Lari Lintas Alam Butuh Stamina dan Strategi

0
BERLARI DI KUTA

Foto Ilsutrasi - Selain latihan di trek datar, pelari juga bisa menjajal daerah pantai, padang rumput atau perbukitan untuk berlatih.

Ini Tips Agar Aman Lari Lintas Alam

Tak terasa Cross Country Sport Elang Run 20K bakal bergulir 10 Nopember 2024 mendatang. Event lomba lari lintas alam yang dipusatkan di kawasan wisata Giriwening, Mangkuharja, Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Tentunya sebagian peserta sudah mempersiapkan diri agar bisa tampil prima dan sehat mengikuti lomba yang dipastikan menguras stamina namun mengasyikan. Karena semua peserta ingin memberikan performance terbaik untuk menuju podium The Best Team, dalam event yang diselenggarakan bersama Komunitas Sahabat Elang.

Sejatinya adalah lari lintas alam ini adalah olahraga yang membutuhkan ketahanan fisik (endurance) dan taktik, karena medannya bukan di jalan raya datar atau lintasan stadion atletik. Karena jalurnya terbuka di atas medan alami  yakni rumput dan tanah, yang tak semulus lintasan buatan.

“Karena itu pastikan peserta mempersiapkan diri sebaik mungkin dan terprogram.Karena itu kami menganjurkan agar mempersiapkan latihan yang tepat .Siapkan juga kemampuan fisik serta teknik agar bisa menerjang medan berat dan berliku di luar sana,” pesan Andi Sukandi, Tim Panitia Cross Country Sport Elang Run 20K, kepada awak media, di Bandung, Selasa (29/10/2024).

 

Andi Sukandi dan Abby, Panitia Cross Contry Sport Elang Run 20K, Lembang , Bandung.

Andi yang dikenal sebagai instruktur pendakian dan Tim Rescue, memberikan tips penting untuk bisa mengikuti lomba lari lintas alam, salah satu olahraga yang paling digemari para Runner (pelari).Dia menyarankan selain latihan di trek datar, pelari juga bisa menjajal daerah pantai, padang rumput atau perbukitan untuk berlatih. Karena kalau sudah terbiasa dengan berlari dengan kondisi lintasan alami, maka tidak akan “kaget” lagi saat berlari.

“Disatu sisi kita perlu juga melakukan intensitas yang berselang-seling akan membuat tubuh beradaptasi dengan kondisi medan yang nggak rata. Hal ini bisa membangun stamina serta tingkat penggunaan oksigen untuk lari jarak jauh,”kata Ketua Harian Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi yang bermarkas di Ciwidey, Bandung.

Pria yang disapa akrab Kang Andi ini menyarankan memulai dengan satu menit lari dengan intensitas tinggi, selanjutnya dengan satu menit lari pelan secara bergantian. Hal ini bisa dilakukan secara bertahap, termasuk menambah durasi waktunya, seperti menjadi dua menit lari intensitas tinggi dan satu menit lari pelan, hingga sampai enam menit dan dua menit.

 

Sandiaga Uno saat menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, meramaikan salah satu even lomba lari. (Foto-Dok Kemenparekraf).

Di lain sisi kata Kang Andi pelari, terutama yang pemula harus pintar menghemar tenaga, terutama dengan cara memanfaatkan medan yang ada. Demikian pula ketika akan menuruni gunung, Andi meminta sebaiknya menyimpan tenaga dan manfaatkan gravitasi untuk berlari turun.

“Jaga keseimbangan ya, usahakan menarik posisi tubuh sedikit ke belakang. Sebaiknya pula gunakan energi untuk lari di jalur menanjak,” pesan Kang Andi .

Saran ini pun diapresiasi salah satu anggota komunitas lari asal Banjarmasin, Syarif Hidayatullah.Pria yang dikenal dengan panggilan Syarif Banua ini adalah penggiat olahraga lari sejak masih SMP.Dia pun bersama teman-temannya kerap berlari keliling Banjarmasin dan masuk perkampungan dengan trek lintasan yang berbeda.

“Memang lari biasa dan lintas alam memang berbeda. Hanya terletak pada lintasan atau trek saja. Tapi ini betul-betul olahraga yang menyehatkan. Terbukti dengan berlari kita menjadi fit dan bugar,” terang pegawai Bank Kalsel ini.

 

Komunitas Pelari Bank Kalsel, yang dipimpin Direktur Utama Bank Kalsel, Fachrudin.

Untuk menjaga stamina Syarif Banua tak lupa banya minum untuk menjaga kebugaran, minimal dua hingga tiga liter sehari. Dia pun juga sebelum lomba biasanya akan minum empat gelas ekstra air. Minum dua gelas lagi minimal dua jam sebelum lomba, dan segelas 15 menit sebelum mulai.

“Disamping itu juga kami membiasakan mengkonsumsi makanan yang seimbang. Namun ada makanan lain yang sebaiknya disantap setiap tiga hingga empat jam, untuk menangkap lapar sekaligus menjaga kadar gula darah, seperti pisang, sereal tawar, biskuit rendah kalori atau juga kacang rebus,” tutur Syarif yang juga hobi gowes ke kantor dengan sepeda di akhir pekan. (Fikri Husaini -Risanta).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!