menangani masalah darurat sampah. Pihaknya pun menawarkan bantuan untuk mendesain secara profesional pengelolaan sampah yang berkelanjutan (sustainable).
Ketua DPW Apresiasi Lingkungan Hutan Indonesia (ALUN) Kalsel, Tommy Kristian Catur, sangat sependapat dengan pernyataan Menteri Lingkungan Hidup. Karena persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya semata menjadi tugas pemerintah. Sudah saatnya semua pihak memulai kebiasaan baru yang lebih baik dalam penanganan sampah termasuk dalam pemilahannya.
Hal ini dikemukakannya saat Dialog Bakisah (Bijak Kelola Sampah) di Radio Suara Banjar, Martapura, Kamis (06/03/2025). Dalam dialog yang dipandu Host Pepen Effendi, Tommy yang juga aktivis lingkungan dan mantan Ketua Mapala STIE Pancasetia Banjarmasin, mengajak masyarakat mengubah pola dan perilaku membuang sampah.
“Ingat sampah bukan tanggung jawab pemerintah, namun adalah tanggung jawab bersama, ya kita dong.Mari kita rubah kebiasaan yang dianggap budaya buruk membuang sampah sembarangan.Yok Kita berubah dari sekarang, kita dukung pemerintah mengelola dengan baik permasalahan sampah di daerah, termasuk Kabupaten Banjar,” terang Tommy.

Tommy sendiri bersama organisasi ALUN tidak henti-hentinya selalu mengajak masyarakat untuk sadar dan betapa pentingnya bersama-sama memulai kebiasaan baru yang lebih baik dalam penanganan sampah termasuk dalam pemilahannya.
“Sampah itu peluang ekonomi keluarga, bisa menghasilkan cuan. Kalau kita bijak memilah sebelum membuang ke TPS, maka secara tidak langsung kita membantu pemerintah untuk zero sampah non organik ke TPA. Maka dari itu mari manfaatkan Bank sampah, untuk kita menabung sampah dan menghasilkan pendapatan. Ini sudah saya mulai dari keluarga di rumah,” ungkap Tommy yang juga Dosen di STIMI Banjarmasin.
Dirinya menambahkan, salah satu pola yang harus diterapkan setidaknya ke depan Bank Sampah sudah ada dari tingkat RT, karena jika hanya per kelurahan seperti saat ini, dinilai kurang efektif.
Menurutnya, hal tersebut telah diterapkan di kampung bersih daerah Jawa Timur yang telah melakukan penanganan dengan baik. Sungai atau selokan di sana bisa hidup ikan koi hampir sama dengan di Jepang. Pertanyaannya, kenapa di Banjarmasin dan di sini tidak bisa?
Menurut Tommy, penanganan sampah dengan armada dan tempat yeng terbatas menjadi permasalahan saat ini termasuk kesadaran masyarakat sendiri. Pihaknya melalui Alun siap berkolaborasi, bersinergi dengan masyarakat mencanangkan edukasi melalui program GASS (Gerakan Amal Sedekah Sampah).

Senada dengan itu Akademisi STIE Pancasetia Banjarmasin dan Pembina DPW ALUN Kalsel, Muhammad Risanta, berharap melalui edukasi-edukasi yang terus digaungkan para aktivis lingkungan, pencinta lingkungan, komunitas peduli sampah hingga pemerintah, secara perlahan akan mengubah perilaku atau kebiasan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan dan terbiasa hidup sehat dan cinta lingkungan.
“Persoalan utamanya adalah bagaimana membangkitkan spirit untuk berubah, ini butuh waktu dan proses. Tetapi kami optimis seiring waktu dan perubahan zaman masyarakat kita akan terbiasa menjalankan pola hidup sehat dan mencintai lingkungan yang bersih. Yang terpenting adalah kolaborasi, sinergi dan pemerintah harus merangkul dan membina masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah bersama-sama,” ucap Risanta yang dikenal sebagai Ahli Pers Dewan Pers.
Risanta yang juga Jurnalis Senior Transmedia Grup (CNN Indonesia dan Trans7) sangat mengapresiasi peran awak media lewat tulisan atau publikasi jurnalistik yang menginspirasi terkait tata kelola sampah hingga ajakan kepada masyakarat luas pentingnya hidup sehat dan bebas sampah.
“Banyak karya kawan-kawan Jurnalis di muat dalam berbagai kabar berita di media, tak pernah putus untuk mengedukasi masyarakat. Karena itu pemerintah dan organisasi lingkungan serta aktivis, agar terus menggalang kekuatan bersama media dalam memerangi masalah sampah, yang semakin hari mengkhawatirkan dan butuh energi khusus menanganinya,” sambung salah satu anggota Tim Ahli Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banjarmasin.
Di satu sisi agar permasalahan sampah bisa terselesaikan dengan baik, Pemerintah khususnya dinas terkait untuk fokus di awal-awal pemerintahan baru ini kepada masalah sampah. Alangkah eloknya lagi anggaran di Dinas Lingkungan Hidup ditambah atau dinaikkan, tentunya selaras dengan kebutuhan dan alokasi yang diprioritaskan.
“Anggaran cukup minimal bisa menjadi solusi, selain terobosan-terobosan serta inovasi dari pemerintah daerah mengatasi persoalan sampah. Jangan pernah berhenti berbuat dan memberikan manfaat. Pemerintah bergerak dan menginspirasi, masyarakat pun tergerak dan mengikuti,” tutupnya. (Olpah Sari).

